
"Bagaimana? Enak?" Ellina bertanya setelah memperhatikan Zean yang sedari tadi makan dengan lahap.
Padahal ini bukan pertama kalinya Ellina memasak untuk suaminya. Tapi entah kenapa kali ini Ellina sangat ingin mendengar pujian dari lelaki itu.
Dan tanpa berpikir panjang, Zean langsung menganggukkan kepala dengan cepat.
"Enak! Sangat enak. Masakanmu tidak pernah gagal sayang." puji Zean jujur. Karena memang masakan Ellina sangat pas dilidahnya. "Terimakasih karena kau sudah memasaknya untukku!" sambung Zean tulus. Dia pun kembali menyendokkan nasi beserta lauk kedalam mulutnya.
"Sama-sama sayang!" ucap Ellina sembari tersenyum senang. Zean yang sedang fokus menyantap makanannya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Oh iya, hampir saja aku lupa!" seru Ellina.
"Apa?" Zean melirik sekilas kearah istrinya sembil terus mengunyah.
"Barusan ketika kau sedang mandi, Mr. Leo menghubungimu."
Uhuk...uhuk...
Tiba-tiba saja Zean terbatuk hingga refleks makanan yang masih berada dimulutnya menyembur keluar. Melihat pemandangan tersebut jelas Ellina membelalakkan mata. Dengan segera dia berdiri kemudian mengambilkan air lalu memberikannya pada Zean.
"Pelan-pelan!" ucap Ellina sembari menepuk-nepuk pundak suaminya.
"Sudah. Aku tidak apa-apa. Terimakasih." jawab Zean setelah selesai minum. "Kau bilang apa tadi? Mr. Leo menghubungiku?" tanya Zean memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Ellina mengangguk.
"Ya. Tapi sayangnya aku tidak sempat mengangkatnya. Lalu tak lama dia meninggalkan pesan." tutur Ellina. Perempuan itu kembali duduk.
"Pesan apa?" sambar Zean cepat. Dia takut orang tersebut berkata macam-macam hingga bisa membuat hubungannya dengan Ellina berantakan. Sebab sesungguhnya Mr. Leo adalah Lyora.
Ya, Zean sengaja menamainya Mr. Leo untuk menghindari hal seperti sekarang ini. Dimana dia lupa menyimpan ponselnya dengan benar.
"Hmm.. Dia memintamu datang besok pagi ke apartemennya karena ada hal penting yang ingin dibicarakan." jawab Ellina.
Seketika Zean langsung memindai wajah Ellina. Dilihatnya baik-baik ekspresi istrinya itu dengan seksama. Tak ada gurat kemarahan didalamnya. Itu berarti Ellina belum tahu siapa Mr. Leo.
Syukurlah.
Zean menghela napas lega.
"Oh begitu rupanya" sekali lagi Zean meneguk air untuk mentralkan degub jantungnya yang berdetak kencang.
"Jika aku boleh tau, memangnya Mr. Leo itu siapa? Dan kenapa dia memintamu datang ke apartemennya?"
Deg.
Untuk kali kedua Zean tersentak kaget. Tapi sebisa mungkin lelaki itu menyembunyikan rasa terkejutnya atas pertanyaan Ellina lalu kemudian memasang ekspresi tenang.
"Mr. Leo... Dia adalah rekan bisnisku. Dia memintaku datang ke apartemennya mungkin hanya untuk membahas masalah pekerjaan sebab setahuku saat ini dia sedang sakit." dusta Zean. Entah ini sudah kebohongan keberapa yang dia lontarkan pada Ellina.
"Sedang sakit? Memangnya dia sakit apa?" tanya Ellina penasaran.
"Leukimia." jawab Zean singkat. Dalam hati Zean langsung mengutuk mulutnya yang sudah keceplosan menjawab.
"Ya Tuhan kasihan sekali!"
Sebelum Ellina bertanya lebih jauh, Zean mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Sudah jangan membahasnya lagi. Aku tidak ingin makan malam romantis kita diisi dengan membicarakan orang lain." ujar Zean. Ellina pun tak membantah. Perempuan itu kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
*
*
*
Keesokan harinya.
"Terimakasih sudah mau datang sepagi ini Zean. Maaf jika aku selalu merepotkanmu." ucap Lyora sembari mengulas senyum ramah lalu mendudukkan dirinya disofa, bersebelahan dengan sofa yang diduduki oleh Zean setelah dia menutup pintu.
Ya, saat ini Zean sedang berada di apartemen Lyora untuk memenuhi permintaan wanita itu.
"Tidak masalah. Hanya saja lain kali aku minta tolong pengertianmu untuk tidak menghubungiku diwaktu malam Lyora. Sebab siapa yang tahu jika suatu saat nanti Ellina akan mengangkat panggilanmu disaat aku sedang tidak memegang ponselku. Tentu hal itu bisa membuat kesalahpahaman diantara kami. Dan aku tidak ingin itu terjadi." jelas Zean panjang lebar.
Dia sengaja tidak menceritakan kejadian semalam secara gamblang dimana Ellina telah membaca pesan yang dikirim Lyora padanya, karena Zean tidak ingin memperpanjang masalah itu.
Sementara Lyora sendiri, wanita itu menatap Zean dengan perasaan getir. Rasa iri pada Ellina semakin menjadi, mengaliri hampir keseluruh pembuluh darahnya.
Apa secinta itukah Zean pada Ellina?
Secepat kilat Lyora langsung berdehem, menetralkan hatinya yang bergolak penuh ketersinggungan lalu memasang mimik wajah penuh rasa bersalah.
"Astaga! Maafkan aku Zean! Aku tidak berpikir sampai kesana. Karena ketidak sabaranku untuk memberitahumu, aku jadi bertindak gegabah. Tapi Ellina tidak tahu bukan kalau aku menghubungimu dan mengirimimu pesan?" tanya Lyora penasaran.
Padahal dalam hati dia ingin kalimat terakhirnya menjadi kenyataan. Dimana Ellina tahu bahwa dia sudah menghubungi Zean.
Namun sayangnya Zean menggelengkan kepala.
"Tidak. Dia tidak tahu." jawab Zean setengah berbohong. Ya, walaupun faktanya Ellina melihat dan membaca pesan yang dikirim Lyora, tapi wanita itu sama sekali tidak tahu jika sang pengirim pesan dan penelepon adalah Lyora.
"Syukurlah!" Lyora berpura-pura menghela napas lega.
"Jadi hal penting apa yang ingin kau beritahukan padaku, Lyora?" tanya Zean kembali ketujuan utamanya datang ke apartemen wanita itu. "Katakanlah, karena aku harus segera pergi kekantor."
Tentu Lyora tidak membuang waktu. Dia langsung menatap Zean dengan tatapan serius.
"Aku... Aku ingin kau mengizinkanku bekerja dikantormu Zean."
Deg.
"Apa?!"
.
.