
Ditempat berbeda, Ellina terlihat mondar-mandir diruang keluarga dengan ekspresi gusar. Satu tangannya menggenggam ponsel ditelinga sementara tangan yang lain mengusap perutnya yang mulai buncit.
Sedari tadi perempuan itu terus berusaha menghubungi suaminya yang sampai detik ini belum juga pulang.
Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dimana seharusnya Zean sudah tiba di apartemen mereka beberapa waktu lalu setelah berakhirnya jam pulang kantor.
Sebenarnya kemana suaminya itu? Tidak biasanya Zean menghilang tanpa kabar seperti ini!
Benak Ellina mulai dirayapi perasaan tidak enak. Sementara pikirannya sudah melayang kemana-mana.
Sebelumnya Ellina sempat menghubungi kantor Zean untuk menanyakan keberadaan suaminya itu, sayangnya salah satu staff Zean mengatakan jika direktur utama mereka telah meninggalkan gedung sejak siang tadi untuk menemui klien.
Siang tadi. Pantas Zean tidak pulang untuk makan siang bersamanya. Tapi bukan itu yang jadi masalah.
Seharusnya jika memang Zean tengah sibuk dengan segala urusan pekerjaannya, bukankah lelaki itu bisa mengabarinya sebentar saja supaya dirinya tidak merasa khawatir? Tapi ini sama sekali tidak!
Bahkan pesan yang Ellina kirim sejak sore tadi untuk mengajak lelaki itu pergi bersama kerumah sakit demi menjenguk kakek mereka yang telah sadarkan diri dari koma pun, sampai detik ini belum juga dibaca.
Tentu hal tersebut membuat Ellina semakin tidak tenang.
Apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada Zean?!
Ekspresi Ellina seketika berubah pias ketika membayangkan sesuatu yang buruk menimpa suaminya. Namun secepat kilat Ellina menggelengkan kepala demi menepis pikiran-pikiran buruk tersebut.
"Tidak! Zean pasti baik-baik saja!" ucap Ellina mencoba menenangkan diri.
*
*
Menjelang dini hari.
Kening Zean berkerut dalam ketika rasa sakit luar biasa menghantam keras kepalanya seolah ada palu besar yang memukul-mukulnya tanpa ampun hingga membuatnya meloloskan erangan kecil.
Secara spontan Zean meremas rambutnya demi mengurangi rasa sakit yang mendera.
Namun bukannya berkurang, rasa sakit itu semakin menjadi tatkala gendang telinganya menangkap suara isak tangis yang membuatnya terusik hingga dengan terpaksa Zean mencoba untuk membuka mata.
Sambil meringis, perlahan-lahan Zean yang tidur dengan posisi terlentang menolehkan kepalanya kesamping, dan sedetik kemudian netranya melebar dipenuhi keterkejutan luar biasa saat mengetahui bahwa suara isak tangis itu berasal dari wanita yang sangat dia kenali.
"Lyora?!" pekik Zean kaget.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanyanya seraya bangkit dari berbaring. Kemudian netra Zean beralih pada tubuh Lyora yang hanya tertutupi selimut sampai dada, sehingga menampakkan pundak mulus wanita itu. Barulah setelahnya Zean menatap kearah dirinya sendiri yang tak mengenakan apapun.
Astaga! Apa yang sudah terjadi?!
Zean langsung mengarahkan pandangannya kesekeliling ruangan dan sekali lagi ia terhenyak saat menyadari bahwa ini bukanlah kamarnya, melainkan kamar...
"Lyora?!" sekali lagi Zean memanggil saat pandangannya kembali berlabuh kearah wanita itu.
"Katakan apa yang terjadi?!"
*
*
Bagai tersambar petir tubuh Zean menegang kaku saat Lyora menceritakan semua yang terjadi diantara mereka sepanjang malam ini.
Zean tidak percaya kalau dirinya akan melakukan tindakan amoral untuk kedua kalinya dan itu lagi-lagi terjadi disaat dirinya mabuk!
Bahkan demi membuktikan apa yang dikatakannya, Lyora sampai memperlihatkan jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan Zean disekitar area leher jenjangnya sembari menahan isak tangis.
Demi apapun, Zean mengutuk dirinya dalam hati. Bukankah itu berarti dia telah mengkhianati pernikahannya bersama Ellina?!
Astaga!
Zean mengusap wajah kasar lalu menjambak rambutnya dengan frustasi.
