
"Bibi Fel tidak pernah memberitahukan hal seperti ini padaku."
"Itu karena aku juga tidak ingin diekspos oleh siapapun, bayangkan jika semua orang tahu bahwa pedang suci bisa berubah jadi seorang gadis maka semua orang akan segera memperebutkanku khususnya pria... berpetualang dengan pedang yang berubah jadi seorang gadis maka bayangkan petualang mesum seperti apa yang akan didapatkannya."
Mata Noel bersinar.
"Aku sangat mengerti itu."
Persamaan kedua orang ini membuatku cukup takut.
"Yah, jika di depan kalian aku tidak keberatan, dan mulai sekarang tuanku adalah dirimu."
Aku memasang wajah pahit.
"Aku mengerti tolong berendam lagi, aku bisa melihatnya."
Setelah mandi kami menjelaskan semua hal pada En yang duduk di atas ranjang selagi makan cemilan.
"Jadi begitu, melawan Orifiel yang dikendalikan pasti sangat menyulitkan bukannya akan lebih baik jika kalian semua pergi ke kota suci dulu."
Dia berbicara seolah mengenal malaikat tersebut.
"Kami sudah meninggalkan wilayah selatan karena itulah jika kembali benar-benar menyusahkan nyan."
"Jangan khawatirkan soal itu, aku bisa mengantar kalian lewat sihir teleportasi hanya satu kedipan maka kita akan sampai."
Itu terdengar sangat praktis, rencana kami yang semula akan kembali harus menunggu sebentar untuk kunjungan tersebut.
Setelah mengkonfirmasi hal sebelumnya tentang keberadaan Fenrir, gerbang perbatasan wilayah Utara dan Selatan akhirnya dibuka kembali. Banyak orang yang senang akan hal itu khususnya orang-orang yang terjebak cukup lama di tempat ini.
Di sela-sela perayaan, kami semua pergi ke gang kecil dan di sana En dalam wujud pedang merapalkan sebuah mantra yang selanjutnya membawa kami ke tempat berbeda.
Itu dipenuhi bangunan tinggi berwarna putih, Marie, Kila, Noel dan Yue juga melihat dengan takjub.
Awan putih sesuatu yang tidak kami lewatkan juga.
"Bagaimana cepat kan? Manusia biasanya dilarang untuk datang kemari jadi sebaiknya kita juga tidak boleh terlihat."
Menanggapi keinginan En kami semua mengangguk dan berjalan secara tersembunyi. Bukan berarti kami akan melakukan kejahatan kami hanya berjalan untuk menemui salah satu malaikat tingkat atas.
Kami berhasil menyusup ke dalam kediamannya dan saat kami membuka pintu, sosok yang dimaksud telah duduk di ruang tamu menyambut kami.
"Aku sudah menunggu kalian, silahkan duduk."
"Aku memberitahukan kedatangan kita padanya lewat telepati."
Seharusnya dia bilang lebih awal.
Wanita di depan kami bernama Gabriella ia seorang yang cantik dengan rambut pirang panjang serta sayap putih di belakangnya, mengenakan apa yang disebut gaun putih yang sedikit memamerkan sedikit kulitnya.
"Jadi kalian ingin mendengar soal Orifiel?"
Kami mengangguk atas pernyataan tersebut.
"Aku tidak yakin bisa memberitahu detailnya tapi akan kukatakan sedikit saja. Orifiel adalah salah satu tiga malaikat atas yang berada di kota suci, awalnya kami bertiga tinggal bersama di kota suci sampai masing-masing sepakat untuk meninggalkan tempat ini."
"Meninggalkan nyan?"
Jika ia bilang meninggalkan seharusnya sosok di depan kami juga sudah tidak ada di kota ini.
"Aku memutuskan untuk kembali hingga seperti ini, awalnya aku juga pergi... walau tidak terlihat kami sejujurnya memiliki kepribadian berbeda. Aku dulu merupakan orang yang tomboi yang memimpikan petualang luar biasa, Orifiel orang yang selalu menegakkan keadilan hingga ia pergi untuk menghukum siapapun yang bersalah di depannya, sedangkan Lufiel lebih suka menyendiri, apa itu semua menjawab pertanyaan kalian?'
Kami jelas menggelengkan kepala sebagai jawaban.