Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 25 : Benteng Selatan


Hanya tinggal satu kristal lagi maka keseluruhan sihir kuno ini telah selesai, Fel dan Carot yang telah sampai di benteng selatan yang merupakan benteng paling jauh dari semuanya mulai bergerak.


Bersama pasukan kerajaan demi-human ia mulai menyerbu masuk, pasukannya sendiri bukanlah kesatria melainkan penyihir yang mayoritas bisa menembakan sihir jauh.


Dengan kekuatan itu benteng telah menjadi sasaran peledakan di mana-mana.


Untuk Fel hanya menunggu, di depannya Carot telah menarik busuk miliknya dengan elegan lalu menjatuhkan musuh-musuh yang selamat dari serangan para penyihir.


Ketika dia hendak mengincar yang terakhir pijakannya bergetar hingga dia kehilangan keseimbangannya. Sesuatu keluar dari tanah membuatnya melompat mundur bersama Fel.


Pelakunya adalah seekor tikus tanah raksasa yang dapat berbicara.


"Berani sekali kalian menghancurkan benteng yang aku jaga, aku Bell perwakilan dosa iri tidak akan membiarkannya hahah."


Carot mengarahkan seluruh pasukan untuk menyerang, sementara dirinya yang akan melawan tikus tanah tersebut.


Fel juga menarik pedangnya jika tahu-tahu dirinya dibutuhkan namun jelas ia lebih suka menunggu. Tikus tanah tersebut masuk ke dalam tanah untuk menyembunyikan dirinya.


Carot menjaga dirinya untuk fokus dengan busurnya, ketika tikus tanah melompat menyerangnya dia berguling lalu memberikan tembakan tepat mengenai pantatnya.


"Sialan."


Fel yang memperhatikan hanya memiringkan kepalanya apa mereka benar-benar dosa mematikan, dibandingkan hal mengerikan seperti di masa lalu mereka tidak terlihat sekuat itu.


Tikus tanah menghilang dan keluar begitu saja, beberapa kali dia memberikan pukulan pada Carot hingga terluka sebelum bersembunyi kembali.


Caranya bertarung benar-benar membuat dirinya seperti seorang pengecut.


Carot mengganti dari busur menjadi pedang kembar, ketika Bell si tikus tanah keluar dia menerima tebasan berganda hingga terbang ke udara dengan darah keluar dari seluruh tubuhnya.


Itu menjadi pertarungan paling singkat.


Cahaya dari kristal lenyap dan sihir kuno telah dihilangkan seutuhnya.


"Dengan ini kurasa sudah selesai"


Carot mengangguk dan bersiap untuk pergi bersama yang lainnya, Fel mengikuti dari belakangnya sampai sebuah tekanan membuat semua orang terdiam.


Fel menyelimuti dirinya dengan cahaya namun itu sudah terlambat saat seorang mencengkeram wajahnya lalu melenyapkan seluruh kemampuannya.


"Bukannya kau?"


"Fel kekuatanmu cukup merepotkan karenanya aku menyegel gerbangmu seutuhnya, dengan ini semuanya akan sesuai seperti yang aku inginkan."


"Bagaimana bisa?"


Semua orang tiba-tiba pingsan, dengan pandangan kabur Fel bisa melihat punggung wanita yang menyerangnya, tidak salah lagi dia adalah malaikat tertinggi.


Kesadarannya mulai menghilang seutuhnya.


***


Di dalam perjalanan aku tiba-tiba berhenti bergerak, Kokoro di sebelahku dengan ragu bertanya.


"Ada apa?"


"Aku merasakan firasat buruk sesaat, yah... kurasa hanya perasaan saja."


"Begitu, apapun itu tolong jangan lengah."


"Iya."


Aku membuang perasaan tersebut dan langsung menunju istana, di sana banyak orang-orang yang telah menjadi mayat seolah menjadi kota mati.


Berbeda dari sebelumnya jelas bahwa dosa mematikan yang sekarang lebih berbahaya. Di dekat mayat itu seorang pria tampak berbaring dengan bosan, ia terus menguap lebar.


"Malas sekali, kenapa kalian malah bermunculan."


"Kau?"


"Namaku Zil, dosa malas."


"Kamu memang terlihat begitu."


"Aku saking malasnya dan ingin menyelesaikan ini dengan cepat... kalau begitu, matilah."