
Seminggu kemudian.
Setelah malam panas yang mereka lewati, sejauh ini hubungan Zean dan Ellina cukup membaik. Komunikasi keduanya pun cukup lancar.
Bahkan sikap Zean pada Ellina berubah drastis. Lelaki itu bersikap lebih lembut dari pada sebelumnya.
Ia begitu perhatian dan selalu menanyakan kabar wanita itu juga kondisi janinnya ketika dirinya sedang pergi bekerja.
Namun Ellina masih berusaha menjaga jarak.
Ia sempat berpikir, apa mungkin perubahan sikap Zean yang mendadak hanya karena lelaki itu menginginkan tubuhnya semata?
Menjadikannya pemuas nafsu demi menyalurkan hasrat kelelakiannya tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun.
Mengingat selama satu minggu ini Zean sudah empat kali meminta haknya pada Ellina tanpa mengucapkan kata cinta.
Jelas Ellina tak bisa menolak. Sebab hal tersebut sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
Ellina hanya bisa berharap semoga sugestinya salah.
Karena tak dipungkiri sedikit demi sedikit benih-benih cinta itu mulai tumbuh dihati Ellina.
Ia jatuh hati pada Zean karena terbuai oleh sikap lelaki itu yang akhir-akhir ini membuatnya merasa nyaman.
"Kau sudah bangun?" tanya Ellina sekilas netranya melirik kearah Zean yang sedang berdiri didepan cermin hendak memakai dasi.
Ellina masuk kedalam kamarnya sembari membawa nampan yang terdapat secangkir kopi panas diatasnya. Sudah seminggu ini Zean tidur dikamar Ellina.
Bahkan setiap pagi sudah menjadi rutinitas Ellina untuk membuatkan Zean kopi, tentu atas permintaan lelaki itu sendiri.
"Kemarilah!" titah Zean lewat pantulan cermin saat melihat Ellina telah selesai menaruh kopi tersebut diatas nakas.
Ellina bergeming. Ia sedikit ragu untuk menghampiri suaminya. Pasalnya setiap mereka berdekatan ujung-ujungnya Zean akan menghabisinya diatas ranjang.
"Ada apa?" tanya Ellina tetap pada tempatnya.
Melihat Ellina yang diam saja sontak Zean membalikkan tubuhnya.
"Kau tak ingin menghampiriku?" Zean menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Aku..aku masih harus menyiapkan sarapan untuk kita didapur." jawab Ellina gugup. Ia berusaha mencari alasan supaya bisa menghindar dari Zean.
"Benarkah?!"
"He'em!" Ellina mengangguk cepat.
Perlahan lelaki itu berjalan mendekati Ellina. Spontan Ellina memundurkan kakinya selangkah kebelakang hingga ia menabrak sisi ranjang.
"Kau baik-baik saja?"
"Y-ya aku baik-baik saja!"
"Ada apa denganmu? Kenapa terlihat gugup?"
Seketika wajah Ellina menegang.
"Ti-tidak. Tidak ada apa-apa!"
Zean menatap manik mata indah itu lekat-lekat. Sedikit curiga. Namun ia tak ingin memperpanjangnya. Lantas ia menyodorkan dasinya kehadapan Ellina.
"Baiklah jika tidak ada apa-apa tolong pakaikan dasiku! Aku harus segera berangkat kekantor!" titahnya.
Sejenak Ellina menghela nafas lega. Ia tak membantah. Dengan segera Ellina meraih dasi tersebut lalu mulai memakaikannya dikerah kemeja Zean.
Zean tersenyum samar. Ia terus memandangi wajah Ellina begitu intens.
Memang itulah yang diinginkannya. Menatap dari dekat wajah wanita yang berhasil mengusik hatinya selama satu minggu ini.
Ellina yang menyadari dirinya terus diperhatikan, pura-pura tidak melihat. Dia lebih memilih fokus pada apa yang dia kerjakan.
"Kapan jadwalmu konsul kedokter kandungan?" tanya Zean.
Sesaat Ellina menjeda kegiatannya, tampak berpikir.
