Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 49 : Kekacauan Di Ibukota Hermione


Pria itu berdiri di depanku dengan Orifiel yang bertugas sebagai pengawal.


"Apa kita harus membunuhnya tuan Scot."


"Tidak perlu kita yang melakukannya, tujuan kita adalah ibukota kerajaan Hermione. Tinggalkan satu monster untuknya."


"Baik."


Aku segera menerjang dengan pedang di tanganku, sebelum mendekat sebuah gerbang raksasa jatuh dari langit memaksaku melompat menjauh.


Seperti yang diduga itu adalah gerbang Solomon. Ketika terbuka sosok kura-kura raksasa muncul dari dalamnya.


Aku tidak mempercayai ini.


Itu adalah Big Turtle yang sering dikatakan orang-orang.


"Monster apapun yang dipanggil dari gerbang ini mereka akan menuruti pemiliknya, sekarang nikmatilah kematian kalian."


Sementara keduanya menghilang Big Turtle telah membuka matanya dengan bola hitam raksasa yang tercipta di mulutnya.


En dalam bentuk pedang mengingatkanku.


"Tuan Okta sadarlah, kau harus segera bergerak."


"Benar."


Aku segera melompat ke samping dan bola itu ditembakan begitu saja jauh di belakang, tak perlu dipertanyakan bagaimana dampak dari serangan tersebut, itu melenyapkan apapun yang dikehendakinya.


Noel muncul dari atas untuk menabrakan perisainya di atas kepala kura-kura selanjutnya yang lainnya juga mengikuti.


"Kami juga akan membantu nyan."


Meski mereka bilang begitu mengalahkan Big Turtle adalah sesuatu yang sulit, ia memiliki pertahanan terkuat di dunia ini walaupun keberadaan sebelumnya tidak mengancam.


Paling tidak aku ingin mengembalikannya seperti sedia kala.


"En kamu memiliki cara untuk mengembalikannya?"


"Ada satu cara tapi itu memakan mana yang cukup besar, mungkin jika aku gunakan Anda tidak akan bisa menggunakanku untuk sementara waktu."


"Kalau begitu tolong lakukan."


"Dimengerti."


Dari lingkaran sihir tersebut cahaya menyilaukan ditembakan ke langit membentuk pilar raksasa yang perlahan lenyap.


"Kalau ada kekuatan seperti ini bukannya bisa digunakan untuk Orifiel juga?"


"Itu terlalu beresiko, kemungkinan pengaruhnya lebih kuat dibandingkan pada monster. Jika itu gagal Anda akan langsung dibunuhnya."


"Jadi begitu."


Kura-kura tersebut menatap kami sesaat sebelum akhirnya berjalan pergi.


"Okta?" panggil Yue


"Iya, kita tidak bisa diam mari bergerak kembali."


Atas pernyataanku kami akan langsung pergi ke ibukota kerajaan Hermione. Sesampainya di sana situasinya cukup merepotkan.


"Kita terlambat nyan."


"Seperti begitu," tambah Noel.


Aku mengatakan bahwa kami akan membantu dan memiliki informasi apa yang terjadi pada kerajaan ini, hingga akhirnya kami dipertemukan dengan seorang mayor dari fraksi militer bernama Lucia Braklyn, ia memiliki rambut coklat ekor kuda dan mata ruby, walau umurnya menginjak kepala empat ia terlihat cantik seolah berada di awal 30an.


"Kami senang jika banyak orang membantu, terima kasih banyak."


"Ini sudah kewajiban kami untuk melindungi semua orang sebagai petualang."


"Begitu, lalu apa yang bisa kalian laporkan?"


Aku mulai dengan malaikat, disusul guild kegelapan kemudian tentang tujuan mereka.


"Guild kegelapan, pantas saja... kami cukup sering menangkap mereka, jadi ini pembalasan dendam."


Kemungkinan bisa dibilang begitu juga. Noel bertindak layaknya seorang kesatria pada umumnya.


"Monster seperti apa yang menyerang ibukota?"


"Bermacam-macam, lebih tepat disebut kumpulan monster, kami menyebutnya gelombang karena saat terjadi jumlah mereka sangat banyak dan selanjutnya adalah gelombang ke tiga, syukurlah kami telah mengamankan anggota kerajaan yang dibantu para kesatria."


Gelombang monster benar-benar terdengar sangat serius.