Painful Love Story

Painful Love Story
Menginginkannya


"Ellina... Jika aku menginginkannya malam ini, apa kau bersedia?"


Deg


"Ma-maksudmu?" tanya Ellina terbata. Ia balik mengamati bola mata Zean lekat-lekat. Tampak terlihat tatapan lelaki itu berkabut.


"Aku ingin meminta hakku!"


Sontak Ellina terkesiap. Gadis itu membeliak dengan mulut sedikit terbuka.


Belum Ellina menjawab perlahan tapi pasti Zean sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya pada Ellina. Menempelkan bibirnya lalu melu mat bibir gadis itu dengan sangat lembut.


Hangat. Mungkin itu yang pertama kali Ellina rasakan saat bibir mereka kembali bertaut.


Ellina diam terpaku. Ia tak membalas. Masih mencerna dengan apa yang terjadi. Hingga akhirnya Zean menarik pinggangnya untuk lebih merapat barulah Ellina tersadar.


Gadis itu berusaha menghindar. Namun sayang, tangan Zean sudah lebih dulu menahan tengkuk lehernya.


"Ehmpp.. Zean..."


Ellina mencoba mendorong dada Zean kebelakang. Namun selangkah saja tubuh lelaki itu sama sekali tak bergeser.


Zean tetap pada posisinya. Dan malah semakin memperdalam ciumannya pada Ellina.


Dengan gerakan lembut Zean memainkan bibir itu begitu lihai.


Ia menye sap, melu mat, menikmati setiap inci sudut bibir Ellina dengan penuh hasrat. Bahkan kini lidahnya sudah memasuki rongga mulut gadis itu. Mengajak lidah gadis itu untuk saling membelit.


Lambat laun perlawanan Ellina melemah. Netranya mulai sayup. Ia terbuai dan akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti alur permainan Zean dengan memegang pinggangnya.


Melihat respon Ellina yang sudah tak lagi memberontak, tentu Zean merasa senang.


Malam ini ia benar-benar menginginkan gadis itu. Menyalurkan hasrat kelelakiannya yang sejak siang tadi ia pendam.


Zean merapatkan tubuh Ellina kemeja pantry. Lantas dengan satu tangan ia menyingkirkan semua barang yang ada diatasnya, lalu mengangkat tubuh Ellina dan mendudukkan Ellina disana tanpa melepas pagutan bibir mereka.


Tangan kanan Zean mulai aktif. Secara perlahan ia menangkup dan meremas dada Ellina dari luar secara bergantian.


"Sshh...ahhh..."


Ellina mende sah kala Zean melakukan hal tersebut berulang. Serasa gelenyar aneh menghantam jiwanya.


Apalagi kini bibir Zean sudah berpindah keceruk lehernya, menyesapnya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.


Sungguh Ellina mengutuk dirinya sendiri kala ia tak bisa mengontrol mulutnya yang terus meracau mengeluarkan de sahan-de sahan menjijikan. Hatinya ingin menolak namun respon yang diberikan tubuhnya justru terbalik.


Tubuh itu menikmati dan seolah menginginkan lebih.


Ini gila!


Namun faktanya itulah yang Ellina rasakan. Sentuhan Zean sangat berbeda dengan sentuhan yang laki-laki itu berikan ketika pertama kali mereka bertemu.


Kala itu Zean melakukannya dengan sangat kasar dan penuh paksaan. Hingga membuat Ellina dilanda trauma dan ketakutan luar biasa.


Tapi sekarang, trauma dan rasa takut itu seolah lenyap seketika. Saat Zean memperlakukannya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Seolah-olah dia adalah barang berharga yang harus dijaga dan tak boleh sampai cacat.


Mendapatkan respon yang diharapkan, Zean semakin terbakar api gairah.


Ia membuka kancing kemeja Ellina satu persatu, melepas kemeja itu dan membuangnya kelantai. Dan yang terakhir Zean membuka pengait yang masih membungkus dada Ellina. Hingga kini dua benda kenyal itu terpampang sempurna.


"Sshhh.. Aahh..Zean..."


Ellina membusungkan dadanya sambil meremas rambut lelaki itu kala Zean memasukkan pa yu da ranya kedalam mulut. Menghisap pu tingnya seperti bayi yang tengah kehausan.


Cukup lama Zean bermain dikedua dada Ellina, ia kembali me lu mat bibir gadis itu. Lalu menggendongnya seperti koala dan membawanya kedalam kamar pribadinya.


Dengan perlahan Zean merebahkan tubuh Ellina diatas ranjang. Ia menatap wajah Ellina begitu dalam.


Dimatanya gadis itu benar-benar cantik.


Setelah puas memandang, Zean segera bangkit berdiri. Secepat kilat ia melepas pakaiannya dengan tergesa-gesa.


Kemudian ia membuka celana Ellina yang masih melekat ditubuh gadis itu berikut dengan kain berbentuk segitiga miliknya yang langsung dilempar Zean entah kemana.


Dengan tatapan sayu, nafas tersengal dan jantung berdebar kencang Ellina menatap tubuh Zean lamat-lamat.


Ia menelan kasar salivanya. Tubuh lelaki itu benar-benar sempurna ditambah dengan paras wajahnya yang tampan, membuat wanita mana saja pasti akan menggila dibuatnya.


Kini Ellina telah polos dihadapan Zean. Berkali-berkali jakun lelaki itu naik turun saat melihat pemandangan yang begitu indah didepan mata.


