
Dengan tangan gemetar, Lyora menatap Ellina lekat-lekat. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang tengah berjabat tangan dengannya saat ini adalah calon istri Zean, lelaki yang sangat dicintainya. Tentu kenyataan itu membuat perasaan Lyora menjadi hancur berkeping-keping.
Jadi ... Jadi perempuan ini yang akan dijodohkan dengan Zean?
Disisi lain Ellina yang berpikir bahwa Lyora adalah sahabat baik Zyl berusaha tersenyum seramah mungkin meskipun sejujurnya ia merasa kurang nyaman ketika Zyl memperkenalkannya sebagai calon istri Zean. Namun Ellina tak bisa mengelak karena memang itulah faktanya.
Cukup lama keduanya berjabat tangan, hingga membuat Ellina sedikit kebingungan dengan sikap Lyora yang dirasa aneh. Terlebih lagi Ellina merasakan bahwa jari jemarinya saat ini tengah diremas halus oleh Lyora.
"Senang berkenalan denganmu, Ellina." ucap Lyora dengan suara tersendat sambil terus memindai wajah Ellina.
"Senang juga bisa berkenalanmu denganmu Lyora." balas Ellina.
Lyora pun segera melepaskan jabatan tangan mereka dan berusaha menormalkan ekspresinya sembari memasang senyum palsu.
"Kapan kau dan Zean akan menikah?" tanya Lyora setelah bisa menguasai diri.
"Minggu depan." bukan Ellina yang menjawab melainkan Zyl.
Deg.
"Apa?! Minggu depan?!" pekik Lyora.
"Ya minggu depan. Oh ya, Ellina sebaiknya kita pulang sekarang. Bukankah masih banyak hal yang harus kita kerjakan?!" ucap Zyl yang langsung mengalihkan perhatiannya pada Ellina.
Ellina yang sejak tadi merasa canggung pun mengangguk setuju.
"Maaf Lyora, sepertinya kami harus pergi. Semoga harimu menyenangkan."
Tanpa banyak bicara Zyl segera menarik tangan Ellina dan meninggalkan Lyora yang masih mematung dengan sejuta rasa sesak didada.
"Zean akan menikah?" lirih Lyora.
"Tidak! Zean tidak boleh menikahi wanita itu! Aku tidak akan membiarkan rencana Tuan Wildan berhasil setelah dia merusak masa depanku dan memisahkanku dengan Zean! Aku harus segera memberitahu Zean bahwa kakeknyalah dalang dibalik hancurnya hubungan kami. Ya aku harus segera memberitahu Zean, harus!" ucap Lyora dengan panik.
******
Ditengah perjalanan pulang, lewat ekor matanya beberapa kali Ellina melirik kearah Zyl yang tengah fokus menyetir mobil.
Entah kenapa Ellina merasa setelah bertemu dengan Lyora sikap calon adik iparnya itu seketika berubah menjadi dingin.
Seperti ada rasa marah yang terpendam. Tapi kenapa? Dan siapa Lyora tadi? Apa keduanya memiliki masalah?
Beragam pertanyaan muncul dibenak Ellina, namun Ellina lebih memilih diam. Sebab ia merasa apapun yang terjadi antara Lyora dan Zyl bukanlah urusannya. Hingga akhirnya didalam mobil itu tercipta keheningan yang cukup lama.
"Dia mantan kekasih Zean." ucap Zyl tiba-tiba hingga membuat Ellina terhenyak dan menoleh kearahnya.
"Ya?!"
"Kau ingin tahu siapa gadis tadi bukan? Dia mantan kekasih Zean, calon suamimu!" ulang Zyl.
"Oh." jawab Ellina singkat.
Pantas saja sikap Lyora tadi sangat aneh. Bahkan dia begitu terkejut saat tahu bahwa Zean akan menikahiku.
"Aku tidak menyukainya semenjak mereka putus." sambung Zyl.
Ellina tampak diam tak menyahuti ucapan Zyl.
Zyl pun mengerutkan kening lalu sekilas menoleh kearah Ellina.
"Kau tidak ingin tahu kenapa aku tidak menyukainya dan kenapa mereka bisa putus?" tanya Zyl.
Ellina tersenyum simpul.
"Untuk apa? Itu hanya masa lalu bukan?"
"Ya, memang benar! Tapi.. Ah sudahlah! Lagipula memang tidak penting juga kita membahasnya. Lebih baik sekarang aku antar kau pulang, karena aku masih ada urusan lain diluar." terang Zyl.
"Kalau begitu turunkan saja aku disini Zyl. Aku akan ketempat sahabatku dulu untuk memberinya undangan." ucap Ellina.
"Apa tempat sahabatmu masih jauh dari sini?"
"Lumayan. Aku akan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi."
"Ck! Bagaimana mungkin aku membiarkanmu naik taksi seorang diri?! Kau kan sedang hamil. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu juga pada calon keponakanku. Jadi sebaiknya aku mengantarmu sampai tempat tujuan." tegas Zyl.
Ellina tersenyum samar. Ia tak membantah perkataan calon adik iparnya itu. Sebab ia tahu apa yang dilakukan Zyl semata-mata demi menjaga keselamatannya.
"Baiklah jika kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak."
******
Satu hari menjelang pernikahan.
Disebuah cafe kawasan elit.
