Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 62


Seminggu kemudian.


"Apa kau akan pulang telat lagi?" Ellina bertanya sembari mengancingkan kemeja suaminya. Suaranya terdengar sedih.


Pasalnya sudah satu minggu ini Zean melewatkan makan malam bersamanya. Ketika Ellina bertanya lelaki itu selalu menjawab dengan alasan yang sama.


Akhir-akhir ini dikantor sedang banyak pekerjaan.


Pada akhirnya Ellina memilih diam. Meskipun sejujurnya dia sedikit curiga. Tetapi Ellina sadar bahwa kecurigaannya tidak berdasar.


Sebab jika dilihat dari sudut pandang manapun tak ada yang berubah dari sikap suaminya itu. Lelaki itu masih mencintainya seperti biasa. Malah bisa dibilang rasa cinta dan perhatian yang diberikan Zean padanya bertambah berkali-kali lipat.


Zean menangkup wajah Ellina dengan kedua telapak tangannya kemudian mendongakkan wajah cantik itu ke arahnya.


"Sepertinya begitu. Kenapa? Apa kau menginginkan sesuatu? Jika ada katakanlah. Aku akan membelikannya untukmu." jawab Zean. Lalu sekilas mengecup bibir Ellina.


Namun bukannya menjawab, Ellina malah langsung memeluk tubuh kekar Zean dan tiba-tiba menangis didada bidang lelaki itu.


"Aku tidak ingin apapun! Aku hanya ingin kau pulang cepat dan makan malam bersamaku!" ucap Ellina dengan lirih.


Sontak Zean tertegun, kemudian dia membalas pelukan Ellina sembari mencium pucuk kepala wanita itu.


"Hey, kenapa menangis? Sudah jangan menangis. Nanti baby kita bisa marah jika tahu aku membuat ibunya menangis. Bisa-bisa aku tidak diizinkan menjenguknya lagi." seloroh Zean, hingga refleks Ellina memukul punggung lelaki itu.


"Kau ini! Apa hanya itu yang ada dipikiranmu?!" ketus Ellina masih dengan berderai air mata.


Sontak Zean tertawa lepas lalu mengurai pelukan mereka dan kembali menangkup wajah wanitanya.


"Aku hanya bercanda sayang!" ucapnya seraya menghapus air mata Ellina lalu mencium kedua kelopak mata wanita itu dengan lembut. "Baiklah nanti akan aku usahakan untuk pulang cepat. Sekarang jangan sedih lagi, oke?!"


"Janji?" tanya Ellina.


"Janji!"


"Baiklah! Awas saja jika kau bohong!" tanpa banyak kata Ellina kembali melanjutkan tugasnya mengancingkan kemeja Zean.


Sementara Zean hanya bisa terpaku, memandang wajah Ellina dengan perasaan bersalah.


Ya, sudah satu minggu ini dirinya memang tidak makan malam bersama dengan sang istri.


Tanpa sepengetahuan Ellina, setelah pulang dari kantor Zean langsung menemui Lyora dan menemani wanita itu makan malam. Semua dilakukannya secara terpaksa atas permintaan Lyora.


Sebab menurut laporan dari suster yang merawat wanita itu, Lyora sangat susah sekali untuk makan. Entah apa alasannya.


Dan ketika Zean menanyakan langsung pada Lyora, bukannya menjawab dengan jelas, Lyora malah mengajukan syarat, bahwa dia baru akan makan jika Zean mau menemaninya makan.


Tentu saja Zean tidak bisa menolak. Dia sudah berjanji akan selalu ada untuk wanita itu. Dan kini dia menjadi pusing sendiri. Zean harus membagi waktunya antara Ellina, pekerjaan dan mantan kekasihnya. Dan hal itu membuat Zean seolah-olah sedang berselingkuh.


Tanpa sadar Zean menghembuskan napas berat. Seperti ada batu besar yang menghimpit rongga dadanya hingga ia merasa sesak.


"Kau kenapa?" tanya Ellina yang mendengar helaan napas suaminya.


