
Wajah yang awalnya menegang menahan gugup, seketika berubah menjadi merah merona. Pipinya bersemu, matanya berbinar. Bahkan kini tampak senyumnya merekah dikedua sudut bibirnya.
Sungguh Ellina tak menyangka jika Zean akan memberikan setangkai bunga padanya.
Bunga mawar merah yang mungkin semua orang didunia ini juga tahu, bahwa bunga tersebut merupakan salah satu lambang cinta.
Bahagia? Tentu saja Ellina bahagia.
Kapan lagi ia bisa mendapatkan bunga dari pria yang sangat dicintainya dalam diam.
Tapi untuk apa Zean memberinya bunga?
Tidak mungkin tidak ada alasan.
Tak ingin ambil pusing, Ellina menatap bunga didepannnya lalu bertanya memastikan.
"Untukku?" Ellina memandang Zean lekat. Berharap semuanya bukanlah fatamorgana.
"Ya untukmu." jawab Zean.
Seketika senyum Ellina mengembang.sempurna. Lantas ia meraih bunga mawar tersebut, menghirup aromanya begitu dalam.
Melihat respon Ellina yang sangat antusias, jelas membuat Zean merasa senang. Ternyata sesederhana itu membahagiakan seorang wanita. Apalagi wanita yang dicintainya.
Kau benar-benar membuatku jatuh cinta Ellina.
Namun tak lama Zean terhenyak saat mendengar jeritan kecil dari bibir pujaan hatinya.
"Awh! Sssshh.." Ellina memekik seraya meringis kesakitan.
"Ellina! Ada apa?!" tanya Zean panik. Ekspresinya berubah khawatir. Zean bangkit dari berbaringnya lalu mendudukkan diri disamping tubuh Ellina yang masih terbaring diatas ranjang.
Ia meraih tangan gadis itu lantas mengeceknya.
"Astaga! Jarimu terluka!" pekik Zean saat melihat ada setitik darah yang keluar dari jemari Ellina.
Ternyata jari telunjuk Ellina tertusuk duri yang ada ditangkai bunga tersebut.
Tanpa permisi Zean langsung memasukkan jari Ellina kedalam mulutnya lalu menghisapnya agar cairan berwarna merah itu berhenti mengalir.
Sontak Ellina terperangah oleh tindakan Zean. Ia hendak menarik mundur tangannya kebelakang namun Zean menahan tangan itu hingga membuat Ellina terpaku.
"Zean hentikan! Aku tidak apa-apa!" ucap Ellina merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa bagaimana?! Kau tidak lihat jarimu berdarah! Diamlah!" ketus Zean. Ia memelototi Ellina hingga gadis itu menunduk.
Kemudian Zean kembali melanjutkan aktifitasnya, sampai darah itu berhenti mengalir.
"Seharusnya kau berhati-hati!"
Zean meniup pelan telunjuk Ellina lalu mengusapnya dengan lembut.
"Maaf!" lirih Ellina.
Sesaat keduanya terdiam. Zean yang awalnya fokus pada jemari Ellina kini mengalihkan pandangannya kewajah gadis itu.
Dilihatnya raut Ellina yang sendu. Sejenak Zean menarik nafas dalam. Mencoba menetralkan rasa khawatir yang sempat menerjangnya.
Kemudian Zean mengepalkan tangan Ellina yang terluka dengan tangannya, lalu mengecupnya begitu mesra.
"Aku yang seharusnya minta maaf! Seandainya aku tak membelikanmu bunga berduri itu mungkin kau tidak akan terluka seperti ini. Maafkan aku!" sesal Zean.
Deg
Ellina tertegun. Netranya bergerak melirik lelaki dihadapannya.
Apa aku tidak salah dengar?!
Dia meminta maaf padaku?!
Ellina berdehem.
"Kenapa jadi kau yang meminta maaf? Aku yang tidak hati-hati. Aku lupa kalau mawar itu berduri. Tapi tidak masalah, aku sangat menyukainya. Bukankah itu lambang cinta?"
Blushh..
Lambang cinta?!
Wajah Zean merah padam. Ia baru sadar bahwa niatnya memberi bunga sebagai tanda permintaan maaf, malah terlihat seperti ia sedang mengungkapkan cinta saat ini.
"Siapa bilang?!" tukas Zean cepat. Berusaha menutupi kegugupannya. Padahal jantungnya didalam sana mulai dag dig dug ser tak karuan.
Ia segera melepaskan genggamannya dari tangan Ellina, lalu membuang pandangannya kesembarang arah.
Ellina yang merasa lucu melihat ekspresi Zean, terkekeh tanpa suara. Lantas ia bangun dari pembaringannya menyamakan posisinya dengan Zean menjadi duduk.
"Aku yang bilang." jawab Ellina santai.
Zean menoleh. Pandangan mereka bertemu. Dan entah darimana gadis itu mendapatkan keberanian, sekilas Ellina mengecup bibir Zean.
Cup
"Terimakasih untuk bunganya!"
Zean mematung. Namun ia segera tersadar ketika Ellina hendak beranjak dari tempat tidur.
"Ahh! Zean!" Ellina memekik saat Zean menarik tangannya dan menjatuhkan kembali tubuhnya keatas ranjang.
"A-aku m-mau mandi!" jawab Ellina terbata.