Zean tengah menyorot tajam seorang wanita yang duduk dihadapannya dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, benci jadi satu.
Siapa lagi wanita itu jika bukan Lyora. Wanita yang dulu pernah merajai hatinya sekaligus wanita yang juga menghancurkan mimpinya untuk membangun mahligai rumah tangga.
Beberapa kali Zean menendang kasar udara dihadapannya mencoba menetralisir amarahnya. Sementara kedua tangannya bersedekap didepan dada dengan kaki menyilang.
"Katakan apa yang ingin kau katakan! Aku tidak punya banyak waktu." ucap Zean dingin setelah cukup lama mereka terdiam.
Lyora tersenyum getir. Sejenak ingatannya kembali kemasa lampau dimana dulu Zean selalu bersikap hangat padanya. Tapi sekarang...
"Aku dengar besok kau akan menikah. Benarkah?" tanya Lyora setelah mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
Mendengar pertanyaan dari sang mantan kekasih, Zean tampak tersenyum sinis.
"Jadi hanya karena ini kau sampai nekat datang kekantorku dan memohon untuk bertemu?"
"Zean."
"Ya, besok aku akan menikah! Kenapa? Kau ingin mengucapkan selamat? Jika berkenan kau juga boleh datang ke acara pernikahanku. Dengan senang hati aku akan memperkenalkanmu pada calon istriku!"
Sontak dada Lyora semakin sesak mendengarnya.
"Apa kau mencintai gadis itu?"
"Apa perlu aku menjawabnya?!"
"Tidak perlu! Aku yakin kau tidak mencintainya. Kau terpaksa menerima perjodohan ini hanya untuk mengalihkan rasa sakit hatimu dariku bukan? Dengar Zean, aku pun sama sakit hatinya denganmu. Seandainya Kakekmu tidak melakukan hal kotor itu, mungkin hubungan kita tidak akan berakhir seperti ini."
Deg.
Sontak Zean terkejut mendengar ucapan Lyora. Ia langsung menurunkan kakinya dan mencondongkan tubuhnya kedepan sembari menatap wanita itu dengan tajam.
"Apa maksudmu?! Berani sekali kau mengatai Kakekku melakukan hal kotor?!" tanya Zean dengan rahang mengeras.
"Jelas-jelas hubungan kita berakhir karena pengkhianatan yang sudah kau lakukan padaku. Apa kau lupa kalau kau sudah tidur dengan pria brengsek itu dibelakangku?!" desis Zean. Tampak kilat kemarahan dimanik hazelnya.
Dengan mata berkaca-kaca Lyora pun mencoba menyentuh lengan Zean, namun secepat kilat Zean menepis tangan itu dan menarik mundur tubuhnya kebelakang.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu Zean! Tidak pernah. Asal kau tahu, semua masalah yang terjadi diantara kita itu semua terjadi karena ulah Kakekmu. Kakekmu membayar Devan untuk menjebakku. Beliau ingin memisahkan kita Zean. Dan...dan mereka berhasil... Mereka berhasil membuatmu meninggalkanku. Dengar Zean, kau harus mempercayaiku. Selama ini Kakekmu hanya berpura-pura baik dan merestui hubungan kita padahal sebenarnya tidak. Dia tidak pernah menyukaiku karena latar belakangku yang tidak sepadan denganmu." terang Lyora panjang lebar.
Namun sayangnya Zean sama sekali tak mempercayai perkataan Lyora.
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan Lyora? Kau sudah menuduh seseorang yang selama ini sudah sangat baik terhadapmu. Apa kau bisa memberikan bukti jika Kakekku melakukan hal kotor seperti yang kau tuduhkan?" tantang Zean.
"Bukti?"
"Ya, bukti. Apa kau bisa memberikanku bukti atas tuduhanmu itu? Jika kau memiliki bukti maka aku akan mempercayaimu."
"Zean, aku memang tidak memiliki bukti, karena waktu itu aku tidak sempat merekam ..."
"Kalau begitu semua yang kau katakan adalah omong kosong! Berani sekali kau menuduh Kakekku melakukan hal kotor, sementara kau sendiri yang melakukan hal kotor dan rendah." hardik Zean.
"Zean ini bukan omong kosong!"
"Cukup Lyora! Jangan sampai aku mempermalukanmu didepan umum." geram Zean seraya mencengkram kuat lengan Lyora hingga perempuan itu meringis kesakitan.
"Waktumu sudah habis. Kuperingatkan jangan pernah lagi datang menemuiku karena aku sudah muak denganmu. Dan satu hal yang perlu kau tahu, wanita yang akan kunikahi adalah wanita pilihanku sendiri jadi aku sama sekali tidak merasa tertekan dengan pernikahan ini. Justru sebaliknya, aku merasa sangat bahagia mendapatkannya. Jadi buang jauh-jauh rencana busukmu untuk menggagalkan pernikahan kami, jika tidak, maka aku akan memberikanmu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan! Mengerti?!"
Dengan kasar Zean menghempaskan lengan Lyora dan segera bangkit dari duduknya.
Dan tanpa banyak bicara ia bergegas pergi dari cafe tersebut.
"Kau akan menyesali keputusanmu Zean. Kau akan menyesalinya." lirih Lyora dengan berlinang air mata.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like, komen, hadiah dan votenya yaa kakak2 yg baik hati ❤❤❤ terimakasiih