Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 52 : Akhir Kekacauan


Aku dan Orifiel saling membenturkan pedang sebelum menembakan api dari tangan yang lain.


Dia tampak terkejut khususnya saat berhasil menangkis seranganku.


"Ini bukan sihir?"


Mudah untuk dirinya cepat menyadari hal tersebut, pada dasarnya apapun sihir yang mendekati Orifiel akan dihilangkan namun kekuatan yang aku gunakan bukanlah sesuatu yang didapat dari mana.


Aku menyelimuti pedangku dengan petir sebelum melesat maju, dampak dari gesekan senjataku membuat Orifiel kehilangan senjatanya, tepat saat aku hendak memberikan tebasan berikutnya dia menangkap pergelangan tanganku lalu melemparkannya ke sisi lain.


Dia mengarahkan tangannya dan sekitar empat bola api muncul yang masing-masing terarah padaku.


Aku menyelimuti diriku dengan kekuatan pedang suci, seperti sihir bahkan kekuatan roh juga dihilangkan oleh Orifiel memaksaku melompat menghindar. Orifiel muncul dari sisi sampingku dan ia memberikan tendangan yang menghantam bagian dalam perutku hingga aku memuntahkan darah sebelum terbang menabrak apapun yang aku lewati.


"Sakit sekali, jika bukan karena latihanku tulangku barusan pasti sudah remuk."


"Tendangannya benar-benar kuat, dia memiliki kekuatan cheat," tambah En berkomentar.


Tepat saat aku akan menahan serangan Orifiel berikutnya, dia dipaksa mundur dengan kemunculan Lucia serta Noel yang menyergapnya secara tiba-tiba.


"Kami datang untuk membantu Okta."


Lucia pun mengangguk sebagai konfirmasi. Aku tadinya akan bilang bahwa aku akan bertarung sendirian tapi ini bukan saatnya untuk egois.


Kami harus menghentikannya bersama. Aku mengiyakan sebelum kami bertiga melesat maju, tanpa memberikan jeda pada musuh, kami terus mengirimkan serangan terbaik kami.


Orifiel menahan tiga pedang kami dengan pedang miliknya untuk membuat kami saling mendorong satu sama lain sebelum kami bertiga dilemparkan ke udara.


Bahkan setelah melewati latihan sulit itu, aku tetap tidak bisa mengalahkan Orifiel. Bulu-bulu putih berjatuhan dari langit yang menjadi pertanda sesuatu yang buruk akan datang.


Ketika Orifiel menjentikkan jarinya sebuah meriam raksasa yang dibuat sebaik mungkin muncul di sampingnya, itu begitu besar dan kokoh dengan seluruh bagiannya dihiasi sayap putih.


"Aku akan menahannya."


"Jangan bilang kamu akan menahan kekuatan seperti itu, jangan gegabah."


Aku mengabaikan perkataan Lucia untuk menyiapkan kuda-kudaku setelah menyarungkan pedang kembali, aku menunjukan pose menarik tinju ke belakang.


Orifiel tidak terganggu denganku dan hanya mengisi meriamnya dengan cahaya sebelum menembakannya pada kami, aku mengirimkan tinjuku ke udara yang menciptakan tembakan api.


Kedua serangan itu bertemu di tengah-tengah lalu terdirtosikan menjadi sebuah ledakan yang menciptakan kerusakan luar biasa.


Aku jatuh di tanah sementara itu Orifiel masih berdiri.


"Sayang sekali, aku masih bisa menembakan meriam ini satu kali lagi."


Tamat sudah inilah akhirnya, sebelum itu ditembakkan kembali suara Yue telah memotong.


"Kurasa sampai di sana."


Dia berdiri dengan lampion di tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Sesuatu yang diinginkan banyak orang."


Yue membekukan benda itu dengan sihirnya lalu hancur menjadi kepingan es yang berjatuhan di tanah.


Rasa sakit menyerang kepala Orifiel sebelum akhirnya dia tumbang ke tanah.


Aku rasa ini sudah selesai, aku juga roboh ke tanah tapi tidak pingsan hanya lebih ke arah tenagaku sudah terkuras hanya untuk serangan barusan.


Aku berputar untuk melihat langit cerah berawan.


Menjadi pahlawan memang bukan hal mudah, kataku dalam hati.