
"Uncle Dev!"
Dengan langkah lebar Devan segera berlari menghampiri bocah kecil yang baru saja terjatuh didepan lobby pusat perbelanjaan yang ia datangi.
Kenzi, anak laki-laki berusia lima tahun yang baru saja ditolong oleh Ellina ternyata adalah keponakan dari Devandra. Musuh bebuyutan Zean.
Sekilas Ellina menoleh kearah Devan saat Kenzi memanggil nama sang paman. Namun tak lama fokusnya kembali lagi pada bocah kecil yang tengah mengalami luka dibagian lututnya itu.
Dengan telaten dan sangat hati-hati Ellina memasangkan plester pada lutut Kenzi.
Kenzi meringis menahan perih sambil memegangi lututnya, bahkan air matanya masih setia mengalir.
"Sudah selesai sayang! Jangan menangis lagi! Kau kan seorang jagoan!" seru Ellina.
Ia mengusap lembut kedua mata Kenzi lalu mencubit gemas pipinya yang terlihat chubby.
Kenzi hanya diam menatap Ellina sendu.
"Kenzi! Kau tidak apa-apa sayang?! Apa ada yang terluka." Devan yang sudah berada dihadapan Ellina secepat kilat langsung mengangkat tubuh kecil Kenzi lalu membawanya kedalam gendongan. Ia bertanya dengan raut wajah panik.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan. Dia hanya mengalami goresan kecil dilututnya. Saya sudah memasangkannya plester. Mungkin dia masih sedikit syock." ucap Ellina seraya bangkit dari jongkoknya.
Devan menoleh kearah Ellina. Sejenak ia terpaku saat melihat senyuman manis dibalik wajah cantik gadis itu.
Namun sepersekian detik Devan tersadar. Ia berdehem mencoba menetralkan degub jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan.
"Terimakasih Nona! Terimakasih karena kau telah menolong keponakanku!" ucap Devan tulus.
"Sama-sama Tuan. Semoga keponakan anda lekas sembuh! Kalau begitu saya permisi! !" Ellina mencubit sekilas pipi Kenzi kemudian menganggukan pelan kepalanya untuk undur diri dan mulai berbalik badan.
"Tunggu!"
Ellina kembali menoleh.
"Ya?! Ada apa Tuan?"
"Sebagai ucapan terimakasih maukah kau minum teh bersama kami?!" tawar Devan.
"Uncle Dev! Bukankah kita kemari ingin membeli mainan dan makan es krim?! Kenapa jadi minum teh!" potong Kenzi cepat dengan ekpresi wajah cemberut.
Sepertinya anak kecil itu tengah protes pada tawaran sang paman.
Sontak Ellina terkekeh geli mendengar celotehan Kenzi. Dimata Ellina, Kenzi terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
Ia jadi tidak sabar menantikan kelahiran bayinya.
"Ya tentu saja kita akan membeli mainan dan makan es krim sayang! Tapi setelah minum teh, okey! Sebagai ucapan terimakasih kita pada Aunty ini karena tadi dia sudah menolongmu tidak masalah bukan jika kita mentraktirnya sebentar, hm?" bujuk Devan.
"Maaf Tuan, tapi saya rasa tidak perlu! Saya ikhlas menolongnya." jawab Ellina cepat.
"Ayo... Uncle! Ayoo.. Kita beli mainan!" rengek Kenzi tanpa memperdulikan keinginan Devan.
Tentu Devan merasa tidak enak pada Ellina saat mendengar respon sang keponakan. Ia pun hanya bisa menghela nafas berat.
"Kalau begitu ucapkan terimakasih dulu pada Aunty ..."
"Ellina." jawab Ellina ketika Devan meliriknya seolah lelaki itu sedang bertanya. Padahal Devan sengaja memancing gadis itu agar ia mengetahui namanya.
"Terimakasih Aunty Ellina!" ucap Kenzi sambil tersenyum manis.
"Sama-sama tampan!"
"Kalau begitu kami permisi Nona!"
"Ya, silahkan Tuan!"
Setelah punggung Devan menjauh dari pandangan mata, tiba-tiba dari arah belakang suara bariton seseorang mengagetkan Ellina.
"Kau tersenyum pada siapa?"
Deg
Refleks Ellina berbalik. Disaat bersamaan tatapannya bertemu dengan tatapan lelaki yang tengah ditunggunya.
"Zean?!"
