Painful Love Story

Painful Love Story
I Love You My Wife


"Tuan Dev?!"


Ellina terhenyak begitu melihat siapa orang yang tengah berdiri dihadapannya.


"Anda disini?!" tanyanya lagi.


Seketika senyum Devan mengembang. Ia tidak menyangka jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya pada pandangan pertama itu.


"Ya Nona, aku disini! Senang bisa bertemu denganmu lagi!" jawab Devan seraya mengulurkan tangannya kehadapan Ellina.


Ellina membalas uluran tangan itu dan tersenyum pada Devan.


"Senang juga bisa bertemu kembali dengan anda Tuan!" jawab Ellina.


"Kau mengenalnya Ellina?" bisik Tiara pelan.


Karena selama ini ia tidak pernah tahu jika sahabatnya itu mengenal sosok laki-laki lain yang tampan dan kaya selain Zean.


Seketika Ellina tersadar. Ia melepas jabatan tangannya dari Devan kemudian memperkenalkan Tiara.


"Oh ya Tuan, perkenalkan dia adalah Tiara sahabat saya, pemilik dari coffe shop ini. Tiara kenalkan dia Tuan Dev!"


Tiara tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya pada Devan. Dan Devan menyambut uluran tangan Tiara.


"Tiara."


"Devan. Senang bisa berkenalan dengan anda Nona."


"Terimakasih!"


"Oh ya Tiara, Tuan Dev ini adalah paman dari anak laki-laki yang pernah aku tolong. Kami bertemu seminggu lalu dipusat perbelanjaan." jelas Ellina pada sahabatnya itu.


"Anak laki-laki yang pernah kau tolong? Memangnya anak itu kenapa?" tanya Tiara setelah jabatan tangan itu terlepas.


"Saat itu keponakanku tidak sengaja terjatuh Nona. Dan Nona Ellinalah yang menolongnya." sahut Devan.


"Oh begitu rupanya." Tiara menganggukan kepalanya mengerti.


"Maaf Tuan, tolong jangan panggil saya Nona! Panggil saja saya Ellina." ucap Ellina yang merasa kurang nyaman dengan sebutan itu.


"Kalau begitu kau juga tidak boleh memanggilku dengan sebutan Tuan. Panggil saja aku Devan supaya kita lebih akrab!"


"Tapi.."


"Jika tidak mau maka aku akan tetap memanggilmu Nona, bagaimana?"


Sekilas Ellina melempar pandangannya pada Tiara lalu kembali menoleh kearah Devan.


"Hm baiklah!" ucap Ellina pasrah.


Devan tersenyum senang.


"Oh ya, kebetulan kita bertemu disini. Bagaimana jika kita minum teh atau kopi sebentar? Sebagai penebus karena waktu itu aku tidak sempat mentraktirmu. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Devan.


Ellina tampak berpikir. Kebetulan dia juga belum sempat menikmati menu minuman dan makanan yang ada di coffe shop milik Tiara.


"Ehm tentu tidak Tu.. Maksudku Devan!" ralat Ellina. "Tentu aku tidak keberatan."


******


Saat ini Devan dan Ellina sudah berada disatu meja yang sama.


Mereka duduk saling berhadapan.


Disamping mereka terdapat dinding kaca besar yang menyorot langsung taman buatan diluar sana.


Sementara Tiara tak bisa menemani keduanya berbincang. Ia tengah sibuk menyambut dan melayani para customer yang baru saja datang.


"Kau tidak suka kopi Ellina?" tanya Devan mulai berbasa-basi. Mencoba mencari pembahasan untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung.


"Sangat suka. Tapi untuk saat ini aku lebih menyukai teh." jawab Ellina.


"Oh kupikir kau tidak menyukainya."


Ellina tersenyum simpul. Lantas mereka saling menyeruput dan menikmati minuman masing-masing.


"Kau kemari dengan siapa Ellina?"


"Sendiri. Kalau kau?"


"Sama, aku pun sendiri. Kebetulan aku baru saja menemui klien dan berniat untuk pulang. Tapi saat lewat sini, tidak sengaja aku melihat coffe shop yang baru dibuka. Karena penasaran aku mampir. Dan siapa sangka kita malah bertemu lagi. Atau jangan-jangan memang kita berjodoh?!" kelakar Devan diselingi dengan tawa renyah.


Ellina ikut tertawa menanggapinya.


"Kau bisa saja! Oh ya, bagaimana kabar Kenzi? Apa luka dikakinya sudah sembuh?" tanya Elina masih memegang gelas berisikan teh hijau pesanannya.


"Kabar anak itu cukup baik. Seperti yang kau katakan waktu itu dia hanya mengalami luka kecil. Dan sekarang lukanya sudah sembuh. Bahkan sepulang dari pusat perbelanjaan dia sudah kembali bermain bersama teman-temannya. Berlari kesana kemari seperti tidak terjadi apapun. Benar-benar luar biasa!" jelas Devan panjang lebar.


Ia terkekeh sambil menggelengkan pelan kepalanya saat mengingat tingkah lucu sang keponakan.


"Benarkah?!"


"Hemm."


"Syukurlah kalau begitu. Aku sudah menduga bahwa Kenzi adalah anak yang kuat." Ellina tersenyum sambil menaruh gelasnya diatas piring kecil.


