Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 53


"Nenek!" seru Zyl ketika dirinya baru saja tiba di rumah sakit milik keluarga mereka.


Sejak ambruknya Tuan Wildan, Nyonya Liyana yang panik segera menghubungi Zyl karena ia tidak mungkin menghubungi Zidan dan Andita yang saat ini tengah berlibur ke London. Ia takut membuat putra dan menantunya itu khawatir.


Nyonya Liyana yang sedari tadi duduk sambil menangis tersedu-sedu didepan ruang rawat suaminya, seketika mendongak saat mendengar suara cucu perempuannya. Ia langsung berdiri dan menghambur kearah Zyl.


"Zyl!" lirih Nyonya Liyana saat berada dipelukan sang cucu.


"Bagaimana keadaan Kakek, Nek?" tanya Zyl dengan nada cemas.


"Nenek tidak tahu. Sejak tadi Adrian belum juga keluar." jawab Nyonya Liyana dengan terisak.


Zyl mencoba menenangkan sang nenek dengan mengusap lembut punggungnya, kemudian kembali membawanya duduk.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kakek bisa dilarikan kerumah sakit?"


Nyonya Liyana berusaha mengusai diri. Setelah cukup baik, ia mulai menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang terlewat hingga membuat Zyl tercengang dan tidak bisa berkata-kata.


"Kakek..."


Zyl tidak menyangka jika kakeknya adalah orang yang membuat hubungan Zean dan Lyora hancur. Wajar saja jika Zean sampai marah dan kecewa pada kakek mereka. Mungkin jika ia ada diposisi Zean, dia pun akan melakukan hal yang sama.


Zyl tampak terdiam, namun tiba-tiba ia terpikirkan Ellina.


"Apa Zean datang bersama kakak ipar, Nek?"


Nyonya Liyana yang kembali menangis menggeleng pelan.


"Tidak. Dia datang sendiri."


Zyl kembali tertegun. Mendadak ia mengkhawatirkan perempuan itu. Zyl sangat tahu bagaimana sifat saudara kembarnya. Jika Zean sudah dikuasai oleh amarah maka lelaki itu tak bisa berpikir jernih.


Zyl takut Zean akan menyakiti Ellina. Bukan tanpa sebab ia begitu khawatir, karena yang ia tahu, Zean tidak pernah menginginkan Ellina. Dan mungkin saja setelah semua ini terungkap Zean akan kembali pada Lyora.


"Sebentar Nek, aku akan menghubungi Kakak ipar."


Nyonya Liyana menjawab dengan anggukan. Berulang kali Zyl mencoba menghubungi nomor Ellina namun tetap tidak tersambung hingga kekhawatirannya semakin menjadi.


"Nek, nomor Kakak ipar tidak aktif. Aku takut terjadi sesuatu padanya." ucap Zyl dengan nada dan raut cemas.


"Coba kau datangi apartemen mereka. Nenek juga mengkhawatirkan Ellina." jawab Nyonya.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Nenek sendiri."


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Zyl memutuskan untuk pergi. Namun baru saja ia membalikkan tubuh tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka.


"Adrian!" seru Nyonya Liyana dan Zyl bersamaan. Keduanya langsung menghampiri putra dari Ken dan Stella itu.


"Bagaimana keadaan suamiku?!" tanya Nyonya Liyana.


Sejenak Adrian terdiam sembari memperhatikan Nyonya Liyana dan Zyl secara bergantian.


"Adrian! Cepat jawab bagaimana keadaan Kakekku!" sentak Zyl tak sabar.


Tampak Adrian menghela napas berat sebelum akhirnya ia menjawab.


"Tuan Wildan... Beliau mengalami gagal jantung."


"APA?!"


Nyonya Liyana dan Zyl tampak terkejut. Namun Zyl lebih terkejut lagi saat melihat neneknya pingsan.


"Nenek!"


Dengan sigap Adrian membantu Zyl menahan tubuh Nyonya Liyana.


*****


Begitu tiba didepan apartemen milik Lyora, Zean langsung menekan bel. Terdengar suara batuk dari dalam membuat Zean dirayapi rasa khawatir. Ia hendak mengetuk pintu namun tiba-tiba pintu terbuka dan langsung menampakkan sesosok wanita yang memang ingin ia temui.


"Lyora."


Deg.


"Zean."


Lyora begitu terkejut mendapati pria yang selama ini ia rindukan tiba-tiba berdiri dihadapannya. Keduanya saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Dan sedetik kemudian Zean langsung menghambur memeluk wanita itu.


"Lyora...Maafkan aku." ucapnya sambil menangis.


.


.