
“Tolong!” teriak Piper. “Siapa saja!”
Lalu dia tergelincir, menjerit saat dia jatuh.
“Jason, sana!” teriak Hedge. “Selamatkan Piper.”
Sang Pelatih meluncurkan tendangan kambing ganas ke arah Dylan—menghajarnya dengan kuku belahnya, membebaskan Leo dari cengkraman roh tersebut. Leo jatuh dengan selamat ke lantai, namun Dylan ganti mencengkram lengan sang Pelatih. Pak Pelatih Hedge berusaha menyundulnya, lalu menendangnya dan menyebutnya bocah lembek. Mereka membubung ke udara, semakin cepat.
Pak Pelatih Hedge berteriak ke bawah sekali lagi. “Selamatkan Piper! Biar kuatasi yang satu ini!” Kemudian sang satir dan roh badai berpusing ke dalam awan dan menghilang.
Selamatkan Piper? Pikir Jason. Piper sudah tiada!
Tapi lagi-lagi insting Jason menang. Dia lari ke pagar sambil berpikir, aku ini edan, dan melompat dari tepinya.
***
Jason tak takut terhadap ketinggian. Dia cuma takut tubuhnya remuk saat menghantam dasar ngarai seratus lima puluh meter di bawah. Jason menduga dia takkan bisa berbuat apa-apa selain mati bersama Piper, tapi dia merapatkan lengan ke badan dan menukik dengan kepala lebih dulu. Sisi ngarai berkelebat seperti film yang dipercepat. Wajahnya serasa terkelupas.
Dalam sekejap, Jason sudah menyusul Piper, yang mengepakkan lengannya dengan liar. Jason merengkuh pinggang Piper dan memejamkan mata, menanti ajal. Piper menjerit. Angin mendesing di telinga Jason. Dia bertanya-tanya bagaimana rasanya mati. Dia berpikir, barangkali tidak enak. Dia berharap entah bagaimana mereka takkan pernah tiba di dasar.
Mendadak angin berhenti. Jeritan Piper berubah menjadi suara terkesiap. Jason mengira mereka pasti sudah mati, tapi dia tak merasakan tumbukan apa pun.
“J-J-Jason,” Piper berhasil mengeluarkan kata-kata.
Jason membuka mata. Mereka tidakjatuh. Mereka melayang di udara, sekitar tiga puluh meter di atas sungai. Jason memeluk Piper erat-erat, dan cewek itu memperbaiki posisinya sehingga dia memeluk Jason juga. Hidung mereka berdekatan. Jantung Piper berdebar kencang sekali, Jason bisa merasakannya melalui pakaian cewek itu.
Napas Piper beraroma seperti kayu manis. Dia berkata, “Bagaimana caramu—“
“Aku tak melakukan apa-apa,” kata Jason. “Kukira aku bakal tahu seandainya aku bisa terbang ... “
Jason membayangkan tubuhnya melayang ke atas. Piper memekik saat mereka melesat beberapa kaki lebih tinggi. Mereka sebetulnya tidak melayang, Jason memutuskan. Dia bisa merasakan tekanan di bawah kakinya seolah mereka sedang menyeimbangkan diri di atas semburan air panas.
“Udara menopang kita,” kata Jason.
“Yah, suruh udara agar lebih menopang kita! Membawa kita pergi dari sini!”
Jason menengok ke bawah. Hal yang paling mudah adalah turun pelan-pelan ke dasar ngarai. Kemudian dia mendongkak. Hujan telah berhenti. Awan badai tidak kelihatan seseram tadi tapi masih menggemuruh dan berkilat-kilat. Tak ada jaminan bahwa para roh badai betul-betul sudah pergi. Jason sama sekali tak tahu apa yang telah menimpa Pak Pelatih Hedge. Dan Jason meninggalkan Leo di atas sana, nyaris tak sadarkan diri.
“Kita harus menolong mereka,” kata Piper, seakan membaca pikiran Jason. “Bisakah kau—“
“Mari kita lihat.” Jason berpikir naik, dan mereka pun langsung melesat ke angkasa.
Fakta bahwa Jason tengah menunggangi angin mungkin saja keren dalam kondisi yang berbeda, namun dia terlalu terguncang. Begitu mereka mendarat di titian, mereka lari menghampiri Leo.
Piper membalikan badan Leo ke samping, dan dia mengerang. Jaket tentaranya basah kuyup kehujanan. Rambut keritingnya mengilap keemasan karena berguling-guling di atas debu monster. Tapi paling tidak dia tidak mati.
“Kambing ... jelek ... bego,” gumam Leo.
“Ke mana dia pergi?” tanya Piper.
Leo menunjuk lurus ke atas. “Tidak turun-turun. Tolong katakan padaku dia tak menyelamatkan nyawaku.”
“Dua kali,” kata Jason.
Leo mengerang semakin keras. “Apa yang terjadi? Si cowok tornado, pedang emas ... kepalaku terbentur. Begitu, kan? Aku berhalusinasi?”
Jason sudah lupa soal pedang. Dia berjalan menghampiri pedang itu dan memungutnya. Bilah pedang tersebut terasa pas di tangannya. Berdasarkan insting, Jason pun melemparkan pedang tersebut. Di tengah putaran, pedang itu menciut kembali menjadi koin dan mendarat di telapak tangan Jason.