
Tiga hari kemudian.
"Apa?! Ellina dipecat?!"
Tiara begitu terkejut saat mendengar kabar tentang Ellina dari rekan sejawat sahabatnya itu yang mengatakan bahwa Ellina sudah tidak bekerja lagi diperusahaan yang juga menjadi tempatnya bekerja.
Kebetulan memang sudah tiga hari ini Tiara tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Ellina, lantaran gadis itu begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Tapi kenapa?! Apa penyebabnya?" tanya Tiara dengan bingung.
Namun sayang teman seprofesi Ellina sama sekali tidak tahu menahu apa penyebab Ellina sampai dipecat oleh atasan mereka.
Tiara pun segera menghubungi Ellina melalui ponselnya. Akan tetapi nomor Ellina sama sekali tidak bisa dihubungi hingga membuat Tiara merasa khawatir.
"Ya Tuhan.. Kenapa nomornya tidak aktif!" gumam Tiara panik. "Apa lebih baik aku datangi saja kosannya?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Tanpa pikir panjang akhirnya Tiara memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal Ellina.
*****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, Tiara pun tiba di kos-kosan Ellina dengan menggunakan motor matic miliknya.
Ia segera membuka helm dan begegas melangkahkan kakinya menuju kamar sahabatnya itu.
Berkali-kali Tiara mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam. Hingga Tiara memanggil ibu kos yang tinggal tidak jauh dari kos-kosan itu untuk menanyakan tentang Ellina.
Ibu kos yang tidak tahu menahu segera memeriksa cctv yang terpasang dibeberapa area kosan-kosan. Tampak dilayar monitor, satu jam yang lalu Ellina berjalan memasuki kamar dan tidak keluar lagi.
Tiara yang semakin cemas meminta ibu kos untuk meminjamkannya kunci cadangan. Ia takut terjadi sesuatu pada Ellina didalam sana. Ibu kos pun mengangguk setuju.
Tiara yang berhasil membuka pintu dan memasuki kamar Ellina lebih dulu tampak begitu shock saat melihat keadaan sahabatnya.
Netranya membulat sempurna ketika melihat sang sahabat tergeletak dilantai. Dan tak jauh dari tempat Ellina terbaring terdapat pecahan gelas yang sudah berceceran kemana-mana.
Sontak Tiara berteriak histeris memanggil nama Ellina lalu berlari kearahnya. Ibu kos yang sejak tadi berdiri dibelakang Tiara ikut menyusul masuk kedalam.
"ELLINAA!!"
Tiara bersimpuh dan membawa sebagian tubuh Ellina kedalam dekapannya.
Ia menepuk-nepuk pelan kedua pipi Ellina berharap gadis itu membuka mata. Namun sayang Ellina sama sekali tak merespon panggilan Tiara.
"Sepertinya dia pingsan Nona!" ucap Ibu kos yang ikut khawatir dengan keadaan Ellina.
Sesaat Tiara menatap ibu kos lalu kembali melihat kearah Ellina.
"Kalau begitu tolong bantu aku untuk mengangkatnya ketempat tidur Bu! Setelah itu aku akan menghubungi dokter."
Ibu kos mengangguk. Ia segera membantu Tiara mengangkat tubuh Ellina keatas tempat tidur. Begitu selesai menyelimuti tubuh Ellina, Tiara yang sudah menghubungi dokter kenalannya segera membersihkan pecahan gelas yang berserakan dilantai.
Lalu memberi Ellina minyak angin untuk memancing kesadarannya.
******
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya dokter wanita yang dipanggil Tiara tiba juga dikosan.
Selama itu Ellina belum juga sadarkan diri. Tanpa membuang waktu sang dokter segera memeriksa keadaan Ellina.
"Bagaimana dok? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja?!" tanya Tiara dengan nada cemas.
Dokter menatap Tiara dan Ibu kos yang berdiri disampingnya secara bergantian. Lalu sang dokter tersenyum pada keduanya.
"Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya sarankan sebaiknya teman anda ini menjaga pola makan serta mengurangi aktifitas yang berlebih juga jangan terlalu banyak pikiran. Sebab hal itu bisa saja mempengaruhi kehamilannya." ucap sang dokter.
Bagai tersambar petir, Tiara dan Ibu kos saling pandang satu sama lain dengan tatapan tidak percaya.
Lalu kembali menatap sang dokter yang duduk disisi ranjang.
"A-apa dok?! Kehamilannya?!" tanya Tiara dengan bibir bergetar.
"Ya. Teman anda sedang hamil."
Deg.
.
.
Bersambung...