
Satu bulan kemudian.
"Baiklah aku akan segera kesana!" Zean menutup ponselnya setelah ia selesai menerima panggilan telepon dari Zyl. Dengan sigap lelaki itu beranjak dari duduk dan melangkah keluar ruangan.
Tepat ketika pintu dibuka, Zean dikejutkan oleh Lyora yang tengah berdiri dihadapannya dengan tangan terkepal diudara.
"Lyora? Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Zean sambil mengangkat sebelah alisnya.
Lyora yang sama terkejutnya segera menurunkan tangannya lalu tersenyum kikuk.
"Oh, maaf Tuan! Aku baru saja akan mengetuk pintu untuk mengantarkan berkas-berkas ini pada anda sekaligus memberitahu bahwa jam 4 sore nanti kita akan ada pertemuan dengan Tuan Akiko dari Jepang untuk membahas proyek di Osaka." jawab Lyora cepat sembari menunjukkan beberapa map yang dibawanya.
Kebetulan selama satu minggu ini David sedang cuti, maka dari itu Lyora-lah yang menggantikan segala tugas lelaki itu.
Ya, tidak terasa sudah satu bulan Lyora bekerja di perusahaan Zean sebagai kaki tangan David.
Awalnya Zean menolak mentah-mentah permintaan Lyora yang meminta bekerja diperusahaannya, lantaran dia begitu mengkhawatirkan kondisi wanita itu yang masih dalam masa pemulihan.
Bahkan demi membuktikan bahwa dirinya benar-benar bertanggung jawab, Zean sampai menawarkan segala fasilitas dan kemewahan hidup kepada Lyora setelah tahu bahwa usaha fitness wanita itu telah gulung tikar, asalkan Lyora mengurungkan niatnya untuk bekerja.
Sayangnya Lyora menolak tawaran Zean dengan dalih bahwa dirinya tidak ingin dikasihani. Padahal tentu saja Lyora memiliki niat lain.
Bukankah dengan bekerja diperusahaan Zean, dia jadi bisa memiliki banyak waktu untuk dekat dengan pria itu?
Pada akhirnya Zean yang memang tidak tahu niat licik Lyora memilih mengalah dan membiarkan Lyora bergabung diperusahaannya tanpa sepengetahuan Ellina.
Mendengar Lyora yang masih saja memanggilnya dengan sebutan Tuan, seketika Zean menghembuskan napas kasar.
"Bukankah sudah sering kubilang untuk tidak memanggilku Tuan?" ucap Zean memperingatkan.
Lyora tersenyum simpul. Lalu sedikit mendekatkan tubuhnya pada Zean.
"Bagaimana mungkin aku memanggilmu tanpa embel-embel Tuan jika kita sedang berada dikantor? Seandainya karyawan lain mendengar, mereka akan men-cap ku sebagai karyawan baru yang tidak punya sopan santun." jawab Lyora dengan berbisik.
Zean tersenyum masam.
"Baiklah terserah kau saja! Oh ya, taruh saja berkas-berkas itu dimejaku. Aku akan menandatanganinya nanti. Sekarang aku harus pergi." ujar Zean memberitahu.
"Pergi kemana?" tanya Lyora cepat. Dia tidak mau kalau sampai Zean meninggalkannya lagi hanya untuk makan siang bersama Ellina seperti yang sudah-sudah. Jika itu terjadi, maka kali ini Lyora bertekad untuk menggagalkannya.
Namun ternyata jawaban Zean membuatnya merasa lega.
"Aku akan ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek. Barusan Zyl mengabarkan jika Kakek sudah sadarkan diri. Setelah dari rumah sakit baru aku akan kembali kekantor dan mengambil berkas-berkas itu untuk menemui Tuan Akiko." jelas Zean. Lelaki itu kemudian melihat jam dipergelangan tangannya. "Sebaiknya aku pergi sekarang!"
"Tunggu Zean!"
Zean yang baru selangkah meninggalkan Lyora langsung berbalik dan menatap kearah wanita itu penuh tanya.
"Ada apa?"
Lyora tampak ragu.
"Hmm... Bolehkah aku ikut?"
*
*
Didalam ruang rawat, Lyora duduk disamping brankar sembari menatap datar kearah Tuan Wildan yang saat ini tengah terbaring lemah diatas ranjang.
