Painful Love Story

Painful Love Story
Membuat Kesepakatan


Dalam posisi yang begitu intim kedua pengantin baru itu tampak saling menatap dalam rasa keterkejutan yang luar biasa. Bola mata mereka jelas saling beradu dan saling mengunci.


Bahkan andai saja keduanya bisa mendengar detak jantung masing-masing, bisa dipastikan wajah kedua insan itu akan bersemu malu karena detak jantung mereka berpacu begitu cepat. Seolah-olah tengah manabuhkan genderangnya didalam sana.


Cukup lama mereka bersitatap, hingga sepersekian detik kemudian Zean tersadar.


Secepat kilat ia membuang pandangannya dari Ellina.


Begitupun dengan Ellina yang langsung menundukkan pandangannya dari Zean.


"Ma-maaf Tuan! Aku tidak sengaja! Seharusnya aku berhati-hati." ucap Ellina cepat sambil melepaskan pegangannya dari bahu Zean dan membenarkan posisi tubuhnya berdiri seperti semula.


"Ekhem! Ya memang seharusnya kau berhati-hati! Bagaimana jika tadi aku tidak menangkap tubuhmu? Bisa-bisa kau jatuh dan entah apa yang akan terjadi pada kandunganmu itu?!" Zean yang dilanda kegugupan menjawab sekenanya.


Ellina hanya bisa diam mendengarkan ocehan lelaki itu karena nyatanya tadi dia memang sempat melamun saat melihat isi apartemen Zean yang begitu 'wah'.


Perlahan Zean mengatur nafasnya sebaik mungkin untuk menghilangkan rasa tak biasa yang baru saja menerjangnya.


Sesaat kecanggungan kembali terjadi diantara mereka, sebelum akhirnya Zean kembali bicara.


"Oh ya, aku ingin bilang padamu, bahwa disini kita tidak akan tidur satu kamar. Kau bisa tidur dikamar itu dan aku dikamarku!"


Zean menunjuk sebuah kamar disebelah kanan untuk Ellina lalu menunjuk kamar disebelah kiri yang tak lain adalah kamar pribadinya.


Ellina sedikit terkejut. Gadis itu pikir mereka akan kembali berbagi kamar seperti semalam, tapi ternyata tidak.


Dan pastinya hal itu membuat Ellina bersyukur. Ia cukup merasa lega dan tenang. Setidaknya mereka bisa menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.


Saat Zean memberitahu, bola mata Ellina mengikuti arah jari telunjuk Zean lalu dengan cepat dia menganggukan kepalanya pertanda mengerti.


"Baik Tuan! Kalau begitu aku permisi!"


Ellina segera menggeret kopernya menuju kamar yang tadi ditunjuk oleh sang suami.


Namun baru beberapa langkah kaki Ellina terhenti saat Zean mengatakan sesuatu.


"Mulai detik ini berhenti memanggilku Tuan! Aku bukan majikanmu!"


Ellina menoleh lalu menatap lelaki berstatus suaminya itu lekat-lekat.


"Lalu aku harus memanggil anda dengan sebutan apa?" tanya Ellina dengan polosnya.


"Kau bisa memanggil namaku bukan?"


"Tapi itu akan terasa canggung Tuan. Aku terbiasa memanggil anda ..."


"Aku tak ingin mendengar bantahan!" potong Zean cepat sembari menyorot tajam kearah Ellina.


Seketika Ellina mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lantas ia menganggukkan kepalanya.


"Ba-baik Tu.. Ma-maaf.. Maksudku Ze-Zean." jawab Ellina terbata.


"Bagus! Sekarang pergilah kekamarmu! Setelah makan malam kita akan bicara. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu!" ucap Zean.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam untuk kita. Apa disini ada bahan-bahan makanan? Jika ada aku akan memasaknya!" ujar Ellina.


"Tidak perlu! Aku akan memesan makanan diluar. Lagi pula aku jarang datang kemari dan aku tidak pernah memasak, jadi tidak ada bahan makanan disini!"


Setelah mengatakan itu Zean langsung membalikkan tubuhnya sambil menarik koper lalu bergegas meninggalkan Ellina.


Ellina memperhatikan punggung Zean yang semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu.


Tampak ia menghela nafas berat kemudian melanjutkan langkahnya menuju kekamar.


******


Malam ini suasana yang cukup hening terjadi didalam apartemen mewah Zean.


Lebih tepatnya diruang makan berukuran minimalis. Hanya terdengar beberapa kali suara dentingan alat makan yang saling bersahutan.


Meski telah berstatus sebagai suami istri, kedua insan itu tampak benar-benar seperti orang asing.


Duduk diam menikmati makanan yang tersaji tanpa saling berbicara sepatah katapun.


Sesekali Zean mencuri pandang kearah Ellina yang tengah menikmati makanannya diseberang sana.


Entah kenapa perasaan aneh itu tiba-tiba hadir kembali kala ia menatapnya. Perasaan yang Zean sendiri tidak mengerti.


