
Atha masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit itu. Gadis itu dikawal ketat oleh penjaga bahkan pihak rumah sakit saja tak berkutik saat melihat mereka masuk ke ruang direktur rumah sakit. Para penjaga berjaga di depan ruangan direktur, pihak rumah sakit yang bekerja disana sudah jelas tau siapa yang datang jika sampai tim The Chamber berdiri di sekitar ruangan Direktur.
" Kurasa pemilik yayasan tiba, apa yang terjadi? kenapa mereka tiba-tiba datang!?" bisik salah satu perawat yang berdiri di ujung koridor bersama rekannya.
"Entahlah, tapi jangan sampai mereka melakukan Evaluasi dadakan seperti bulan lalu, itu sangat menyeramkan, " imbuh yang lain.
Sementara itu di dalam ruangan direktur, Atha duduk dengan tenang sambil menatap seisi ruangan itu sementara Jack dan Bibi Mola berdiskusi dengan Direktur rumah sakit yang usianya tampak masih muda.
Atha berdiri, dia berjalan berkeliling sambil menatap perabotan dalam ruangan itu," Kak boleh aku mengakses data pasien?" tanya gadis itu.
Adrian Martadinata, Direktur termuda dalam sejarah dunia dokter masih berusia 30 tahun tetapi memiliki banyak prestasi dalam dunia kedokteran, diangkat jadi dokter karena kepiawaiannya dalam.bisnis dan dunia kesehatan.
Dia menoleh dan menatap Atha yang berdiri d dekat mejanya," Boleh, silahkan, tapi kalau boleh tau mau mencari data siapa?" tanya Adrian penasaran.
Jack dan Bibi Mola saling melirik, mereka terkejut dengan nona muda mereka yang tumben mencari tau sendiri identitas seseorang.
"itu... pasien yang itu..." ucap Atha sambil.menunjuk layar LCD yang menunjukkan Cindy dibawa kak ruang VVIP dimana dia berada sebelumnya. Layar LCD yang mengawasi setiap lorong di rumah sakit itu sengaja dipasang disana.
"Ahhh.. pasien bullying itu ya, " ucap Adrian.
" Kalian periksalah dahulu, biar kubantu Atha," ucapnya pada Jack dan Bibi Mola.
Adrian berjalan menuju meja kerjanya, dia membuka beberapa dokumen, seharusnya itu dokumen rahasia tetapi karena Atha yang meminta, dia tak bisa menolak.
" Pasien Bully!?" tanya Atha dengan wajah terkejut. Dia cukup terkejut dengan ucapan Adrian soal Cindy.
Adrian mengangguk," ya benar, dia adalah korban bully yang sebulan lalu dilarikan ke rumah sakit setelah berusaha untuk bunuh diri dengan cara meminum racun, keluarganya sangat terpukul, sudah sebulan, bahkan menurut cerita ibunya, kakak laki-lakinya sampai pindah dari desa untuk menemani mereka," jelas Adrian.
" Ibunya orang yang ramah, beliau banyak bercerita, apa kau penasaran?" tanya Adrian yang melihat Ayah cukup sabar mendengarkan dirinya menjelaskan padahal biasanya Atha langsung paham.
" Hmm.. coba ceritakan!" ucap gadis itu.
" Baiklah, "
" Gadis itu sekolah di SMA Pratama, kakak laki-lakinya memutuskan masuk ke sekolah itu. Menurut keterangan ibunya, pria itu sampai memilih tinggal kelas untuk masuk dan di sekolah itu, alasannya ingin dekat dengan keluarganya, tetapi menurutku ini lebih seperti sebuah balas dendam, penampilan dan cara pria itu berbuat onar, sama sekali bukan cara orang Desa," ucap Adrian.
" Kenapa kau menjelaskan tentang kakaknya, aku butuh cerita adiknya!" ketus Atha.
" Eh... ku kupikir...
Atha hanya menatap datar ke arah pria itu. Sontak Adrian terkekeh," baiklah, maafkan aku," ucap Adrian.
" Cindy mengalami kekerasan mental dan kekerasan fisik. Saat tiba di tempat ini adiknya sama sekali tidak mau bicara, ketakutan saat ada banyak orang, tubuhnya penuh dengan luka lebam, dan cedera di bagian perutnya, saat itu sangat sulit menanganinya, dia meronta-ronta seperti orang gila, dia sudah meminum seperempat botol racun, beruntung dibawa cepat ke rumah sakit," jelas Adrian.