"Dua minggu lagi." jawabnya tanpa menoleh pada Zean. Lalu meneruskan tugasnya.
"Hm, biar nanti aku yang menemanimu!"
"Ya?!" Ellina terpekik. Refleks ia menghentikan gerakannya.
"Kenapa?! Kau tidak mau kutemani?!"
"Bu-bukan begitu. Tapi ibumu bilang dia yang akan menemaniku!" jawab Ellina cepat sambil melanjutkan kembali tugasnya hingga selesai.
"Katakan pada Ibu tidak perlu lagi menemanimu! Sekarang kau adalah tanggung jawabku. Jadi aku yang akan menemanimu kedokter!"
"Tapi.."
Cup
Sekilas Zean mengecup bibir Ellina. Sontak membuat Ellina terperanjat kaget.
"Jangan membantah!"
Sesaat mereka berdua saling menatap. Hingga sedetik kemudian Zean memiringkan kepalanya dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ellina.
Bukan hanya menempel tetapi menautkannya dan menghisap bibir mungil itu secara perlahan.
"Ehmmp..Sshh.."
Ellina mendesis kala Zean begitu bernafsu me lu mat bibirnya. Bahkan semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Membuat jiwa Ellina terasa dibakar api gairah.
Ciuman yang menggelora itu terjadi cukup lama. Hingga akhirnya Zean tersadar saat melihat Ellina gelagapan seperti orang yang nyaris kehabisan nafas. Ia segera melepaskan pagutan bibirnya.
"Hah..hah..hah.." nafas Ellina tersengal. Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Belajarlah bernafas ketika sedang berciuman denganku." ucap Zean tanpa rasa bersalah. Dengan gerakan slow motion ia mengusap bibir Ellina.
"Bagaimana bisa aku bernafas jika kau selalu mencuri ciuman dariku secara tiba-tiba!" protes gadis itu, kesal.
Zean nampak terkekeh.
"Kau tahu? Semua yang ada pada tubuhmu membuatku tidak bisa menahan diri Ellina. Kau membuatku candu."
Jleb
Dia berpikir jika sugestinya benar. Zean hanya menginginkan tubuhnya semata tidak lebih. Seperti ja.lang.
Ellina memalingkan wajahnya kesamping. Netranya mulai memanas. Saat ini dadanya terasa begitu sesak sekali.
Kau harus sadar diri Ellina! Kau harus ingat siapa dirimu! Bagaimana mungkin kau berharap dia juga mencintaimu!
"Ada apa?!" tanya Zean saat melihat gurat kesedihan diwajah Ellina.
Ellina kembali menatap Zean. Ia mencoba tersenyum dengan senyum yang dipaksakan.
"Tidak! Tidak apa-apa. Dasimu sudah selesai. Sebaiknya kau segera meminum kopimu! Aku akan kembali kedapur untuk menyiapkan sarapan!" ucap Ellina.
Ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Zean. Dan saat itu juga air mata yang ditahannya tumpah.
*****
"Malam ini sepertinya aku akan lembur. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sendirian cukup lama?" tanya Zean saat ia dan Ellina tengah menikmati sarapan bersama.
"Hm, kalau begitu bolehkah aku izin keluar sebentar? Aku ingin mengunjungi Tiara." ucap Ellina ragu.
"Kau lupa kalau kau sedang hamil?" tatapan Zean berubah tajam.
"Tentu tidak! Aku hanya merasa bosan jika setiap hari harus tinggal diapartemen. Lagi pula hari ini adalah hari pembukaan coffe shopnya Tiara. Aku merasa tidak enak jika tidak hadir. Dia sudah sangat baik padaku bahkan dia menganggapku seperti saudaranya sendiri. Aku mohon izinkan aku pergi!" ucap Ellina dengan wajah penuh permohonan.
Ya semenjak Tiara berdebat dengan Zean beberapa waktu lalu soal Ellina, keesokan harinya gadis itu langsung mengundurkan diri dari perusahaan Zean.