Zean kembali mengunci tubuh Ellina. Perlahan jemarinya menelusuri paha gadis itu, menghantarkan gelenyar aneh yang seketika membuat tubuh Ellina bergetar hebat.


"Akhh.." Ellina memekik kecil kala Zean tiba-tiba memasukkan jarinya kedalam lubang miliknya.


"Yeah...mende sahlah..Ellina.." bisik Zean parau.


Zean mulai memaju mundurkan jarinya dengan ritme teratur. Awalnya ia melakukannya secara perlahan namun lambat laun gerakan itu semakin lama semakin cepat membuat Ellina menggila.


Tubuh Ellina menggelinjang merasakan sensasi nikmat tiada tara. Kedua tangannya mencengkram sprei saat ia merasakan sesuatu di bawah sana akan tumpah.


"Ahh.. Zean...hentikan.. Aku..aku tidak tahan.." ucap Ellina dengan nafas tersengal.


"Keluarkan sayang..aku menunggu.." jawab Zean begitu sensual memenuhi pendengaran Ellina.


Dan benar saja, tak lama Ellina mendapatkan pelepasannya. Ia mencoba mengatur nafasnya sebaik mungkin.


Zean tersenyum puas. Ia menautkan bibirnya ke bibir Ellina. Mereka kembali berciuman.


"Aku akan masuk." ucap Zean disela ciuman panas itu. Seketika Ellina memegang tangan Zean. Sorot matanya yang sayu menatap penuh permohonan.


"Tolong lakukan dengan perlahan." pinta Ellina.


"Sure."


Zean memahami ketakutan Ellina. Dia sadar dirinya yang sudah membuat gadis itu trauma.


Namun kali ini ia berjanji ia akan melakukannya dengan lembut karena ada calon anak mereka didalam sana.


Zean mulai mengarahkan miliknya pada milik Ellina. Hanya sekali hentakan milik lelaki itu tenggelam sempurna.


"Ahhh.." de sah Ellina saat ia merasakan sesuatu memenuhi bagian intinya.


"Sshh... Ouhh... Ellinaa..Kau benar-benar sempit."


Zean ikut melenguh menikmati sensasi luar biasa pada miliknya. Ia mulai memaju mundurkan pinggulnya memompa tubuh Ellina secara perlahan.


Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berganti. Hampir dua jam kedua sejoli itu saling bertukar peluh dan saliva. Bahkan Ellina sudah berkali-kali mendapat pelepasannya, namun lelaki yang menggagahinya urung jua mendapatkan pelepasan itu.


"Aah..Zean..aku..ahh..aku..lelah.." ucap Ellina terbata ditengah gempuran yang membombardir tubuhnya.


"Tahanlah sebentar.. Sebentar lagi.."


Zean terus memacu Ellina dan menghentak intinya berkali-kali hingga sampai bagian terdalam. Bahkan ia menambah kecepatannya agar segera sampai pada puncaknya.


Setelah beberapa waktu Zean merasa sesuatu miliknya akan meledak. Ia meraih kedua telapak tangan Ellina merematnya hingga jemari mereka saling bertautan.


"Ellinaaa...Ssshh.. Aahhh.." Zean menggeram tertahan.


Tubuhnya bergetar. Ia mengerang sembari mendongakkan kepalanya keatas. Netranya terpejam dan menggigit bibir bawahnya menahan nikmat.


Dibawah kungkungan Zean, Ellina hanya bisa pasrah. Ia begitu kewalahan melayani permainan lelaki itu. Namun Ellina tak menampik bahwa dirinya pun menikmatinya.


Setelah hasrat itu tertuntaskan, Zean menatap dalam wajah Ellina dengan nafas terengah-engah. Posisi lelaki itu masih sama, diatas Ellina. Keduanya saling menatap dalam diam.


"Terimakasih Ellina! Kau sungguh luar biasa." puji Zean. Ia tersenyum lalu mengecup dahi, mata, pipi, hidung, dan bibir gadis itu secara bergantian.


Tampak Ellina terkejut oleh tindakan Zean. Meski hatinya menghangat tapi ia masih tak percaya jika Zean akan bersikap semanis ini padanya.


Ellina tersenyum kaku. Ia bingung harus menjawab apa.


Mungkinkah dia berterimakasih karena aku telah melayaninya dengan baik? ~batin Ellina.


Zean menjatuhkan tubuhnya kesamping. Ia mengatur nafas sebaik mungkin. Kemudian ia menarik selimut, lantas membalikkan tubuh Ellina menghadapnya.


Ia memeluk tubuh itu begitu erat bahkan mencium pucuk kepala Ellina dengan khidmat.


Meski ragu Ellina membalas pelukan Zean. Ia memberanikan diri melingkarkan tangannya kepinggang lelaki itu. Sangat nyaman.


Lambat laun netra keduanya memberat. Hingga akhirnya mereka pun terlelap dalam mimpi indah.


.


.


Bersambung...


Haii readersku sayang mohon maaf otor baru bisa update lagi πŸ™πŸ˜ž


Seminggu lalu otor baru aja kena musibah kebanjiran huhu mengsedih 😒 Makanya otor fokus dulu sama dunia nyata. Mau menulis pun jadi ga konsen. Idenya terpecah. Jadi harap maklum aja yaa πŸ™ Maaf sudah membuat kalian menunggu upnya yang sangat2 lama hehe


Insyaa Allah mulai hari ini akan rutin up lagi walau hanya 1 bab.. Terimakasih buat readersku yang setia menunggu πŸ™β€ semoga kalian sehat selalu.