Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 58


Sore hari.


"Ayah sudah mendengar semua ceritanya dari Nenekmu dan Zyl. Ayah tahu kau kecewa. Tapi tidak baik jika kau sampai memutuskan hubungan kekeluargaan hanya karena masalah seperti ini, Zean. Jenguklah Kakekmu sebentar. Kau sudah tahu bukan kalau Kakekmu mengalami gagal jantung dan akan segera dioperasi?"


Zidan mencoba membujuk putranya yang masih enggan menemui ayahnya karena sakit hati. Ia tahu bahwa perbuatan ayahnya sudah sangat keterlaluan. Namun dia juga tidak ingin sang putra membenci kakeknya sendiri apalagi sampai memutuskan hubungan kekeluargaan diantara mereka.


Zean mengerutkan kening. Menatap sang ayah dengan tatapan tidak percaya.


Saat ini keduanya sedang berada ditaman rumah sakit. Setelah Zean mendapat maaf dari Ellina, sang ayah mengajaknya berbicara empat mata. Dan dia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan ayahnya itu dengannya.


"Ayah bilang apa? Hanya masalah seperti ini?" tanya Zean dengan nada tak suka. "Bukankah Ayah sudah tahu, kalau Kakek dan bajingan itu sudah mempermainkan hidupku dan Lyora? Bahkan karena perbuatan mereka, Lyora sampai harus kehilangan kehormatannya sebagai seorang perempuan! Apa Ayah tidak berpikir bagaimana kelak Lyora akan mendapatkan pendamping hidup yang mau menerima dirinya apa adanya setelah dia tidak sempurna lagi? Aku rasa keputusanku memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Kakek itu sudah tepat. Semua sebanding dengan apa yang diperbuatnya padaku dan Lyora!"


Tanpa ingin berdebat lebih jauh lagi, Zean segera bangkit berdiri dan berniat pergi dari taman, namun tiba-tiba pertanyaan Zidan selanjutnya menghentikan langkahnya.


"Apa dengan kau membenci Kakekmu, kau mendapat kepuasan Zean? Apa kau bisa mengembalikan keadaan seperti semula? Tidak kan? Jadi untuk apa kau memelihara rasa bencimu?"


Zean bergeming. Dadanya bergemuruh menahan rasa marah yang menyesakkan. Kemudian lelaki itu berbalik, menatap sang ayah dengan mata memanas.


"Aku memang tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula Ayah. Tapi aku ingin Kakek merasakan apa yang aku rasakan! Yaitu kehilangan orang yang dia sayangi."


Setelah mengatakan itu Zean kembali berbalik dan melangkah meninggalkan Zidan seorang diri.


*****


"Kau sudah siap?" tanya Zean ketika memasuki ruang rawat Ellina. Ekspresinya begitu sumringah berbanding terbalik saat dia berbicara dengan ayahnya tadi ditaman.


Sontak Ellina dan Andita yang tengah mengobrol langsung menoleh keasal suara. Ellina tersenyum lembut seraya menganggukkan kepala pada suaminya.


"Ya, aku sudah siap Zean."


"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang!" ajak Zean yang langsung membantu istrinya turun dari ranjang rumah sakit.


"Tapi aku ingin menjenguk Kakek dulu." ucap Ellina membuat Zean tanpa sadar menggertakkan giginya.


"Kita bisa menjenguknya nanti Ellina. Kau harus segera pulang dan beristirahat. Kondisimu masih lemah." jawab Zean beralasan.


"Kenapa harus nanti Zean? Kalian berada dirumah sakit yang sama dengan Kakek. Jenguklah Kakekmu sebentar." sela Andita. Ia tahu kemarahan sang putra pada kakeknya sudah diluar batas, tapi dia juga tak bisa membiarkan hubungan keduanya memburuk.


"Ibu mohon. Demi Ibu." lanjut Andita dengan nada memelas.


Zean menatap ibunya dengan perasaan jengkel. Zean tahu ibunya sengaja menggunakan rasa sayangnya pada sang ibu sebagai senjata untuk meluluhkan hatinya.


Dan benar saja, Zean tak bisa menolak permintaan Andita. Sekilas dia melirik Ellina yang juga menatapnya dengan tatapan memohon. Lalu lelaki itu menghela napas kasar.


"Baiklah, aku akan menjenguknya!"


*


*


Begitu melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang ICU, kesunyian seketika menyambut Zean. Hanya suara layar monitor pendeteksi detak jantung yang terdengar memenuhi sudut ruangan.


Zean memasuki ruangan ini seorang diri. Meskipun dia dan Ellina adalah cucu menantu dari pemilik rumah sakit tersebut, namun tetap ada peraturan yang harus dipatuhi. Yakni pasien hanya boleh dijenguk secara bergantian.


Perlahan Zean mendekatkan diri kearah brangkar tempat Tuan Wildan berbaring. Ditatapnya wajah yang tengah terpejam itu dengan seksama. Seketika perasaan sesak memenuhi rongga dadanya.