"Ya?" Zean tersadar lalu menatap Ellina dengan bingung.


"Kau kenapa?" ulang Ellina. "Barusan kau menghela napas seperti orang yang sedang ada masalah?"


Sontak Zean mengerjap dan tergeragap.


"Oh, tidak ada. Aku hanya terpesona melihat wajahmu yang cantik hingga rasanya aku ingin menerkammu saat ini juga." dusta Zean. Namun apa yang dia katakan barusan jujur dari hati.


Mendengar jawaban suaminya, refleks Ellina mencubit pinggang Zean sembari mendelik tajam, membuat Zean memekik kesakitan.


"Kau ini benar-benar mesum!" omel Ellina yang seketika disambut tawa sang suami. Meski tertawa namun dalam hati Zean merasa bersalah.


Maafkan aku, Ellina.


*


*


*


Setelah beberapa jam berkutat didepan laptop, akhirnya Zean selesai juga dengan pekerjaannya. Lelaki itu melihat kearah jam dipergelangan tangannya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Zean merenggangkan otot-otot lengan juga lehernya. Lalu dengan segera ia menutup laptop, merapihkan berkas-berkas, kemudian beranjak dari duduk, memakai jasnya lalu menyambar kunci mobil. Begitu keluar ruangan, tak sengaja Zean berpapasan dengan David, sekretaris pribadinya.


"Tuan? Anda mau kemana?" tanya David.


"Pulang." jawab Zean singkat sambil kembali berjalan.


"Pulang??" David mengerutkan kening bingung. "Tapi Tuan, tunggu!"


Sontak Zean menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap David dengan tajam.


"Ada apa?!" geramnya tak sabar hingga membuat David menelan ludah.


"M-maaf Tuan, tapi malam ini anda ada pertemuan makan malam dengan Tuan Fedrick dari Jerman. Beliau sudah ..."


"Batalkan! Jika tidak bisa, kau saja yang menggantikanku menemui beliau. Aku percayakan semuanya padamu."


Setelah mengatakan itu, Zean bergegas meninggalkan David yang hanya bisa mematung menatap kepergian tuannya dengan menggelengkan kepala.


*


*


*


Selama dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya Zean mengulas senyum bahagia. Sembari menyetir mobil sesekali lelaki itu melirik kearah bouquet bunga mawar merah yang dibelinya untuk Ellina.


Dia pernah melakukan ini untuk Lyora sewaktu dirinya baru kembali dari Swiss. Akan tetapi kala itu dia harus menelan pil pahit ketika mendapati Lyora tengah bersama Devan. Parahnya Lyora dan Devan baru saja melakukan hubungan intim.


Dan hari itu adalah hari paling menyakitkan bagi Zean hingga rasanya dia mau mati.


Namun semua sudah berlalu. Kini bukan Lyora yang akan dia temui, melainkan istrinya, belahan jiwanya, sekaligus ibu dari calon anaknya. Tentu Ellina tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan Lyora padanya.


Zean segera membuang jauh-jauh pikiran itu, lalu tak lama ponselnya berdering, menampakkan nama Lyora pada layar ponselnya. Kebetulan dia sudah membuka blokir nomor perempuan itu. Tanpa pikir panjang Zean mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, ada apa Lyora?" tanya Zean.


"Apa kau sedang sibuk Zean?"


"Tidak. Aku tidak sedang sibuk." jawab Zean. "Hanya saja malam ini aku tidak bisa makan bersamamu Lyora." lanjutnya memberitahu.


Deg.


"Kenapa?!" tanya Lyora dengan nada terkejut. "Apa kau lembur?"


"Tidak. Aku tidak lembur. Kebetulan malam ini aku akan makan malam bersama Ellina. Tadi pagi dia begitu sedih karena sudah satu minggu ini aku melewatkan makan malam bersamanya." jawab Zean jujur.


Tanpa Zean tahu diseberang sana Lyora langsung meremas ponselnya dengan perasaan marah saat mendengar nama wanita saingannya disebut.