Kondisi lelaki tua renta itu tampak memprihatinkan dengan berbagai alat medis yang terpasang ditubuhnya.
Tuan Wildan baru sadarkan diri setelah satu minggu lalu melakukan operasi jantung. Meski begitu, beliau belum mampu berinteraksi seperti biasa.
Sayangnya pemandangan tersebut tak mampu menggetarkan hati Lyora yang sudah tertutup oleh rasa sakit hati tak terperi hanya untuk sekedar berempati.
Ketika Zean keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon dari klien, ekspresi Lyora seketika berubah kelam, menatap Tuan Wildan yang tengah memandang kosong langit-langit kamar dengan penuh rasa benci.
"Kenapa Anda tidak mati saja Tuan, bukankah akan lebih baik jika anda mati? Dengan begitu anda tidak perlu lagi merasa bersalah." desis Lyora setelah sebelumnya memastikan pintu ruangan benar-benar tertutup supaya tidak ada seorang pun yang mendengar ucapannya. Sementara Tuan Wildan hanya bergeming.
Sekarang disaat dirinya memiliki kesempatan berbicara berdua dengan Tuan Wildan, tentu Lyora tidak akan menahan-nahan diri untuk meluapkan segala emosi yang selama ini dipendamnya.
"Ah, sepertinya aku tahu kenapa anda tidak ingin cepat-cepat mati. Pasti anda ingin melihatku dan Zean kembali bersatu bukan?" Lyora terkekeh.
"Anda tenang saja, semua itu pasti akan terjadi. Aku dan Zean akan kembali bersama dan setelah itu... Aku akan membuat anda secepatnya pergi ketempat seharusnya."
Tanpa diduga bulir bening mengalir dikedua sudut mata Tuan Wildan. Membuat Lyora yang melihatnya semakin kegirangan.
"Oh, tidak-tidak Tuan jangan menangis!" ucapnya sembari menyeka air mata lelaki tua itu.
"Lagipula, aku tidak akan melenyapkan anda sekarang sebelum aku bisa merebut Zean dari Ellina." bisik Lyora dengan menyeringai.
*
*
Sementara diluar ruang rawat.
"Apa kau sudah gila Zean?! Kenapa kau bisa mengambil tindakan bodoh seperti itu?!" rasanya Zyl tak tahan untuk tidak mengumpat sang kakak yang saat ini tengah duduk bersebelahan dengannya dikursi tunggu yang terletak tak jauh dari kamar rawat Tuan Wildan.
Zyl begitu marah saat tahu bahwa Zean kembali berhubungan dengan Lyora hanya karena sang kakak merasa bersalah terhadap wanita itu.
"Lalu menurutmu, apa yang harus ku lakukan untuk menebus kesalahan kakek pada Lyora, ha?!" balas Zean tak kalah sengit. "Kau tidak lupa bukan, kalau kakek dan bajingan itu sudah membuat masa depan Lyora hancur?! Karena perbuatan mereka Lyora kehilangan segalanya! Masa depan, usaha. Bahkan tanpa ada yang tahu ternyata selama ini Lyora menderita leukemia!"
Deg.
"Apa?! Leukemia?!" Zyl tampak terkejut.
"Ya, leukemia!"
Zean pun mulai menceritakan semuanya pada Zyl tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga setelah Zean selesai bercerita terdengar helaan napas panjang dari mulut sang adik.
"Oleh sebab itu aku minta padamu untuk tidak memberitahukan perihal Lyora pada Ellina, Zyl. Aku tidak mau kalau Ellina sampai memikirkan hal-hal berat yang bisa mempengaruhi kondisi kehamilannya. Cukup kesalahanku kemarin membuat Ellina dan bayi kami dalam bahaya. Aku tidak ingin membuat kesalahan fatal untuk kedua kalinya. Kau mengerti bukan?"
Seketika Zyl mendelik kearah Zean.
"Kau bilang kau tidak ingin membuat kesalahan fatal untuk kedua kalinya?!" ulang Zyl dengan ekspresi tidak percaya.
"Ya." jawab Zean singkat.
Zyl tersenyum sinis.
"Apa kau tidak sadar kalau saat ini kau sudah membuat kesalahan yang jauh-jauh lebih fatal dari sebelumnya Zean?! Kau pikir dengan membawa Lyora kembali kedalam kehidupanmu dengan dalih bertanggung jawab kau sudah melakukan tindakan yang benar? Tidak Zean! Itu sama saja kau sudah membohongi istrimu sendiri!"
