Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
13


Atha berdiri di luar ruangan itu sambil mengintip ke dalam dimana King dan ayahnya sedang memberikan obat untuk Cindy. Gadis itu sudah terlihat tenang tetapi sekarang malah lebih banyak melamun sejak Atha membentaknya di lobi rumah sakit tadi.


Cindy menatap kosong ke langit-langit ruangan itu, dia teringat dengan kata-kata gadis asing yang dia temui tadi. Mata Cindy melirik kakak laki-lakinya dan ayahnya yang semakin tua dengan kerutan halus yang semakin banyak di kedua pipinya..


Tuan Charles dengan sabar membersihkan kedua tangan dan kaki Cindy dengan kain basah. Sedangkan King memasukkan cairan injeksi ke dalam tabung infus Cindy berharap adiknya segera pulih.


Cindy menangis lagi, dia menyadari kalau dirinya memang tidak boleh terus terpuruk seperti ini, setidaknya dia harus sedikit bersemangat demi keluarga yang sangat menyayanginya.


King melihat air mata adiknya menetes, dengan cepat dia mengusap wajah adiknya dengan kedua tangannya dan membelai lembut Surai hitam milik Cindy.


" Maafkan Kakak sayang, seharusnya kakak tidak membiarkan perempuan itu berbicara kasar padamu, kamu pasti sedih, kakak akan membalas perbuatannya," ucap King.


Namun Cindy tak membalas, dia terus menatap wajah. kakaknya sambil menangis," Maaf..." ucap gadis itu dengan suara bergetar.


" Papa... Papa... Kemari Pa..." panggil gadis itu sambil menangis.


" Mama dimana?? Mama.. bawa Mama kesini kumohon hiks hiks hiks...." Tiba-tiba dia kembali menangis, ini kali pertama dia memanggil ayah dan ibunya bahkan mencari mereka. Selama ini Cindy tertutup dan tak mau bicara pada kedua orangtuanya. Dia hanya berbicara dengan King itupun sedikit.


Tuan Charles dan King saling menatap, mereka terkejut dengan perubahan pada Cindy,"Papa disini Nak, Mama sedang istirahat, ada apa sayang, Papa disini..." ucap Tuan Charles yang membuang lainnya begitu saja ke atas lantai dan memeluk putrinya yang memanggil dia sambil menangis.


Cindy memeluk tuan Charles sambil menangis sesenggukan, " maafkan Cindy, seharusnya Cindy lebih terbuka hiks hiks hiks... maafkan Cindy Pa, Kak..." tangisan gadis itu terdengar di dalam seisi ruangan.


" Benar kata kakak tadi, Cindy harusnya pulih demi kalian, Cindy hiks hiks hiks... akan berusaha untuk sembuh... maaf kalah Cindy bikin susah Huwaa....." Dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat ayahnya.


King dibuat tak bisa berkata-kata karena efek perkataan Atha pada Cindy.


King memeluk adik dan ayahnya, Cindy akhirnya mengajak Tuan Charles berbicara dan hal itu adalah hal melegakan yang membuat King bahagia.


" Husshhh adik kakak jangan menangis lagi, semua baik-baik saja sekarang, kamu tinggal menunggu waktu untuk pulih sayang," ucapnya sambil mengecup kening Cindy dengan lembut.


Atha memperhatikan mereka dari luar. Ada rasa sesak dan pilu di hatinya kala melihat betapa perhatian King pada adik perempuannya. Hal ini justru mengingatkan dirinya pada mendiang kakak laki-lakinya. Kakak yang sangat menyayangi dan juga begitu perhatian padanya. Atha merindukan sosok itu, dia bersandar pada dinding dan menepuk dadanya sendiri, sesak dan pilu.


" Kak, Atha rindu..." lirih gadis itu dengan air mata yang tercekat di kedua pelupuk matanya.


Wajah yang tersenyum itu masih terlihat jelas, seolah masih menatapnya dengan senyuman yang sama tetapi kini orang itu tak ada lagi.


Kembali lagi trauma kematian kedua orangtuanya terbayang di kepala Atha, dia semakin memburuk, rasa sesak di dadanya semakin parah.


Di saat yang sama, King keluar dari dalam ruangan adiknya dan mendapati Atha menahan air matanya agar tak mengalir.


" Atha!" Panggil pria itu, sontak Atha terkejut dan membalikkan wajahnya menghapus air matanya.


" Ada apa denganmu!?" tanya King. Nadanya tak se kasar saat di lobi tadi.


