
Sesaat setelah kepulangan Andita.
Zean segera menghubungi Darren untuk meminta bantuan sahabatnya itu guna mencari tahu tentang latar belakang Ellina sedetail-detailnya.
Zean ingin memastikan apa benar yang dikatakan Tiara bahwa Ellina dijual oleh pamannya sendiri hingga gadis itu bisa berakhir bersamanya dan bahkan kini tengah mengandung benihnya.
Sejujurnya Zean masih tidak percaya akan kehamilan Ellina. Zean berpikir, bagaimana mungkin perempuan ja lang itu bisa hamil, sedangkan mereka baru melakukannya satu kali?
Lagi-lagi pikiran buruk pun melintas dikepala Zean ketika ia menduga bahwa Tiara dan Ellina telah sengaja berbohong hanya untuk memerasnya.
Dan jika dugaannya benar, Zean bersumpah bahwa ia tidak akan segan-segan membuat kedua perempuan itu menyesal karena sudah berani bermain api dengannya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ponsel Zean berdering. Darren mengabarkan berdasarkan laporan dari anak buah ahli yang ditugaskannya untuk mencari tahu latar belakang Ellina secara lengkap, ia menyampaikan bahwa apa yang dikatakan Tiara itu benar adanya.
Ellina telah dijual oleh pamannya sendiri untuk melunasi hutang judi lelaki bejat itu.
Jelas Zean begitu terkejut. Apalagi ketika Darren menambahkan bahwa bisa jadi janin yang ada didalam kandungan Ellina itu adalah darah dagingnya.
Sebab setelah keluar dari kamar yang mereka tempati di klub pada malam itu, Ellina diketahui tidak pernah berkencan dengan lelaki manapun selain Zean.
Selain itu, demi memenuhi kebutuhan hidupnya Ellina bekerja sebagai office girl. Itu semua pun berkat bantuan Tiara. Tanpa Ellina tahu bahwa pemilik perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan Zean.
Mendengar semua penuturan Darren, entah kenapa Zean merasakan perasaan asing. Ia merasa... bersalah?
Ya, Zean merasa bersalah. Lantaran telah menuduh Ellina dan Tiara yang tidak-tidak.
Sekarang apa yang akan dia lakukan pada gadis itu?
Sambil berpikir, tiba-tiba Zean teringat akan pertemuan pertamanya dengan Ellina. Dimana perempuan itu tengah berlari ketakutan bahkan nyaris saja tertabrak oleh mobilnya.
Zean juga ingat bagaimana brutalnya ia menggagahi Ellina. Jelas semua kejadian itu menghapus keraguan Zean yang sebelumnya berasumsi jika Ellina adalah wanita penghibur. Zean menyadari bahwa disini Ellina hanyalah korban.
Akan tetapi masalahnya saat ini untuk bertanggung jawab pun rasanya Zean masih enggan, lantaran ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Ellina.
Dan ketika Zean dalam kebingungan tiba-tiba ia kembali teringat perkataan Darren.
Dengar, kau memiliki saudara perempuan brother! Bagaimana jika Zyl mengalami hal seperti yang gadis itu alami? Hamil tanpa memiliki suami? Apa kau sanggup melihatnya dicemooh oleh semua orang? Lagipula kau bisa menceraikan perempuan itu setelah ia melahirkan bukan? Ingat karma itu berlaku!
Refleks Zean mengusap kasar wajahnya seraya berdecak.
"Karma? Kenapa si brengsek itu jadi bawa-bawa karma?!" seketika perasaan Zean menjadi tidak nyaman.
Namun setelah dipikir-pikir perkataan Darren ada benarnya juga. Ia memiliki saudara perempuan yang sangat ia sayangi.
Zean tak ingin suatu hari nanti Zyl menanggung apa yang di perbuatnya pada Ellina.
Setelah berpikir cukup lama dan matang, akhirnya Zean memutuskan untuk bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu dengan cara menikahinya.
Hanya sebatas tanggung jawab! Tidak lebih! Dan setelah bayi mereka lahir, Zean bertekad akan segera menceraikan Ellina dan kembali kekehidupannya seperti semula.
.
.
Bersambung...