
Leo memutar bola matanya. “Kau benar-benar serius mau bercanda, ya? Oke, jadi kita bertiga mulai masuk sini semester ini. Kita benar-benar akrab. Kau melakukan semua yang kusuruh, memberiku hidangan pencuci mulutmu, dan mengerjakan tugas-tugasku—“
“Leo!” bentak Piper.
“Oke. Abaikan bagian terakhir tadi. Tapi kita memang berteman. Yah, Piper lebih dari sekadar temanmu, beberapa minggu terakhir—“
“Leo, hentikan!” wajah Piper memerah. Jason bisa merasakan bahwa wajahnya memanas juga. Menurut Jason dia pasti ingat jika dia pacaran dengan cewek seperti Piper.
“Dia kena amnesia atau semacamnya,” kata Piper. “Kita harus memberi tahu seseorang.”
Leo mendengus. “Siapa, Pak Pelatih Hedge? Dia pasti akan berusaha menyembuhkan Jason dengan cara menggetok kepalanya.”
Sang pelatih berada di depan kelompok tersebut, membentakkan perintah serta meniup peluitnya untuk mengatur anak-anak; tapi sesekali dia melirik ke belakang, ke arah Jason, dan memberengut.
“Leo, Jason butuh bantuan,” Piper bersikeras. “Dia gegar otak atau—“
“Yo, Piper.” Salah seorang cowok lain mundur untuk bergabung dengan mereka selagi kelompok itu menuju museum. Si cowok baru menyempilkan dirinya ke antara Jason serta Piper dan menabrak Leo hingga terjatuh. “Jangan bicara kepada para pecundang ini. Kau pasanganku, ingat?”
Si cowok baru memiliki rambut gelap bergaya Superman, kulit cokelat terbakar matahari, dan gigi yang begitu putih sehingga seharusnya ditempeli label peringatan: JANGAN LIHAT GIGI SECARA LANGSUNG. DAPAT TERJADI KEBUTAAN PERMANEN. Dia mengenakan seragam Dallas Cowboys, jins Western, serta sepatu bot, dan dia tersenyum seakan dia adalah anugerah Tuhan bagi cewek-cewek berandalan di mana saja. Jason membencinya seketika juga.
“Pergilah, Dylan,” gerutu Piper. “Aku tidak minta sekelompok denganmu.”
“Ah, tidak boleh begitu. Ini hari keberuntunganmu!” Dylan mengaitkan lengannya ke lengan Piper dan menyeret cewek itu melewati pintu masuk museum. Piper melemparkan tatapan terakhir dari balik bahunya seakan untuk mengatakan, Tolong aku!
Leo berdiri dan membersihkan badannya. “Aku benci cowok itu.” Dia mengulurkan tangan kepada Jason, seolah mengajaknya berjalan bersama-sama ke dalam. “Aku Dylan. Aku keren banget, aku ingin pacaran dengan diriku sendiri, tapi aku tidak tahu caranya! Bagaimana kalau kau saja yang pacaran denganku? Mau? Kau sangat beruntung!”
“Leo,” kata Jason, “kau aneh.”
Jason merasa jika sahabatnya adalah anak ini, kehidupannya pasti lumayan kacau; tapi dia mengikuti Leo ke dalam museum.
***
Mereka berjalan menyusuri museum itu, berhenti di sana-sini agar Pak Pelatih Hedge berkesempatan menguliahi mereka dengan megafonnya. Megafon tersebt silih berganti membuat sang pelatih terdengar seperti Sith Lord atau mengumandangkan komentar-komentar aneh seperti: “Babi bilang nguik.”
Leo terus mengeluarkan mur, baut, dan tali kapas dari saku jaket tentaranya serta merakit benda-benda itu jadi satu, seolah dia harus menyibukkan tangannya sepanjang waktu.
Jason terlalu resah sehingga tidak terlalu memperhatikan benda-benda yang dipamerkan, namun temanya tentang Grand Canyon dan suku Hualapai, pemilik museum itu.
Sebagian cewek terus saja memandangi Piper serta Dylan dan mencemooh. Jason menduga cewek-cewek ini adalah geng populer. Mereka memakai jins yang serasi dan atasan merah muda serta rias wajah tebal yang cocok untuk pesta Halloween.
Salah seorang dari mereka berkata, “Hei, Piper, apa sukumu yang mengelola tempat ini? Apa kau boleh masuk secara gratis kalau kau melakukan tarian hujan?”
Cewek-cewek lain tertawa. Bahkan Dylan yang katanya “pasangan” Piper juga menahan senyum. Jaket snowboarding Piper yang berbulu-bulu menyembunyikan tangannya, tapi Jason punya firasat bahwa cewek itu sedang mengepalkan tinjunya.
“Ayahku orang cherokee,” kata Piper. “Bukan Hualapai. Tentu saja, kau butuh sedikit sel otak supaya memahami bedanya, Isabel.”
Isabel membelalakan mata, pura-pura kaget. Tetapi dia justru kelihatan seperti burung hantu yang kecanduan make-up. “Aduh, maaf! Apa ibu-mu yang anggota suku ini? Oh, iya ya. Kau tak pernah kenal ibumu.”
Piper menerjang Isabel, tapi sebelum perkelahian sempat dimulai, Pak Pelatih Hedge membentak, “Yang di belakang sana, cukup! Tunjukan teladan yang baik atau kukeluarkan tongkat bisbolku!”
Kelompok tersebut beranjak ke ruang pajang berikutnya, namun para cewek terus saja menyerukan komentar-komentar pedas pada Piper.
“Pasti senang ya, balik ke penampungan?” tanya salah seorang dengan suara manis.