Painful Love Story

Painful Love Story
Pertemuan Mengejutkan


Ekspresi Zean terlihat gusar. Beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Dan beberapa kali juga ia melihat kearah jam dipergelangan tangannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4.45 sore dan dia belum juga sampai ditaman kota. Tempat ia dan Ellina janjian untuk tamasya.


Seketika rasa bersalah menghantam Zean. Bahkan rasa takut dan khawatir tengah menyelimutinya saat ini.


Bagaimana tidak? Sejak tadi Zean berusaha menghubungi Ellina untuk mengabarinya bahwa ia kemungkinan datang terlambat. Namun nomor wanita itu sama sekali tidak aktif.


Apa wanita itu marah padanya karena telah membuatnya menunggu hingga ia menonaktifkan ponselnya?


Atau memang karena baterai ponselnya yang habis?


Entahlah. Yang pasti perasaan Zean tak menentu. Ingin rasanya ia segera bertemu dengan pujaan hatinya itu dan meminta maaf.


Andai jalanan tidak terlalu ramai mungkin ia akan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Dan jika saja tadi diperusahaan tidak ada masalah serius yang mengharuskannya mengadakan sebuah rapat mendadak, mungkin sekarang dirinya sudah bersama Ellina.


Zean menghela nafas kasar seraya mengumpat kesal ketika melihat lampu jalanan berubah merah.


Ia kembali menghubungi Ellina, namun hasilnya tetap sama ponsel wanita itu masih tidak aktif.


"Kenapa nomormu tak bisa dihubungi Ellina? Kau membuatku khawatir!" lirih Zean.


******


Disisi lain, pandangan Ellina tampak kosong menatap lurus kedepan.


Ia merasa sedih sekaligus kecewa karena Zean tak menepati janjinya. Sedari tadi ia menunggu, tapi pria yang ditunggunya tak kunjung datang.


Ini sudah satu jam lebih berlalu dari waktu yang dijanjikan dan jelas hal itu membuat Ellina kesal.


Ditambah lagi ponselnya pun kehabisan baterai. Ia lupa mengisi daya hingga akhirnya ia tak bisa menghubungi Zean untuk menanyakan keberadaannya.


Ingin pulang, hatinya meragu. Ellina takut ketika ia meninggalkan taman, Zean datang. Hingga Ellina memutuskan untuk tetap menunggu suaminya disana.


Devan yang sejak tadi duduk disamping Ellina sambil mengawasi Kenzi yang tengah bermain gelembung udara bersama anak-anak lain, sesekali melirik kearah Ellina.


Tampak wajah cantik itu terlihat sendu. Ia tahu apa penyebabnya.


Karena sebelumnya Ellina sudah bercerita bahwa dia akan berkencan dengan pria yang telah menjadi suaminya ditaman ini.


Cemburu? Tentu saja.


Tapi Devan hanya bisa memendamnya dalam hati.


Padahal selama dua minggu ini Devan sudah mati-matian mengubur perasaannya pada Ellina. Namun tak bisa. Semakin hari perasaan itu semakin tumbuh dan menjadi.


Ia bahkan sempat uring-uringan ketika Ellina hanya membalas sekali pesannya selama mereka berteman.


Dan ketika ia bisa bertemu Ellina ditaman ini, jelas hatinya langsung berbunga-bunga.


Devan tak menyangka karena kekukuhan Kenzi yang memaksa dirinya datang kemari ia jadi bisa melihat Ellina.


Ellina yang awalnya sengaja mengatakan bahwa ia tengah menunggu suaminya berharap Devan segera pergi setelah berbasa basi, ternyata tak membuat pria itu sadar diri.


Devan malah bergeming. Meski kesal bercampur was-was Ellina membiarkannya tetap tinggal.


Sebenarnya Ellina tak ingin Devan bertemu Zean. Yang kemungkinan bisa saja menimbulkan salah paham.


Tapi kini justru keberadaan Devan sedikit mengusir rasa sepi Ellina dikala sedang menanti suaminya.


Bahkan barusan Devan menawarkan ponselnya pada Ellina supaya dia dapat menghubungi sang suami.


Namun sayangnya Ellina tidak hafal nomor ponsel Zean. Dan entah kenapa hal tersebut membuat Devan merasa lega dan senang.


Paling tidak ia bisa duduk berdua sedikit lebih lama dengan Ellina.


Sekilas Ellina menoleh, ia pikir tak ada salahnya bukan menerima tawaran Devan?


Ellina pun mengangguk.


"Boleh."


Devan tersenyum.


"Mau rasa apa?"


"Cokelat saja."


"Oke! Tunggu sebentar, aku akan membelinya!"


Devan segera beranjak dari tempat duduk setelah mendapat anggukan dari Ellina.


Segera ia pergi membeli tiga es krim dengan rasa berbeda yang dijual oleh pedagang keliling ditaman tersebut.


Tak lama Devan kembali. Ia memberikan satu es krim pada Kenzi, satu untuk Ellina dan satunya lagi untuknya.


Mereka bertiga duduk dibangku taman dengan posisi Kenzi ditengah-tengah. Benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia saat ketiganya memakan es krim bersama.


Tawa Ellina mulai terdengar begitu melihat bibir mungil Kenzi yang belepotan saat memakan es krim.


Ellina segera mengeluarkan tisue dari dalam tasnya. Dengan lembut ia mengusap bibir mungil yang kotor itu sampai bersih.


"Terimakasih Aunty!" ucap Kenzi begitu manis.


"Sama-sama sayang!" jawab Ellina seraya mencubit gemas pipi bocah cilik itu.


Angin berhembus sedikit kencang membuat daun kering dan debu beterbangan hingga membuat mata Ellina kelilipan.


"Ellina! Kau baik-baik saja?!" tanya Devan ketika melihat Ellina terus mengucek matanya.


"Hm, sedikit perih. Seperti ada yang mengganjal." keluh Ellina.


"Boleh kubantu meniupnya?!"


Awalnya Ellina merasa enggan menerima tawaran Devan, namun akhirnya ia mengangguk karena tak tahan dengan rasa gatal dan perih yang ia rasakan.


Tanpa banyak bicara Devan segera mengambil es krim milik Ellina lalu menitipkannya pada Kenzi. Begitupun dengan es krim miliknya. Kenzi yang mengerti langsung berdiri hingga tak ada jarak diantara Ellina dan Devan.


Secara perlahan Devan membuka mata Ellina pelan-pelan lantas meniupnya.


Tanpa ketiganya sadari, dari jarak yang tidak terlalu jauh dibelakang bangku mereka, sepasang mata menatap keduanya dengan tatapan membunuh.


Zean.


Dia yang baru saja tiba ditaman dan tengah mencari keberadaan Ellina dalam kepanikan tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan luar biasa.


Seketika nafasnya memburu. Tangannya terkepal kuat. Diiringi dengan rahangnya yang mengeras.


Jadi ini yang dilakukan Ellina dibelakangnya? Pantas saja ponselnya tidak aktif.


Zean terus mengamati mereka dengan hati terbakar. Dan alangkah terkejutnya ia ketika menyadari bahwa pria yang kini bersama Ellina adalah Devan.


Bajingan!


.


.


Bersambung...