Ellina lagi... Ellina lagi! Kenapa perempuan sialan itu harus ada diantara aku dan Zean?!


Namun secepat kilat Lyora segera meredam emosinya. Dia harus sabar dan bermain cantik untuk merebut kembali hati Zean.


"Oh begitu rupanya. Yasudah tidak apa."


"Apa kau membutuhkan sesuatu Lyora?" tanya Zean.


"Tidak. Tidak ada. Yasudah kalau begitu aku tutup teleponnya ya." tanpa menunggu jawaban Zean, Lyora langsung mematikan sambungan mereka. Lalu melempar ponsel kesembarang arah demi meluapkan emosinya.


Aku membencimu Ellina! Aku membencimu!


*


*


*


Di apartemen, Ellina tampak sedang menata masakannya diatas meja. Dia memasak sendiri supaya lebih berkesan. Beruntung hari ini baby dalam perutnya bisa diajak bekerja sama hingga Ellina tak menemui kendala apapun saat memasak.


Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Ellina menoleh kearah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.


Jangan-jangan Zean sudah pulang.


Ellina langsung melihat penampilannya sendiri dari atas sampai bawah yang sudah pasti kumal. Lalu mencium badannya. Ternyata bau asap masakan.


Ya ampun! Apa dia harus menyambut suaminya seperti ini?!


Ellina yang sedang kebingungan, tersadarkan oleh bel yang terus berbunyi. Mau tidak mau ia pun bergegas membuka pintu. Dan benar saja Zean sudah berada dihadapannya dengan senyum mengembang.


"Zean! Kau sudah pulang?!" pekik Ellina. Meski sudah tahu Ellina tetap terkejut.


"Seperti yang kau lihat, aku sudah pulang sayang!" Zean melangkah masuk dan hendak mencium pipi Ellina, sementara kedua tangannya yang memegang bunga dia sembunyikan dibelakang. Namun siapa sangka secepat kilat Ellina malah memundurkan langkahnya sembari memegang kedua pipinya.


"Tidak Zean!" seru Ellina.


"Kenapa?" tanya Zean dengan bingung.


"Aku bau!"


Sontak Zean tertawa.


"Kau ini ada-ada saja!" ucapnya sembari menarik lengan Ellina kuat-kuat lalu mendaratkan kecupan dipipi kirinya.


"Zeaan!"


"Ini untukmu!"


Belum Ellina sempat protes, Zean sudah lebih dulu memberikan bunga pada wanita itu. Hingga membuatnya terpaku.


"Bunga?? Untukku?" tanya Ellina tak percaya.


"Hemm. Untukmu." jawab Zean. Lalu mencium pipi kanan Ellina.


Ellina pun menerimanya dengan senang hati. Lalu kemudian memeluk suaminya. Lupa kalau dirinya tadi sempat insecure karena merasa bau.


"Terimakasih sayang!" ucap Ellina.


"Sama-sama sayang."


Setelah mengurai pelukan, Zean meminta izin untuk membersihkan diri. Sementara Ellina kembali melanjutkan pekerjaannya menata makanan yang belum rampung di meja makan.


Namun ketika Ellina sedang fokus, tiba-tiba ia mendengar dering ponsel suaminya yang ia taruh diatas meja ruang tengah bersamaan dengan tas kerja Zean.


Seketika Ellina menghentikan aktifitasnya, berniat untuk mengangkat panggilan tersebut dan memberitahu pada si penelepon supaya menghubungi suaminya beberapa menit lagi, karena Zean kebetulan sedang mandi.


Akan tetapi, belum Ellina menggeser tombol berwarna hijau, telepon dari orang bernamakan Mr. Leo itu sudah mati. Dan tak lama ada pesan masuk.


Datanglah besok pagi ke apartemen. Ada yang ingin aku bicarakan. Penting!


"Mr. Leo?? Siapa dia?" gumam Ellina sambil mengerutkan kening.


.


.