Painful Love Story

Painful Love Story
Calon Istri?


Tiga hari kemudian. Disebuah butik ternama.


"Ah, sepertinya gaun ini sangat cocok untuk Ellina!" ujar Zyl dengan ekspresi senang.


Ia langsung berjalan kearah Ellina yang saat ini tengah melihat berbagai macam gaun pengantin yang terpajang dimanekin.


Tanpa aba-aba Zyl menarik lengan Ellina lalu membawanya kedepan cermin dan memposisikan gaun yang ia bawa tadi kehadapan tubuh calon kakak iparnya.


"Wah indah sekali! Kau semakin cantik mengenakan gaun ini Ellina!" seru Zyl sambil tersenyum lebar.


Sesaat Ellina mematung. Memperhatikan dirinya dan gaun tersebut dari atas sampai bawah.


Gaun pengantin berwarna broken white itu memang terlihat sangat cantik dan anggun.


Ditambah dengan taburan aksen mutiara disekitarnya yang menambah kesan mewah dan elegan.


Namun sayang, Ellina tidak begitu menyukainya. Lantaran gaun itu memiliki model terbuka di bagian pundak dan dada yang tampak rendah.


Dengan tidak enak hati Ellina pun mengutarakan penolakannya secara halus pada Zyl.


"Sebelumnya aku minta maaf padamu Nona. Gaun ini memang sangat cantik dan indah. Tapi sepertinya ini terlalu terbuka, dan aku tidak bisa memakainya." ucap Ellina seraya tersenyum canggung kearah Zyl lewat pantulan cermin.


"Oh ayolah Ellina! Ini gaun pengantin! Kau hanya akan memakainya satu hari saja di hari pernikahanmu! Tidakkah kau ingin membuat kakakku terpesona hm?!" goda Zyl.


Mendengar ucapan calon adik iparnya itu sontak mata Ellina terbelalak. Tampak rona merah melintasi tulang pipinya.


"Nona!"


"Sstt! Jangan memanggilku nona lagi! Kau akan menjadi kakak iparku dan aku akan menjadi adik iparmu. Panggil saja aku Zyl, supaya kita lebih akrab, oke!" ucap Zyl sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mau tidak mau Ellina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kikuk.


"Jadi bagaimana? Kau mau kan mengenakan gaun ini?" sekali lagi Zyl mencoba membujuk Ellina.


Sayangnya Ellina langsung menggelengkan kepalanya dengan pasti.


"Tidak Non..ehm.. maksudku Zyl. Aku tidak ingin memakai gaun itu." jawab Ellina.


Zyl pun hanya bisa menghela napasnya.


"Hmm... Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa. Tunggulah disini, aku akan mencarikanmu gaun yang lain!" titah Zyl.


Zyl mulai berjalan menjauhi Ellina. Sementara Ellina hanya bisa memperhatikan punggung Zyl dari belakang sembari mengulum senyum.


Entah kenapa ia merasa sikap Zyl jauh lebih baik ketimbang calon suaminya, Zean. Padahal jika diingat keduanya adalah saudara kembar, namun mereka memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda.


Dimata Ellina, Zyl adalah sosok gadis cantik, baik dan periang. Tutur katanya pun selalu sopan dan lembut padanya. Dan Ellina merasa beruntung bisa mengenal Zyl.


******


Setengah jam berlalu, akhirnya Zyl mendapatkan gaun yang pas untuk Ellina.


Gaun pengantin panjang sederhana berwarna putih gading dengan model pundak dan dada tertutup juga tidak terlalu banyak aksen namun tetap terlihat anggun dan elegan menjadi pilihan Ellina.


Tampak Ellina sangat menyukai gaun tersebut. Dan tentu ekspresi Ellina tak luput dari pandangan mata Zyl. Hingga ia pun turut bahagia melihatnya.


Lelaki itu memang sengaja tidak ikut serta ke butik dan lebih memilih menyerahkan semuanya kepada sang ibu. Jelas Zean tidak begitu antusias. Sebab pernikahan yang akan ia jalani bukanlah pernikahan yang berlandaskan cinta.


Setelah selesai dengan urusan dibutik, Ellina dan Zyl berniat untuk pulang kerumah.


Sambil berjalan menuju parkiran mobil keduanya terus bersenda gurau layaknya kakak beradik.


Namun tiba-tiba Zyl menghentikan langkahnya diikuti dengan Ellina, saat Zyl tidak sengaja melihat Lyora berdiri dihadapannya.


"Lyora?!"


"Zyl?!" ucap keduanya nyaris bersamaan.


Sejenak keduanya saling bersitatap satu sama lain. Kemudian Lyora mengalihkan pandangannya pada Ellina yang juga tengah menatap kearahnya.


Awalnya Lyora hendak bersembunyi ketika sebelumnya ia sudah melihat keberadaan mantan calon adik iparnya itu lebih dulu. Ia merasa tidak punya nyali untuk menghadapi Zyl setelah apa yang ia lakukan pada Zean.


Namun mengingat semua yang terjadi padanya adalah ulah dari Tuan Wildan, yang tak lain adalah kakek dari gadis itu, akhirnya Lyora pun mengurungkan niatnya untuk bersembunyi.


"Senang bertemu denganmu disini Zyl!" sapa Lyora. Sebisa mungkin ia mencoba bersikap biasa saja.


Sekilas Zyl menoleh kearah Ellina lalu kembali menatap kearah Lyora dengan datar.


"Senang juga bertemu denganmu Lyora!" jawab Zyl.


"Apa kau baru selesai berbelanja Zyl?" tanya Lyora, karena tak sengaja ia melihat Zyl keluar dari butik.


"Hemm. Begitulah."


Lyora terdiam. Baru kali ini ia melihat Zyl bersikap tak acuh padanya. Dan jelas Lyora tahu apa yang membuat mantan calon adik iparnya itu bersikap demikian.


Tak ingin ambil pusing, Lyora mencoba tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok Ellina.


"Kau pasti teman Zylvania?! Perkenalkan aku Lyora!" ucap Lyora sambil mengulurkan tangannya pada Ellina.


Ellina tampak canggung, diliriknya Zyl yang berdiri disampingnya lalu ia pun membalas uluran tangan Lyora.


"Ehmm,,,aku Ellina."


"Calon istri Zean!" sambung Zyl cepat.


Duar


Bagai tersambar petir, tubuh Lyora seketika menegang. Senyum yang sedari tadi mengembang diwajahnya pun perlahan memudar.


"Ca-calon istri Zean?!" ucap Lyora dengan bibir bergetar.


.


.


Bersambung...