Painful Love Story

Painful Love Story
Saran Darren


"Sekarang katakan Ell, apa yang sudah terjadi padamu?!" tanya gadis yang diketahui bernama Tiara.


Dia adalah sahabat sekolah Ellina sewaktu mereka masih duduk dibangku SMA.


Saat ini keduanya tengah berada disebuah coffe shop yang tak jauh dari tempat mereka bertemu.


Tiara memulai pembicaraan setelah mereka memesan dua gelas minuman.


Sementara Ellina masih diam sambil menundukkan kepala. Ia bingung harus memulai cerita darimana pada sahabatnya itu.


Meski mereka sudah saling mengenal cukup lama, namun ini pertama kalinya mereka kembali bertemu setelah kelulusan sekolah beberapa tahun silam.


Dan rasanya Ellina sangat malu jika ia tiba-tiba harus menceritakan kejadian naas yang telah menimpanya pada sahabatnya itu.


"Ell..." panggil Tiara menyadarkan Ellina dari lamunannya.


Ellina mendongak dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat.


"Aku.. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana Ra. Karena ini sangat memalukan dan sangat menyakitkan." lirih Ellina.


Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan tangis seraya kembali menurunkan pandangannya.


Saat Tiara hendak bersuara untuk menjawab, seorang waitress datang mengantarkan pesanan mereka.


"Terimakasih!" ucap Tiara ketika waitress itu sudah menaruh minuman diatas meja dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.


"Minumlah dulu Ell agar kau tenang. Setelah itu ceritakan semua masalahmu. Aku akan mendengarkannya. Bukankah kita sahabat? Aku akan membantumu jika aku mampu." ucap Tiara tulus.


Ellina menatap Tiara dengan tatapan sendu. Sejak dulu Tiara selalu baik padanya.


Dan lagi, saat ini Ellina memang membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran untuk meringankan sedikit beban pikirannya.


Setelah menyeruput sedikit minumannya, Ellina menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Lalu ia mulai menceritakan semua yang dialaminya pada Tiara.


Tak ada satupun yang terlewat. Meski Ellina harus bercerita dengan terbata-bata dan berderai airmata.


Bahkan Tiara yang mendengarkan cerita Ellina pun ikut terhanyut sampai-sampai ia mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya.


"Kenapa Pamanmu kejam sekali Ellina?! Apa kau tidak berniat melaporkannya pada polisi?!" tanya Tiara geram.


"Seandainya aku bisa, aku pasti sudah melaporkannya sejak dulu Ra. Sayangnya aku tidak memiliki keberanian." lirih Ellina sembari menghapus cairan bening dikedua pipinya.


"Lalu sekarang kau tinggal dimana? Tidak mungkin kan kau kembali tinggal dengan pamanmu?!" selidik Tiara.


Ellina menggeleng pelan.


"Tidak Ra. Saat ini aku tinggal disebuah kos-kosan yang tidak jauh dari sini. Tapi aku rasa aku harus kembali kekontrakan pamanku."


Seketika Tiara mengerutkan keningnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ellina.


"Untuk apa Ell?! Bagaimana jika pamanmu menangkap dan menjualmu lagi pada pria hidung belang?!" Tiara nampak tak setuju dengan keputusan Ellina.


Sementara Ellina diam sejenak. Kemudian menghela nafas berat.


"Aku harus kembali untuk mengambil ijazahku yang tertinggal Ra. Aku membutuhkannya untuk melamar pekerjaan."


Ellina mengangguk.


"Ya, aku membutuhkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupku kedepan Ra. Sudah dua hari ini aku mendatangi beberapa toko yang tengah membuka lowongan kerja. Namun tak ada dari mereka yang mau menerimaku dengan alasan aku tak memiliki ijazah." jawab Ellina dengan wajah muram.


Mendengar hal tersebut Tiara merasa iba. Ia nampak berpikir kemudian menatap Ellina lamat-lamat.


"Uhm, sebenarnya diperusahaan tempatku bekerja sedang membuka lowongan Ell. Tanpa ijazah aku bisa membantumu masuk kesana. Tapi aku rasa pekerjaan itu tidak cocok untukmu."


Seketika netra Ellina berbinar. Ia membalas tatapan Tiara dan tersenyum penuh minat.


Ellina meraih tangan sang sahabat yang berada diatas meja lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya.


"Pekerjaan apapun itu asalkan halal, tidak masalah bagiku Ra. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Karena saat ini aku benar-benar membutuhkan uang untuk menyambung hidup." jawab Ellina dengan wajah memelas.


Awalnya Tiara nampak ragu mengatakannya.


Namun saat melihat tatapan Ellina yang penuh harap akhirnya ia pun menawarkan pekerjaan itu pada sang sahabat.


*****


"Bagaimana?! Apa kau sudah memberinya pelajaran?!" tanya Zean dingin.


Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang kerjanya diikuti oleh Darren yang berjalan dibelakangnya.


Zean menaruh tas kerjanya diatas meja, lalu mendudukan dirinya dikursi.


Raut wajah datar dan angkuh ia tunjukan pada rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu.


"Aku tidak bisa menyentuh perusahaannya! Dia seperti mendapat perlindungan dari seseorang yang berpengaruh." jawab Darren sambil menghempaskan tubuhnya disofa dan menaruh tas kerjanya disampingnya.


"Kusarankan lebih baik kau lupakan saja balas dendammu itu! Tidak ada gunanya menaruh dendam. Itu hanya memperburuk hidupmu!" saran Darren.


Zean menaikkan satu alisnya dan tiba-tiba pria tampan itu tertawa sinis.


" Apa katamu?! melupakan?! Mudah sekali kau bicara! Bagaimana jika ba jingan itu meniduri kekasihmu dan kau memergoki mereka?! Apa kau akan diam saja? Apa kau akan melupakan semuanya?!"


"Asal kau tahu, ini menyangkut harga diriku sebagai seorang lelaki yang sudah injak-injak olehnya!"


"Jika kau tidak mampu memberinya pelajaran, katakan saja! Aku akan mencari orang lain untuk menghancurkannya! Jadi kau tidak perlu repot-repot memberiku saran!" ucap Zean sarkas seraya menyorot tajam sahabatnya itu.


"Terserahlah! Yang jelas aku sudah memberitahumu!" Darren tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Zean. Karena dirasa percuma.


Sahabatnya itu sedang patah hati. Jadi wajar jika ia masih merasa marah pada mantan kekasih dan juga rival bisnisnya itu.


Darren pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan hendak keluar dari ruangan Zean.


Daripada harus melihat wajah tampan, arogan yang sedang marah itu lebih baik ia ke pantry untuk membuat minuman sekalian mencuci mata melihat wanita-wanita cantik diperusahaan sahabatnya.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukungannya yaa syg2 akuhh, kopi, bunga, love juga bolehh, makasihhh ❤❤❤