******
Sepanjang jalan menyusuri rak-rak supermarket, Zean terus menggenggam telapak tangan Ellina.
Lelaki itu bahkan tak melepaskan pegangan tangannya sama sekali barang sedetik pun.
Meski Ellina merasa risih namun ia hanya bisa pasrah saat Zean terus menuntunnya bagaikan induk ayam yang takut kehilangan anaknya.
Ia tak berani menolak, membantah ataupun melawan.
Apalagi ketika Zean bertanya berapa usia paman anak kecil itu dan Ellina menjawab mungkin seusia dirinya.
Bahkan tingkat ketampanannya pun nyaris sama sepertinya.
Entah lelaki itu merasa kesal atau bagaimana, ia hanya mengatakan.
"Jangan pernah lagi berbicara dengan orang asing, selagi aku tidak bersamamu."
Lalu sampai detik ini Zean hanya diam. Ia tak bicara sepatah katapun.
Jelas Ellina mengerutkan dahinya. Ia pikir apa salahnya berbicara dengan orang asing. Toh ia juga tidak sengaja melakukan itu.
"Ambil barang apa saja yang kau butuhkan! Setelah itu kita pulang!" suara Zean memecah kebisuan diantara mereka.
******
Ellina menatap tidak percaya pada apa yang ada dihadapannya saat ini. Ia menggigit jari antara syock dan bingung. Netranya kicep dan mulutnya seolah tak mampu berkata-kata.
Bagaimana tidak? Saat disupermarket Zean menyuruhnya mengambil barang apa saja yang ia butuhkan.
Tapi faktanya?! Bukan dia yang mengambil barang untuknya melainkan lelaki itu sendiri.
Dengan kalap Zean memborong bahan makanan, dari mulai sayuran, buah, makanan kaleng, daging, ikan dan ah.. masih banyak lagi.
Hanya satu yang Ellina pikirkan.
Mungkin suasana hati lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. Sehingga Zean mengambil apa saja yang ada didepan matanya tanpa peduli butuh atau tidak agar mereka cepat pulang keapartemen.
Dan sekarang giliran Ellinalah yang bingung. Darimana ia akan memulai menyusun semua bahan-bahan makanan itu kedalam pendingin.
"Hufft!"
Ellina hanya bisa menghela nafas berat. Perlahan ia mulai membuka satu persatu kantong belanjaan yang masih membungkus bahan-bahan makanan itu.
Saat Ellina tengah fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba..
Slreep
Sebuah tangan kokoh memeluk pinggang Ellina dari belakang hingga melingkar sempurna kedepan perut gadis itu.
Sontak Ellina membeliakkan mata. Ia benar-benar terkejut bukan main. Buru-buru Ellina membalikkan tubuhnya kebelakang.
Namun belum sempat itu terjadi sosok itu lebih dulu menahan tubuh Ellina. Menguncinya dengan dagu menopang pada bahu.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." ucapnya parau.
Tentu Ellina tahu siapa sosok itu. Zean. Ya, Zean. Ayah dari janin yang tengah dikandungnya saat ini.
Tapi ada apa dengannya? Kenapa lelaki itu tiba-tiba memeluknya seperti ini.
Seketika Ellina dihinggapi rasa cemas dan takut. Bayangan saat lelaki itu menjamah tubuhnya dengan liar dan kasar tiba-tiba kembali hadir diingatannya.
Dan ketakutan itu semakin menjadi kala Zean mulai menggerakkan tangannya, mengusap lembut perutnya dengan gerakan memutar.
"Zean." lirih Ellina. Bibirnya tampak bergetar.
"Hemm."
"Tolong jangan seperti ini." pintanya.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan.. Bukan begitu..tapi.."
"Apa?"
Bisa Ellina rasakan deru nafas Zean menyapu hangat area lehernya. Membuatnya meremang.
Bahkan aroma mint dan musk lelaki itu seketika menyeruak kedalam indera penciuman Ellina.
Ellina memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya berusaha menetralkan degub jantungnya yang sedari tadi berdebar tak menentu.
Sepersekian detik Zean membalikkan tubuh Ellina secara perlahan hingga gadis itu kini menghadapnya. Ia menangkup kedua pipi Ellina dengan lembut dan menatap manik mata coklat itu lekat-lekat.
"Ellina... Jika aku menginginkannya malam ini, apa kau bersedia?"
.
.
Bersambung...