"Jika boleh kusarankan, sebaiknya kau jujur pada Ellina tentang Lyora sebelum semuanya terlambat. Karena jika sampai Ellina tahu dari orang lain itu akan sangat menyakitinya!"
Setelah mengatakan itu Zyl segera beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan Zean seorang diri.
*
*
Selepas menjenguk Tuan Wildan, Zean dan Lyora bergegas pergi ke sebuah club elit dipusat kota untuk menemui klien mereka, Tuan Akiko.
Pertemuan bisnis di club bukanlah hal yang pertama bagi Zean. Tapi entah kenapa untuk kali ini rasanya berbeda.
Seperti ada hal yang mengganjal dihatinya.
Namun segera Zean menepis perasaan itu dengan berpikir positif.
Tuan Akiko yang sudah tiba lebih dulu segera menawarkan minuman pada Zean dan Lyora. Lalu ketiganya mulai terlibat percakapan serius mengenai proyek yang akan mereka jalani.
Tak terasa dua jam berlalu. Pembahasan utama telah selesai. Namun ketika Zean dan Lyora hendak berpamitan pulang, Tuan Akiko mencegah keduanya.
Tuan Akiko meminta Zean menemaninya untuk minum-minum sebentar karena besok pagi dirinya sudah kembali ke Jepang.
Zean yang tak enak hati pun mengiyakan permintaan tersebut setelah mendapat persetujuan dari Lyora. Lagipula waktu baru menunjukkan pukul 6 sore. Zean yakin Ellina tidak akan marah jika dia sedikit pulang terlambat.
Detik demi detik berlalu. Tanpa sadar Zean yang awalnya menolak untuk meminum minuman beralkohol kini dirinya yang paling antusias setelah berkali-kali menerima paksaan dari Tuan Akiko. Hingga alhasil lelaki itu menjadi mabuk.
Melihat kesempatan emas didepan mata, jelas tak begitu saja disia-siakan oleh Lyora.
Ketika Tuan Akiko yang juga mabuk telah di bawa pulang oleh para pengawalnya, Lyora dengan bantuan salah satu penjaga club segera membawa Zean kedalam mobil lalu pulang ke apartemennya.
Beruntung sesampainya di lobby apartemen ada security yang mau membantunya memapah Zean keatas. Hingga ketika Lyora tiba di unitnya, Lyora langsung menyuruh security tersebut membawa Zean kedalam kamar.
Setelah memberi tips dan meminta security itu pergi, Lyora segera mengunci pintu dan berjalan menghampiri Zean yang tengah terbaring telentang diatas ranjangnya.
Wanita itu duduk tepat disamping Zean sembari memperhatikan prianya yang tampak kacau dengan seksama. Sedari tadi lelaki itu terus meracau tidak jelas. Bergumam-gumam kecil memanggil nama Ellina yang tentunya membuat telinga dan hati Lyora menjadi panas.
"Bahkan disaat tidak sadarkan diri pun, kau masih mengingat perempuan itu Zean." Lyora tersenyum getir sementara tangannya bergerak menyentuh wajah pria yang dicintainya.
"Haruskah aku menggunakan cara licik untuk bisa membuatmu kembali kesisiku?"
Ellina...
Deg.
Tiba-tiba gerakan tangan Lyora terhenti ketika jemari tangan Zean yang kokoh mencekal lengannya. Lelaki itu menatap Lyora dengan tatapan berkabut dipenuhi hasrat.
"Aku merindukanmu." lirihnya tanpa sadar.
Segera setelah mengatakan kalimat itu, Zean langsung membalikkan keadaan. Membuat Lyora kini berada dibawahnya.
"Zean."
"Aku menginginkanmu Ellina."
Ketika Lyora hendak mengeluarkan kalimat bantahan, Zean sudah lebih dulu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang menuntut.
Sementara Lyora yang memang sejak awal memiliki rencana untuk menjebak Zean jelas tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Meskipun hatinya tak terima lantaran Zean menganggapnya sebagai Ellina tapi itu tak jadi masalah. Yang terpenting malam ini Zean menyentuhnya.
"Lakukanlah Zean... Aku milikmu." desah Lyora ketika Zean hendak melakukan penyatuan.
.
.