Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 68


Zean melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak ia pedulikan keselamatannya karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Ellina.


Secepatnya Zean ingin bertemu dengan istrinya itu dan mengatakan kepadanya bahwa semua yang dilihatnya tadi tidaklah benar dan hanya sebuah kesalahpahaman.


Sungguh Zean tidak pernah menduga jika Ellina akan datang kekantornya. Parahnya wanita itu datang ketika dirinya tengah bersama Lyora!


Sial! Sial! Sial!


Berulangkali Zean mengumpat sembari memukul stir kemudi. Meluapkan emosi yang melingkupinya.


Kenapa kejadiannya harus seperti ini?! Kenapa disaat dirinya sedang berusaha menjauhi Lyora, Ellina malah datang diwaktu yang tidak tepat?!


Dan Lyora ...


Wanita itu...


Apa yang ada dipikirannya sehingga Lyora nekat melakukan hal serendah itu terhadapnya?! Atau jangan-jangan Lyora...


Zean mengusap wajah kasar ketika dirinya menyadari sesuatu.


Lyora... mengingat bagaimana perempuan itu menatapnya selama ini dan selalu ingin berada didekatnya disetiap waktu, apa mungkin itu pertanda jika Lyora masih menaruh hati padanya?!


Oh shitt!


Kenapa hal itu baru terpikirkan olehnya sekarang?!


*


*


Ditempat lain, tepatnya di sebuah pemakaman umum, Ellina menangis tergugu diatas pusara sang ibu, menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan atas pengkhianatan yang dilakukan Zean kepadanya.


Bisa dibilang, mungkin ini pertama kalinya Ellina datang ke tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya setelah dirinya menikah.


Sebelumnya Ellina pernah berniat mengajak Zean kemari, namun sayangnya rencana itu belum sempat terlaksana.


Atau mungkin juga tidak akan pernah terwujud mengingat pernikahannya saat ini tengah diguncang prahara karena adanya orang ketiga diantara mereka.


Dan orang ketiga itu adalah Lyora, masa lalu suaminya.


"Apa yang harus ku lakukan Ibu? Apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini?"


Kedua tangan Ellina memegang nisan sang ibu sementara kepalanya ditenggelamkan disana dengan isak yang terdengar pilu.


Cukup lama Ellina menangis hingga akhirnya ia berhasil menguasai diri.


"Baiklah Ayah, Ibu, aku akan menghadapinya! Apapun yang terjadi aku yakin aku pasti bisa melewati semua ini!"


Ellina berucap seolah tengah menguatkan dirinya sendiri. Setelahnya wanita itu mencium nisan kedua orang tuanya yang terletak berdampingan dengan khidmat.


"Terimakasih ayah dan ibu sudah mau mendengarkanku. Aku izin pamit. Semoga kalian bahagia selalu diatas sana."


Ellina mendongak menatap langit yang begitu terik. Lantas ia pun menyeka jejak air matanya sebelum akhirnya berdiri dan beranjak meninggalkan pemakaman setelah hatinya merasa lebih baik.


*


*


"Ellina! Ellina!" berulang kali Zean berteriak memanggil nama istrinya dengan tak sabar sembari membuka satu persatu pintu ruangan yang ada disana.


Akan tetapi Zean tak menemukan Ellina dimana-mana.


"Astaga...Kau dimana Ellina?!"


Zean menjambak rambutnya dengan frustasi. Ekspresinya tampak kalut dipenuhi oleh rasa khawatir.


Sungguh kali ini Zean benar-benar takut jika sesuatu yang buruk kembali menimpa istrinya seperti saat dulu dia mengurung wanita itu.


Zean pun segera merogoh ponselnya dibalik saku jas yang ia kenakan lalu mencoba mendial nomor Ellina, namun sayang, sepertinya Ellina tak berniat mengangkat telepon darinya.


"Ku mohon angkat Ellina! Aku sangat mengkhawatirkanmu!" lirih Zean.


*


*


Dua jam sudah selepas meninggalkan pemakaman, Ellina terlihat duduk seorang diri disebuah taman.


Rasanya perempuan itu masih enggan untuk pulang lantaran dirinya merasa belum siap jika harus bertemu langsung dengan Zean, apalagi sampai berdebat dengan lelaki itu.


Ellina yakin, jika saat ini Zean pasti tengah bingung mencarinya. Melihat dari banyaknya panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan masuk yang dikirim lelaki itu ke nomornya.


Namun Ellina memilih tak peduli. Sungguh yang dia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan sembari memikirkan langkah apa yang akan dia ambil ketika dirinya dan Zean bertemu nanti.


Lama Ellina melamun. Hingga cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba berubah mendung. Tak lama hujan deras pun turun.


Ellina yang terlambat menghindar dari guyuran hujan segera berlari kecil mencari tempat berteduh sembari menutup sebagian kepalanya dengan tas yang ia bawa.


Karena terlalu fokus berlari, perempuan itu sampai tak melihat jika ada batu didepannya hingga tanpa sengaja kakinya tersandung dan tubuhnya terhuyung kedepan nyaris terjerembab jatuh.


"Akh!" Ellina memekik kaget.


Beruntung dengan cepat seseorang berhasil menyangga tubuh Ellina ditengah derasnya hujan.


"Hati-hati! Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu dengan nada khawatir.


Suara hujan yang disertai angin menyamarkan pendengaran Ellina, namun telinganya masih bisa mendengar dengan jelas pertanyaan orang tersebut yang diyakininya berasal dari suara seorang laki-laki.


"Ya, ya, aku tidak apa-apa Tuan! Terimakasih sudah menolongku! Jika tidak ada anda mungkin aku..." suara Ellina tiba-tiba berhenti di udara ketika kepalanya mendongak ingin melihat sosok yang baru saja menolongnya yang ternyata sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah pria yang sangat dikenalinya.


"D-Devan?!" refleks Ellina melangkah mundur dengan ekspresi terkejut luar biasa seolah tak percaya jika dia akan bertemu kembali dengan lelaki itu.


Sementara Devan yang basah kuyup tampak tersenyum lembut kearah Ellina.


"Hai! Akhirnya kita bertemu lagi,, Ellina."


.


.