"Setelah mencuri ciuman dariku, kau mau pergi begitu saja?! Lancang sekali! Bahkan aku belum sempat membalasnya."
Seketika netra Ellina membola. Wajahnya berubah pias. Ia menelan kasar salivanya.
"Ma-maafkan aku! Aku tidak bermaksud lancang! Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, itu saja tidak lebih!"
"Tidak lebih? Bagaimana jika aku menginginkan lebih?"
"Apa?!"
Zean segera mengunci kedua tangan Ellina agar gadis itu tak melawan. Membuat jantung Ellina berdebar kencang menahan was-was.
Ya Tuhan... Seharusnya aku tidak memancingnya! Sekarang aku benar-benar dalam masalah!
Zean menelisik manik mata Ellina begitu dalam. Dengan sedikit memiringkan kepalanya, perlahan Zean mendekatkan wajahnya pada wajah Ellina.
Ellina yang tak bisa bergerak akhirnya hanya bisa diam dan pasrah. Ia memejamkan mata karena sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sepersekian detik kemudian bibir mereka saling menyatu. Zean melu mat bibir Ellina dengan lembut. Menghisapnya seperti nikotin yang membuatnya candu.
Sesekali ia menggigit bibir Ellina agar mulutnya terbuka. Ellina yang terbawa arus permainan membalas cumbuan Zean. Membuat adrenalin Zean semakin terpacu dan semakin memperdalam ciuman itu.
Keduanya saling menyesap dan membelit lidah dengan penuh gairah.
Bahkan sekujur tubuh Zean mulai terasa panas seolah menginginkan lebih, namun sebisa mungkin ia berusaha mengendalikan diri.
Meski Ellina selalu memberinya kepuasan diatas ranjang, bukan berarti ia akan terus mengekspresikan perasaannya pada Ellina seperti ini.
Zean mulai berpikir untuk menjalin hubungan yang serius dengan gadis itu.
Ia ingin dirinya dan Ellina bisa seperti layaknya pasangan lain. Saling mengenal kepribadian masing-masing. Saling memahami dan mengisi. Juga saling terbuka dan melengkapi.
Ah...Bukankah jika hal itu terwujud akan sangat membahagiakan?
Apalagi ketika Zean mengingat bahwa mereka akan segera memiliki momongan. Semuanya pasti akan terasa begitu lengkap.
Setelah sesi ciuman panas berlangsung cukup lama, Zean melepas pagutan bibirnya. Mencoba mengatur nafasnya yang masih memburu. Begitupun dengan Ellina.
Keduanya terengah-engah. Pandangan mereka yang berkabut saling menatap begitu dalam.
Dengan suara serak Zean berkata.
"Mari kita berkencan!"
******
Berkencan?!
Ini seperti mimpi bagi Ellina. Tentu tanpa ragu Ellina menganggukan kepalanya menerima ajakan Zean.
Siang itu juga mereka pergi bersama ke salah satu mall terbesar dipusat kota yang terdapat bioskop disana. Mereka akan menonton film yang sedang hits.
Sejak keluar dari mobil Zean terus merangkul bahu Ellina. Sementara Ellina melingkarkan tangannya dipinggang Zean. Sesuai permintaan lelaki itu. Hingga tak ada jarak diantara mereka.
Zean menyuruh Ellina untuk duduk dikursi tunggu, sedangkan dirinya mengantri dengan para pengunjung lain untuk membeli tiket.
Ellina memperhatikan pria itu dari jauh. Tampan, tinggi, tegap, gagah entah kata apalagi yang pas mewakili fisik tubuh Zean dImata Ellina.
Pria itu benar-benar sempurna. Dan pria sempurna itu adalah suaminya. Sayangnya Zean tetaplah Zean. Pria arogan yang suka seenak jidatnya melakukan apapun.
Lihatlah, tanpa bertanya mau atau tidak pria itu tahu-tahu sudah kembali dengan mengatakan bahwa ia sudah menyewa satu studio bioskop untuk mereka tempati.
"Zean! Apa ini tidak berlebihan?" protes Ellina.
Zean mengernyit.
"Berlebihan?!" sesaat ucapannya terjeda.
"Tentu saja tidak!" jawabnya acuh. Ia mendudukkan diri disamping Ellina seraya menggenggam tangan Ellina.
"Aku sengaja menyewanya agar kencan kita berjalan dengan lancar, tanpa pengganggu."
Refleks Ellina menoleh kearah pria itu. Menatapnya terkejut sekaligus tersipu.
"Kenapa? Kau tidak suka?!" tanya Zean yang juga menoleh kearah Ellina. Segera Ellina memalingkan wajahnya kearah lain.
"Tidak. Aku hanya bertanya saja." jawab Ellina gugup. Zean tertawa kecil sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Ayo kita masuk! Sebentar lagi filmnya akan dimulai!"
Ellina mengangguk, lantas keduanya beranjak dari tempat duduk. Namun saat akan melangkah tiba-tiba suara bariton seseorang mengejutkan mereka.
"Oo jadi kau yang menyewa studio itu brother?! Benar-benar menyebalkan!"
Tiba-tiba Darren muncul bersama kekasih barunya dihadapan Zean dan Ellina. Membuat Zean berdecak kesal.
Ckk! Sialan! Kenapa aku harus bertemu si brengsek ini diwaktu yang tidak tepat?! umpat Zean.
.
.
Bersambung...