Seandainya dia tidak mengiyakan ajakan Tuan Akiko, sudah pasti kesialan ini tidak akan terjadi.
Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus dia lakukan?!
Ternyata mudah sekali membuat Zean percaya pada perkataannya. Lelaki itu benar-benar berpikir kalau dirinya telah menyatukan diri dengan Lyora.
Padahal yang sebenarnya tidak.
Lyora teringat kejadian beberapa jam lalu, dimana ketika Zean hendak menyatukan diri dengannya, lelaki itu tiba-tiba muntah dan ambruk diatas tubuhnya akibat mengalami hangover.
Tentu Lyora merasa kesal dan kecewa lantaran Zean tak sadarkan diri tepat disaat lelaki itu membuat tubuhnya terbakar gairah. Namun Lyora berusaha mengendalikan diri karena meskipun Zean tak jadi menyatu dengannya, pada akhirnya lelaki itu tetap akan berakhir dalam jebakannya.
Memikirkan bahwa rencananya untuk memiliki Zean sebentar lagi akan berhasil, Lyora jadi tidak sabar untuk menjalankan rencana selanjutnya.
"Bagaimana ... Bagaimana jika nanti aku hamil?"
Pertanyaan Lyora yang diucapkannya lambat-lambat dengan nada lirih sembari menundukkan kepala sontak menarik perhatian Zean. Lelaki itu menoleh dan menatap Lyora dengan ekspresi kaget bercampur kebingungan yang nyata.
Namun tak lama Zean menjawab dengan cepat dan tegas.
"Maka aku akan bertanggung jawab!"
Deg.
Seketika Lyora mengangkat kepalanya hingga tatapannya bersirobok dengan Zean. Tampak ketidakpercayaan dalam sorot mata Lyora ketika mendengar jawaban Zean yang diucapkan lelaki itu tanpa pikir panjang.
Zean akan bertanggung jawab? Apa itu berarti Zean akan menikahinya? Kalau begitu... Kalau begitu rencananya untuk kembali memiliki Zean benar-benar akan terwujud!
Lyora bersorak sorai dalam hati. Rasanya ingin sekali ia melompat kearah Zean, memeluk lelaki itu dengan erat jika saja ia tidak ingat bahwa dia harus menjaga sikapnya supaya Zean tak curiga.
Dan beruntung Lyora tidak melakukan itu. Karena belum selesai Lyora bergembira, Zean tiba-tiba melemparkan bom tak kasat mata yang membuat impian wanita itu hancur seketika.
"Hanya saja aku minta maaf padamu Lyora, aku tidak bisa bertanggung jawab dengan menikahimu."
Duar!
Lyora tampak terkejut luar biasa.
"Apa?! A-apa maksudmu Zean?" tanya Lyora dengan suara bergetar.
*
*
Prang!
Sepeninggal Zean, Lyora tak menahan-nahan untuk meluapkan emosinya. Wanita itu membanting apa saja yang ada dihadapannya demi menyalurkan emosi yang menggayuti jiwanya.
Bagaimana mungkin Zean mengatakan tidak akan menikahinya dan hanya akan bertanggung jawab secara finansial saja jika sampai nanti dirinya hamil?
Bajingan!
Satu kata itu yang melintas dalam benak Lyora. Parahnya Zean mengakui itu sebelum Lyora benar-benar memakinya.
Ya, Zean lebih baik disebut bajingan oleh Lyora dari pada harus menyakiti Ellina yang sedang hamil dengan menikahi Lyora.
Sungguh kali ini Lyora benar-benar merasa kecewa pada Zean dibanding ketika lelaki itu memutuskan hubungan percintaan dengannya.
Sebenarnya apa yang dilakukan Ellina sehingga Zean sebegitu tunduknya pada wanita itu?!
Lyora merasakan sesak memenuhi rongga dadanya. Sementara netranya sedari tadi sudah basah oleh air mata.
Sekarang apa lagi yang harus dia lakukan untuk bisa menjerat Zean menjadi miliknya?
Ketika pikiran Lyora nyaris buntu, tiba-tiba wanita itu mengingat sesuatu.
Dengan gerakan cepat Lyora segera menyeka air matanya kemudian meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
Dibukanya benda pipih itu dengan tergesa-gesa dan tak lama kemudian senyum jahat muncul diwajah Lyora saat menemukan apa yang dicarinya.
"Zean... Kau bilang kau tidak bisa meninggalkan Ellina? Baiklah! Kalau begitu biarkan aku yang membuat Ellina pergi meninggalkanmu!"