Dari lubuk hati yang paling dalam sejujurnya Zean tidak tega melihat keadaan sang kakek yang tampak sedang berjuang antara hidup dan mati. Dilihatnya berbagai macam peralatan medis yang terpasang ditubuh kakeknya dengan perasaan sedih luar biasa.


Tapi dia juga tak bisa menutup mata dengan apa yang sudah dilakukan sang kakek terhadap Lyora dan juga dirinya.


Katakanlah dia baik-baik saja.


Bahkan Zean bersyukur, karena setelah apa yang dilaluinya, dia bisa menemukan cintanya pada Ellina.


Tapi Lyora....


Setelah kejadian itu perempuan itu terpuruk. Masa depannya hancur. Bahkan Zean baru tahu jika Lyora mengidap leukemia sejak setahun lalu. Dan itu menambah daftar rasa bersalahnya pada perempuan itu.


Akhirnya tak urung Zean membungkukkan tubuhnya, mengusap lembut kepala Tuan Wildan seraya berbisik ditelinga pria tua itu.


"Bangunlah Kek. Kembalilah berkumpul bersama kami."


*


*


Sepanjang perjalanan pulang, Zean dan Ellina tampak bahagia. Senyum indah terukir diwajah masing-masing.


Namun senyuman dibibir Ellina perlahan memudar kala mereka tiba diapartemen. Apalagi ketika Zean membukakan pintu untuknya.


Tubuh Ellina mematung ketika kelebatan bayangan dimana Zean mengurungnya kembali terlintas dikepalanya.


Sementara Zean yang berdiri dibelakang Ellina mengerutkan kening dengan bingung saat mendapati sang istri tak juga melangkahkan kakinya masuk kedalam.


"Ada apa Ellina?" tanya Zean.


Ellina mengerjap lalu menggeleng pelan.


"Tidak ada."


Dia pun melangkah masuk kemudian menatap sekeliling. Dan pandangannya berhenti tepat pada pintu kamar Zean yang sedikit terbuka. Netranya merendah, lalu dilihatnya sebuah bingkai yang tergeletak dibawah dengan pecahan beling berserakan disekitarnya.


Zean yang baru saja menutup pintu dan berbalik balik badan refleks mengikuti arah pandang Ellina.


Matanya melebar saat menyadari bahwa dia belum membereskan pecahan bingkai foto pernikahan mereka yang di bantingnya tadi pagi.


"Sebaiknya kau istirahat dikamarmu!" Zean mencoba mengalihkan perhatian Ellina. Menyentuh kedua pundak perempuan itu lalu mengarahkannya kekamarnya. Akan tetapi Ellina malah bergeming.


"Bukankah itu bingkai foto pernikahan kita Zean?" tanya Ellina. "Kenapa bisa ada dilantai?"


Zean memejamkan mata seraya menipiskan bibir. Sudah pasti Ellina akan merasa terluka saat tahu dia yang merusak foto itu.


"Aku tidak sengaja membantingnya." jawabnya jujur.


Sontak Ellina membalikkan tubuh hingga keduanya saling berhadapan.


"Kenapa?" tanya Ellina dengan nada menuntut.


Zean menangkup pipi Ellina, lalu menatap dalam bola mata perempuan itu dengan perasaan bersalah.


"Karena pagi tadi aku begitu marah. Aku marah, karena sewaktu aku pulang aku tidak menemukanmu dikamarku. Aku berpikir kau melarikan diri bersama Devan. Jadi... jadi aku meluapkan emosiku dengan menghancurkan foto pernikahan kita. Sungguh aku tidak berniat melakukan itu Ellina. Tapi kau tenang saja. Aku berjanji aku akan mengganti bingkainya dengan yang baru."


Ellina menatap Zean dengan kecewa. Perlahan ia melepaskan tangan Zean dari wajahnya.


"Ini bukan tentang bingkainya Zean. Tapi tentang kepercayaanmu padaku. Apa kau pikir aku serendah itu dengan melarikan diri bersama pria lain?"


"Ellina." Zean hendak meraih tangan Ellina namun secepat kilat Ellina menepisnya. Ternyata hormon kehamilan membuatnya lebih sensitif.


Baru beberapa menit lalu mereka berdamai dan sekarang sudah terjadi drama baru.


"Asal kau tahu, didalam sana aku dan anakmu bertaruh nyawa karena kau mengurung kami semalaman! Tapi kau malah menuduhku yang tidak-tidak! Dimana sebenarnya pikiranmu itu?!" tanya Ellina dengan emosi. Sepertinya baru kali ini dia berani melawan suaminya.


Tanpa ingin mendengar jawaban Zean, Ellina segera berbalik dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Saat Zean hendak mengejar Ellina tiba-tiba ponselnya berdering. Zean sempat mengumpat karena ia merasa si penelepon menghubunginya diwaktu yang tidak tepat.


Namun ketika dia tahu bahwa itu adalah telepon dari rumah sakit tempat Lyora dirawat, barulah ekspresinya berubah tegang.


"Baiklah. Saya akan segera kesana!"


.


.