Namun satu hal yang pasti, ketika beberapa kali pandangan mereka bertemu, Zean merasakan adanya sebuah getaran dihatinya.


Ya, getaran yang sama saat ia pertama kali jatuh cinta pada Lyora.


Lalu apakah mungkin saat ini ia tengah jatuh cinta pada Ellina? Rasanya tidak mungkin!


Zean meyakinkan diri bahwa perasaannya pada gadis itu hanya sebatas rasa kasihan mengingat kehidupan gadis itu yang ia tahu begitu miris. Tidak lebih.


Tapi Zean juga tidak menampik bahwa Ellina memiliki sebuah daya tarik tersendiri.


Selain memiliki wajah yang cantik, berkulit putih, dan bertubuh ideal ternyata Ellina adalah gadis yang baik hati.


Itu yang Zean lihat dari Ellina selama ini.


Selama ini?!


Ya jadi rupanya selama mereka masih tinggal dikediaman Tuan Wildan, tanpa ada yang tahu Zean diam-diam selalu memperhatikan gerak gerik Ellina.


Semua bermula saat kejadian didapur malam itu, dimana Ellina dengan susah payah hendak mengambil teh diatas lemari namun akhirnya Zean yang mengambilkannya.


Saat itu Zean yang akan pergi kehalaman belakang untuk menenangkan pikirannya, tidak sengaja melihat Ellina keluar dari kamar. Dengan rasa penasarannya Zean mengikuti gadis itu.


Ketika menyadari Ellina berjinjit dan melompat-lompat kecil, Zean dengan sigap bergegas menghampiri Ellina. Ia takut sesuatu terjadi pada kandungannya.


Meski Zean begitu khawatir faktanya ia menutupi semua itu dengan ekspresi yang super dingin.


Lalu Zean juga pernah melihat Ellina memberikan uang jajan pada anak kurang mampu yang tengah mencari barang bekas ditempat sampah kediaman kakeknya.


Jelas hal tersebut mampu membuat Zean terenyuh. Dan dari situlah Zean bisa melihat ketulusan gadis itu dan mulai memperhatikannya.


Seketika Zean tersadar dari lamunannya. Secepat kilat ia membuang pandangannya dari Ellina lalu melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.


"Kau sudah selesai?" tanya Zean saat melihat Ellina menaruh sendok dan garpu diatas piring secara bersamaan.


Ellina mengangguk.


"Sudah."


"Kenapa tidak dihabiskan? Apa makanannya tidak enak?" Zean menatap Ellina dan sisa makanan yang masih banyak dipiring gadis itu secara bergantian.


"Tidak kok. Makanannya cukup enak. Aku hanya merasa sudah kenyang."


Zean membuang nafas kasar.


"Kau lupa jika kau sedang hamil? Bukankah Ibuku pernah bilang kalau kau harus makan yang banyak?!"


"Aku tidak sanggup menghabiskannya. Aku akan menggantinya dengan minum susu." lirih Ellina.


Lagi-lagi Zean menghela nafasnya.


"Baiklah, terserah kau saja! Yang jelas aku tidak ingin anak itu kekurangan gizi!"


Nyess.. Seketika hati Ellina berdenyut nyeri saat Zean mengatakan 'anak itu'. Seolah-olah janin yang ada didalam kandungannya bukanlah darah daging lelaki itu.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga kandunganku dengan baik. Dan akan kupastikan anakku tidak akan kekurangan gizi seperti yang kau katakan barusan." jawab Ellina datar sambil menahan sesak didada.


Ellina beranjak dari duduknya untuk membenahi piring kotor, namun tiba-tiba Zean menghentikannya.


"Kau bisa membereskan itu nanti. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Duduklah!"


Ellina yang terlanjur berdiri akhirnya kembali duduk setelah mendengar perintah sang suami.


Setelah Zean menyelesaikan acara makannya, ia mengelap mulutnya dengan tisue lalu menyingkirkan piring dan gelas kesisi meja.


Kemudian menaikkan kedua tangannya kemeja itu dengan jemari yang saling bertautan. Sorot matanya tak lepas menatap Ellina dalam-dalam.


Sementara Ellina seperti biasa hanya mampu menundukkan pandangannya tanpa berani menatap Zean.


"Aku yakin saat ini kau tengah merasa senang karena bisa menikah denganku bukan?" tanya Zean memulai pembicaraan.


Saat itu juga Ellina mengangkat pandangannya dan tatapan mereka saling bertubrukan.


"Maksudmu?" Ellina bertanya dengan raut wajah bingung.


"Kau bisa menikmati statusmu sebagai Nyonya Zean sampai nanti kau melahirkan."


Ellina yang masih tak mengerti mengernyitkan dahinya.


"Baiklah akan kuperjelas supaya kau paham!"


Sejenak Zean menarik nafas dalam-dalam. Lalu kembali menatap Ellina lekat-lekat.


"Mari kita buat kesepakatan!"


"Kesepakatan?!"


"Ya."


"Kesepakatan apa?!"


"Mari kita bercerai etelah kau melahirkan!"


Deg


"Bercerai?!"


.


.


Bersambung...