" Namun penanganannya butuh berjam-jam sampai dia benar-benar tenang. Itu pun setelah Kakak nya, pria pembuat onar itu tiba, baru dia bisa diam dan ditangani lagi. Penyedotan racun saja kami lakukan setelah membius gadis itu, benar benar kacau dan merepotkan waktu itu," jelasnya lagi.
"Tapi aku salut melihat kakaknya, sudah tampan, baik dan penyayang, hanya sedikit urakan saja, selebihnya dia...
" Cukup! aku tidak datang untuk mendengarmu memuji orang lain," ketus Atha.
" Apa dia foto lukanya?" tanya Atha serius.
"ini, kau bisa melihatnya sendiri, ahh ada yang aneh, sepertinya dia sengaja mengukir luka ini di pergelangan kakinya," ucap Adrian.
Atha langsung menatap layar itu saat melihat ukiran luka berbentuk lingkaran dengan garis tengah di pergelangan kaki gadis itu.
" Tanda ini!!!" Mata Atha membulat sempurna, tanda yang serupa dengan tanda yang ada di tangan kakak laki-lakinya. Tetapi tanda di pergelangan tangan Kiel kala itu sudah lama dan hanya meninggalkan bekas tidak seperti milik Cindy yang jelas masih luka baru dalam hitungan hari.
" Ada apa? apa kau tau sesuatu?" tanya Adrian penasaran.
" Tanda ini seperti kurap, kau tau kan penyakit kulit seperti uang logam, itu mirip dengan kurap, kurasa dia tertular penyakit gatal karena jorok seperti dirimu kak!" celetuk Atha yang malah mengalihkan topik pembicaraan sambil berdiri.
" Sudahlah, kalian urus saja dulu, aku akan keliling, tak perlu menemaniku!" ucap Atha dengan santai melangkah keluar dari ruangan Adrian tanpa mendengar jawaban mereka.
Jack, Bibi Mola dan Adrian hanya dibuat geleng-geleng kepala dengan sifat gadis itu. Tetapi mereka sudah terbiasa, menurut mereka itu normal, justru kalau Atha kebanyakan diam, mereka akan cari segala macam cara untuk membuat gadis itu setidaknya mengomentari atau mengomeli pekerjaan mereka.
Atha berjalan dengan santai sambil memakai maskernya, dia tak ingin dilihat orang yang mengenalinya di rumah sakit itu. Berjalan sambil memasukkan keda tangannya ke dalam kantong jaketnya.
Kakinya membawanya menuju lantai ruangan VVIP, gadis itu berjalan dengan pin keemasan yang tertempel di sisi kiri bajunya. Sengaja di tempel agar beberapa orang secara khusus mengetahui siapa dirinya, ini ide dari Bibi Mola yang terlalu khawatir nona mudanya malah di perlakukan tak baik oleh pihak rumah sakit.
Gadis itu masuk ke ruang VVIP yang dibatasi dan hanya boleh dimasuki orang tertentu. Tentu saja Atha awalnya dikira orang asing, tetapi setelah melihat tanda di ujung baju kirinya, penjaga mempersilahkan nya masuk sambil menghormat.
Atha masuk sambil bersiul, menatap kesana kemari dan membuat beberapa dokter berdecak kesal karena suara siulan gadis itu menganggu mereka.
" Nona apa yang kau lakukan!? siulanmu terllau berisik, mau apa kau ke tempat ini!? kenapa kau..." tiba-tiba dia berhenti bicara saat melihat pin keemasan itu.
" Ma..maafkan sa..saya...
Atha mengangkat telapak tangannya " it's okay, kerja bagus pak," ucapnya sambil melangkah lagi dengan santai. Kali ini tanpa siulan.
Atha melihat nomor ruangan dan akhirnya dia tiba di sudut koridor ruangan VVIP. Dia menatap kamar bertuliskan nama "Cindy Bernadette".
"Ini dia !" gumam gadis itu.Dia melirik dari luar, penasaran dengan gadis di dalam sana.
Tiba-tiba suara seseorang membuatnya terkejut," MAU APA KAU!!!" suara tegas, besar dan penuh dengan kekesalan itu terdengar di telinga Atha.
King yang baru mengambil resep obat adiknya berdiri di belakang Atha sambil mengeraskan rahangnya. Mendengar itu, Atha berdiri tegap lalu berbalik dan menatap King.
Namun lagi-lagi mereka berada dalam posisi yang sangat dekat, hampir saja Atha menyentuh pria itu. Mata mereka bertemu dan saling beradu untuk beberapa detik. Keduanya terdiam sejenak sampai suara Tuan Charles melamun kan mereka.
" King mana Obat nya!?" ucap pria itu sambil keluar dari kamar.
" Ekhmm...
.
.
.
like, vote dan komen 🤗