Ia merasa tidak enak hati dengan semua yang terjadi. Ia sadar diri. Sebelum dirinya ditendang oleh Zean dari perusahaan tesebut karena membuat masalah alangkah baiknya ia mengajukan resign lebih dulu.
Dan dengan sedikit tabungan serta tambahan uang pesangon, Tiara membuka usaha coffe shop kecil-kecilan bersama kakaknya.
Sejenak Zean nampak berpikir. Jujur ia masih kesal pada mantan karyawannya itu yang tak lain adalah sahabat istrinya.
Karena gadis itu dia harus terjebak pernikahan dengan Ellina.
Tapi karena gadis itu juga saat ini dirinya kembali merasakan yang namanya jatuh cinta.
Zean melihat kearah Ellina yang juga sedang melihat kearahnya. Tampak terlihat jelas bola mata gadis itu penuh harap.
Zean meraih gelas minumnya diatas meja lantas menenggak isinya hingga menyisakan setengah gelas.
"Baiklah, aku mengizinkanmu pergi! Asal kau berjanji bisa menjaga dirimu dengan baik. Terutama menjaga calon anak kita."
Nyess
Tiba-tiba hati Ellina menghangat.
Calon anak kita??
Ia menatap Zean dengan wajah berbinar. Kata-kata sederhana yang selama ini ia tunggu akhirnya terucap dari bibir lelaki itu.
Setidaknya mampu mengurangi sedikit rasa kecewanya atas ucapan Zean sewaktu dikamar beberapa saat lalu.
"Ya tentu! Aku pasti akan menjaga diriku dan calon anak kita dengan baik!" jawab Ellina sambil mengulum senyum dan mengelus perutnya yang masih rata.
*****
Siang hari. Setibanya di coffe shop milik Tiara, Ellina langsung memeluk tubuh sahabatnya itu begitu erat meluapkan kerinduan sembari mengucapkan selamat atas usaha baru yang tengah dirintisnya saat ini.
Tentu Tiara menyambut kedatangan Ellina dengan hangat. Ia mengajak Ellina masuk untuk bertemu kakaknya.
Setelah itu, Tiara mengajak Ellina berkeliling melihat-lihat coffe shop kecil miliknya sambil mulai menanyakan banyak hal.
"Bagaimana hubunganmu dengan Tuan Zean? Apa setelah menikah dia bersikap baik padamu?" tanya Tiara sedikit khawatir.
Sekilas Ellina menoleh pada Tiara yang berjalan tepat disampingnya. Gadis itu tesenyum simpul.
"Ya selama satu minggu ini dia selalu bersikap baik padaku Ra. Bahkan dia sangat perhatian pada calon anak kami." jawab Ellina jujur.
"Benarkah?" tentu Tiara tidak percaya begitu saja.
Ellina mengangguk cepat.
"Benar."
Seketika Tiara menghentikan langkahnya. Ia mencekal tangan Ellina lalu menatap wajah sahabatnya itu lamat-lamat.
"Kau sedang tidak berbohong padaku kan Ellina?!" selidik Tiara.
Melihat ekspresi Tiara yang berlebihan tentu Ellina tertawa geli.
"Tentu saja tidak Tiara! Untuk apa aku berbohong padamu?!"
Tiara mencoba menelisik wajah dan mata Ellina. Mencari kebohongan disana. Namun nihil.
"Baiklah kali ini aku percaya!" jawab Tiara. Ia melepaskan tangan Ellina.
Namun Ellina langsung kembali meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku mengerti kekhawatiranmu Tiara. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi sungguh selama aku menikah dengan Zean, dia banyak berubah. Dia memperlakukanku dengan sangat baik." ucap Ellina meyakinkan.
"Kau berani menyebut namanya tanpa embel-embel Tuan, Ellina?"
"Dia yang memintaku."
"Ya aku jadi semakin yakin jika kau baik-baik saja. Dan aku bersyukur untuk itu!"
Ellina tertawa kecil.
Saat mereka akan kembali berjalan tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sesosok pria tampan berdiri menghalangi jalan mereka.
"Nona Ellina?!"
Deg
"Tuan Dev?!"
.
.
Bersambung...