
Setelah kejadian memalukan beberapa waktu lalu, kecanggungan begitu terasa dimeja makan saat Zean dan Ellina tengah menikmati sarapan pagi bersama.
Tampak kedua insan itu saling fokus pada makanan masing-masing.
Sesekali Ellina melirik kearah Zean. Ia bisa melihat bagaimana tenangnya lelaki itu duduk dihadapannya seolah-olah tidak terjadi apapun.
Menikmati makanan yang ia sajikan dan memasukkannya sesuap demi sesuap kedalam mulut dengan santai.
Benar-benar seperti tak ada beban!
Sementara dirinya? Bahkan sampai detik ini masih terjebak rasa kesal dan malu lantaran mengingat kejadian menggemparkan yang terjadi didapur.
Pikirannya seketika menerawang saat mengingat tubuh Zean yang begitu ideal, rahang tegas, otot-otot lengan yang kekar, perut six pack dan bagian bawah yang...
Oh Ya Tuhan!
Stop Ellina!!!
Apa yang kau pikirkan!
Bisa-bisanya kau mengagumi tubuh lelaki yang sudah merenggut kesucianmu secara paksa?!
Seketika gadis itu memejamkan mata, menelan kasar saliva sambil menggeleng-gelengkan kuat kepalanya. Menepis segala pikiran kotor yang mungkin bisa membuatnya gila.
Buru-buru ia mengambil air putih yang ada dihadapannya lalu menenggaknya hingga tandas.
Tentu tingkahnya itu seketika menarik perhatian Zean.
Zean yang sedang menikmati makanan didalam mulutnya langsung memperlambat gerakan mengunyah-nya sembari menatap Ellina dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa?" tanya Zean.
"Ya?!" Ellina terhenyak.
Lantas ia terbengong menatap Zean.
"Euhm.. Ti-tidak.. Tidak apa-apa." jawab Ellina gugup sembari menyantap kembali makanannya.
Zean menarik ujung bibirnya. Sepertinya ia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Kau masih memikirkan kejadian didapur?"
Deg
Jelas pertanyaan Zean seketika membuat Ellina melebarkan bola matanya. Wajahnya memerah. Bahkan kini pandangannya bertemu dengan manik hazel milik Zean.
Tidak bisa disangkal, ayah dari calon anaknya itu memang sangatlah tampan. Andai sikapnya lebih baik sudah pasti ia akan jatuh cinta pada lelaki itu.
"Tidak! Siapa bilang aku memikirkan kejadian tadi?! Sama sekali tidak penting!" jawab Ellina cepat sambil melanjutkan kembali kunyahannya. Ia mengalihkan pandangan agar netranya tak terus bersitatap dengan Zean.
Zean tersenyum samar saat melihat ekspresi Ellina yang gugup dan salah tingkah.
Dugaannya pasti tidak salah. Gadis itu masih memikirkan kejadian didapur.
Sebenarnya dia pun sama. Sama-sama merasakan malu ketika tadi sempat tidak sengaja menampakkan tubuhnya yang nyaris tanpa sehelai benang pun dihadapan Ellina.
Namun ia sadar bahwa ia adalah pria dewasa yang sudah menikah.
Berpenampilan seperti itu dihadapan istri bukankah hal yang sah-sah saja?
Oleh sebab itu Zean tak terlalu memikirkan hal tersebut.
Zean terus mengamati wajah Ellina. Gadis itu terlihat begitu lucu dan menggemaskan ketika sedang merasa gugup.
"Apa kau masih sering mual?" tanya Zean mengalihkan topik pembicaraan.
"Hanya sesekali." jawab Ellina sembari mengelap mulutnya dengan tisue. Dia telah selesai dengan sarapannya.
"Kalau begitu tidak masalah bukan jika kita pergi berbelanja?"
"Berbelanja?"
"Hemm. Besok aku sudah mulai bekerja. Dan aku tidak mungkin meninggalkanmu tanpa bahan makanan. Aku tidak ingin anakku sampai kelaparan dan kekurangan gizi!" ucap Zean datar seraya memasukkan makanan terakhirnya kedalam mulut tanpa menoleh kearah Ellina.
Ellina terdiam. Entah kenapa hatinya selalu berdenyut nyeri setiap kali Zean menyebut calon anak mereka dengan sebutan 'anakku" atau 'anak itu'.
Terkadang ingin sekali Ellina mendengar lelaki itu menyebutnya dengan sebutan 'anak kita".
Tapi rasanya mustahil. Ellina sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapa yang bisa seenak jidatnya protes atau menuntut apapun. Statusnya hanya istri diatas kertas tidak lebih.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap."
"Hemm."
******
Dengan kecepatan sedang Zean melajukan mobil mewahnya membelah jalanan ibukota yang tampak cukup ramai.
Bahkan kondisi jalanan siang itu terlihat padat merayap. Maklum hari ini adalah hari minggu.
Dimana sebagian orang akan menghabiskan waktu liburannya bersama keluarga, teman, atau kekasih tercinta.
Tempat tujuan mereka pun beragam. Mulai dari taman, mall atau tempat hiburan lainnya. Yang jelas setelah selesai liburan mereka pasti akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
45 menit berselang akhirnya dua sejoli itu tiba disebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar.
Jika jalanan tidak terlalu ramai mungkin hanya akan memakan waktu selama 30 menit.
Zean menurunkan Ellina di lobby. Sementara dirinya mencari parkiran di basement.
Ketika Ellina sedang berdiri sambil menunggu kedatangan Zean tiba-tiba dari arah samping seorang anak kecil berusia lima tahun berlari dan tanpa sengaja kakinya tersandung anak tangga hingga membuatnya jatuh tersungkur kelantai.
"Awhh.." pekiknya. "Mommy!" tak lama anak lelaki itu berteriak histeris.
Jelas Ellina terkejut. Begitu juga dengan beberapa orang yang berlalu lalang didepan mall.
Karena posisi anak itu dan Ellina tak begitu jauh akhirnya Ellina-lah yang menolong anak tersebut.
"Kau tidak apa-apa sayang?!" perlahan Ellina merapatkan dress belakangnya lalu berjongkok menyetarakan tinggi dengan bocah kecil itu.
"Sakiiit! Hiks..hiks..hiks.." rintihnya sambil menangis dan memegangi lutut kanannya yang terluka.
"Tunggu sebentar!"
Sesegera mungkin Ellina membuka tasnya dan mengambil sebuah plester dari dalam sana.
"Kenzi!" terlihat seorang pria berlari kearah Ellina dan anak lelaki yang dipanggilnya Kenzi dengan raut wajah panik.
"Uncle Dev!"
.
.
Bersambung...
Mohon maaf otor belum bisa update teratur ππ Bentrok dengan jadwal kerja plus dari kmrn bapil jd ga konsen mau ngetik juga π’
Terimakasih yang sdh mau menunggu lanjutannyaπ Trmksh juga buat readers2 yg baik hati yang sudah kasih like, komen, hadiah dan votenya, semoga kalian sehat selalu πβ€ππππ