Atha menggelengkan kepalanya," tak apa..." ucapnya sambil menggeleng dan berbalik menatap King.


" Maaf soal yang tadi," ucap Atha dengan tulus. Dia merasa sedikit bersalah karena membentak anak korban Bully.


King sedikit terkejut," Masuklah," ucap pria itu spontan menarik tangan Atha.


Dia membawa Atha ke ruangan adiknya. Atha masuk kesana dan bertemu dengan ayah dan adik King.


" Siapa nak!?" tanya Tuan Charles sambil menatap Atha.


" Teman sekelas King Pa," jawabnya sambil menarik Atha ke dekat Cindy.


Cindy yang melihat gadis itu, menatapnya terus dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.


" Dia adikku, sedang sakit dan dia korban Bully," jelas King yang masih menggenggam tangan Atha.


" Jarang-jarang hihihi.... calon mantu nih... Mama pasti senang," batin Tuan Charles yang diam diam memotret mereka lalu bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.


Atha menatap gadis itu lalu tiba-tiba membungkuk," maaf untuk yang tadi," ucapnya dengan sungguh-sungguh.


" Tetapi..." Atha berdiri dengan tegak," Aku tidak menarik sedikitpun kata-kata Ku, aku hanya minta maaf karena membentakmu bukan karena mengatakan hal itu padamu, kau harus kuat Sampai..." Atha menatap kaki Cindy dengan tanda lingkaran berhari itu," Pelakunya ditemukan," ucap Atha.


Cindy terdiam, king dan ayahnya juga demikian..Siapa sebenarnya gadis ini dan kenapa dia tau soal tanda di pergelangan kaki Cindy?


"Dari mana kau mendapatkan luka ini?" tanya Atha dengan nada dingin sebagaimana biasanya dia berbicara.


Cindy menatap pergelangan kakinya, dia terlihat ketakutan. Gadis itu bungkam, dia tak mau menjawab pertanyaan Atha. Melihat hal itu membuat King merasa tidak suka dengan sifat Atha yang tak memiliki hati nurani sedikitpun. Kata-kata sarkas dan kasarnya membuat telinga King Panas.


" Kau.. jangan bicara kasar!! apa kau tak punya hati !? dia sedang sakit!!" bisik King.


Atha menghela nafas kasar," CK.. lain waktu aku akan datang tapi tanpa si cerewet ini, mengesalkan sekali, dari tadi kau pegang pegang tanganku, lepaskan itu!!!" kesal Atha.


King terkejut, dia spontan melepas tangan Atha," Kesalahanku," ucapnya.


" terserah," ketus Atha.


Lalu gadis itu menatap Cindy," Pikirkan baik-baik, cobalah mengingatnya, untuk membuatmu terbuka ingatlah ini, aku juga menemukan satu tanda yang sama dan sedang mencari pelaku nya!" ucap Atha.


" Tanda? kau menemukan Apa!??" tanya King dengan hebohnya.


Atha tak mempedulikan pria itu, dia berdiri menatap tuan Charles lalu membungkuk," maaf saya membuat keributan Om, " ucapnya dengan sopan tetapi tetap dengan wajah datarnya itu.


" Dia akan pulih, anda harus tetap kuat dan berdiri di sampingnya, terima kasih atas waktunya, saya permisi," ucap Atha sambil membungkuk sekali lagi.


" Atha jelaskan dulu padaku, apa maksudmu!??" Paksa King dengan nada kasarnya itu.


" Kau tidak lihat ada orang sakit? jangan bicara kasar bodoh!!" ejek Atha sebelum dia benar-benar keluar dari kamar itu.


King menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi, baru kali ini dia menemukan lawan yang sulit diajak komunikasi.


" Pffthh bwahahahhahahaha........" Tuan Charles tertawa terbahak-bahak, bahkan Cindy juga terkekeh melihat kakaknya dicueki oleh seorang gadis.


" Nak kamu lihat kakakmu, baru saja ditolak perempuan hahahaha .. anak curut ini gak laku hahahaha... kasihan deh hahahahha....."


" Charles diam!!! aku pusing gara gara dia!!!!" kesal King.


Syuunggg...


Plakkk...


Sebuah botol air mineral melayang tepat ke kepala King," Anak laknat, yang sopan dasar nakal!!!" omel Tuan Charles setelah berhasil melemparkan botol air mineral tepat di kepala King.


" Papa......


" Hahhaha....


.


.


.


like, vote dan komen 🤗