"Wah kau seperti peramal!" canda Devan.


Mereka kembali tertawa.


Sesaat Ellina melempar pandangannya keluar jendela. Menikmati pemandangan dengan kedua tangan dilipat diatas meja.


Seketika ia jadi membayangkan dirinya sendiri bersama Zean. Apa mungkin setelah buah hati mereka lahir kedunia mereka akan menjadi keluarga yang utuh dan bahagia?


Atau malah sebaliknya?


Ellina menghembuskan nafas berat. Ternyata mencintai seseorang dalam diam itu rasanya sangat menyakitkan.


Devan mengikuti arah pandang Ellina. Namun sepertinya ia lebih tertarik memandangi wajah cantik yang ada dihadapannya saat ini.


Wajah yang begitu meneduhkan hati. Wajah yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajah yang sempat hadir didalam mimpinya setelah pertemuan pertama mereka.


Ah.. Ingin sekali rasanya ia memiliki gadis ini.


Namun Devan sadar semua butuh proses. Paling tidak saat ini dewi fortuna sedang berpihak padanya. Dengan mempertemukan kembali dirinya dan Ellina tanpa sengaja.


Sejenak kedua manusia itu hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga seketika pertanyaan Devan membuyarkan lamunan Ellina.


"Apa kau menyukai anak-anak Ellina?"


"Ya?! Oh..emmh..ya. aku menyukai anak-anak. Kau sendiri?" Ellina balik bertanya.


"Aku pun menyukainya. Maka dari itu jika aku memiliki waktu luang, seringkali aku mengajak Kenzi bermain."


"Itu bagus! Kenzi pasti sangat senang memiliki Uncle yang humble sepertimu."


Devan tersenyum simpul. Ia lantas menyesap kembali kopi miliknya.


"Tapi bukankah lebih menyenangkan jika kita bermain dengan anak sendiri?" ucapnya sambil menaruh gelas tersebut.


Ellina mengangguk pelan.


"Ya memang benar, rasanya akan sangat berbeda. Jauh lebih menyenangkan!" jawab Ellina sembari menyeruput minumannya.


"Ah tiba-tiba aku jadi ingin menikah."


"Uhukk..!" sontak Ellina terkejut mendengar ucapan Devan. Hingga ia tersedak minumannya sendiri.


"Ellina! Kau tidak apa-apa?!" tanya Devan panik.


"Ah iya aku baik-baik saja! Maaf!" Ellina mengambil tisue kemudian mengelap mulut dan bajunya yang terkena cipratan teh.


"Memangnya kau belum menikah?" tanya Ellina kemudian.


Devan tertawa renyah. Lantas ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Belum. Justru saat ini aku sedang mencari calon pendamping. Kalau kau?"


"Aku..ekhm.. Aku sudah menikah!"


Deg


"A-apa?!"


******


Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Sejak sore tadi Ellina sudah kembali ke apartemen Zean dengan diantar oleh Devan.


Awalnya Ellina menolak tawaran lelaki itu. Namun Devan memaksanya. Karena ia tak tega membiarkan wanita yang disukainya harus pulang sendirian dalam keadaan hamil.


Ya, Ellina telah memberitahukan status dirinya pada Devan juga kondisinya yang tengah berbadan dua. Namun Devan tak bertanya siapa suami Ellina.


Disisi lain Ellina yang tak tahu menahu soal perasaan Devan akhirnya menurut. Ia menaiki mobil Devan hingga tiba dilobby apartemen Zean.


Ketika sudah didalam unit, Ellina segera membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Ia merasakan sekujur tubuhnya begitu lemas sekali.


Berkali-kali Ellina mengalami muntah-muntah. Biasanya jika ada Zean, ia tak akan muntah sesering ini.


Ellina sendiri juga tidak mengerti. Ia pikir mungkin calon anak mereka sudah terbiasa dengan kehadiran sosok ayahnya.


Sebab yang Ellina sadari, saat bersama Zean dirinya jarang sekali merasakan mual ataupun mengidam yang aneh-aneh.


Sekilas Ellina melirik kearah ponselnya yang berada diatas nakas. Jujur saat ini ia merindukan sosok pria berstatus suaminya itu.


Terakhir Zean menghubunginya saat siang lalu ketika dirinya tengah berada di coffe shop milik Tiara.


Ingin rasanya Ellina menghubungi Zean lebih dulu, namun ia takut dirinya disangka lancang. Hingga akhirnya Ellina mengurungkan niatnya melakukan itu.


"Apa dia begitu sibuk sehingga tak bisa menyempatkan diri menghubungiku?" lirih Ellina.


Ia menatap langit-langit kamar yang meremang. Lambat laun netranya semakin lama semakin memberat dan akhirnya Ellina pun terlelap.


Detak jarum jam terus berbunyi. Memecah kesunyian malam. Disaat Ellina pulas, sesosok pria duduk disampingnya.


Membenahi sulur rambutnya. Mengusap wajahnya dengan lembut dan menatapnya penuh cinta.


Sekilas ia mengecup bibir Ellina kemudian mendaratkan kecupan hangat diujung kepala gadis itu.


Dengan lirih pria itu berbisik.


"I Love You My Wife."


.


.


Bersambung...