
Perjalanan ini akan memakan waktu cukup lama karenanya kami harus menyiapkan semua perbekalan sekarang, Yue, Noel, Kila, Marie dan juga En.
Aku menghitung anggotaku, sebenarnya siapapun bisa tinggal di rumah jika mereka mau tapi aku rasa tidak ada yang mau melakukannya, kami petualang dan berpetualang adalah apa yang selalu kami inginkan.
Aku menyewa kereta untuk kepergian ini, dengan duduk di baris depan bersama Kila aku memecut tali pengekang kuda dan akhirnya kami mulai meninggalkan kota tempat tinggal kami.
"Kita lihat petanya nyan, owh kepalaku pusing walau hanya melihatnya sebentar nyan."
Dia cepat menyerah.
"Jika kamu pusing maka gantian saja denganku," yang berkata itu adalah Noel.
"Usaha bagus nyan tapi kita sudah memutuskan sebelumnya siapa yang pantas duduk di sini."
Mereka bermain batu kertas gunting untuk melakukannya, aku tidak keberatan untuk duduk di belakang tapi sepertinya tidak ada dari mereka yang ingin membawa kereta ini.
"Biar aku lihat petanya."
"Nih."
Aku menerimanya dari Kila lalu mencoba membuat garis dengan sebuah tinta agar Kila bisa dengan mudah menentukan rute kami.
"Ikuti saja garis yang aku buat, itu merupakan jalan yang aman."
"Aku mengerti nyan."
Aku memperhatikan orang-orang di belakang terutama Yue dan Marie yang bergantian menyuapi En dengan cemilan manis.
En hanya menunjukan wujudnya di depan kami, saat bertemu seseorang ia akan menjadi pedang kembali.
"Owh, rasa yang berbeda... kalian manusia sangat membuatku iri, kalian selalu bisa membuat sesuatu yang mengagumkan."
"Kurasa bisa dibilang begitu."
"Jika kamu mau pelayan profesional sepertiku akan mengajarimu cara memasak."
Noel memotong.
"Dibandingkan cemilan lebih enak pisang, buka mulutmu aku akan memasukannya."
"Seperti ini."
"Kamu akan menyukainya."
Sebelum Noel melakukan niat tersembunyinya yang lain telah mengikatnya.
Abaikan saja orang mesum ini, kereta kami melewati sebuah jembatan, masuk ke pedesaan sebelum masuk ke dalam hutan dan terus mengikuti jalanan setapak.
"Owh lihat itu Okta, di sana ada sungai besar... bisakah kita berhenti nyan, di sana pasti banyak ikan, kepiting dan udang."
Sepertinya Kila ingin memakan salah satu dari mereka.
"Ini sudah siang kurasa tidak masalah untuk beristirahat di sana."
Yang lainnya juga sepetinya tidak keberatan bahkan setelah melipat lengan baju mereka, mereka turun ke sungai untuk bersama-sama menyusuri area sungai.
Sulit untuk menangkap ikan tapi jika itu kepiting atau udang mereka dengan mudah ditemukan di celah-celah batu.
Kila melompat di air selagi berteriak.
"Tanganku dicapit nyan, awas kau... kau akan berada di perutku nanti nyan.... uwaah, ekorku juga dicapit."
Kami semua hanya tersenyum ke arahnya. Marie mendekat ke arahku dengan seluruh tangannya penuh udang.
"Aku dapat banyak."
"Luar biasa."
"Ini bukan apa-apa bagi seorang pelayan profesional."
Meski tidak ada hubungannya aku menerimanya saja, Yue tidak ingin kalah dan memamerkan tangkapannya. Ada pun Noel dia terlihat seperti akan menangis, bagaimanpun tubuhnya dicapit seluruh kepiting.
"Mereka membenci Noel," kata Yue menegaskan.
Dia tidak terlalu memiliki hubungan bagus dengan hewan, adapun untuk En dia lebih suka berenang mengikuti arus.
"Mereka sangat cepat."
Dia hanya mengatakannya sebagai alasan, sejak awal dia hanya bermain saja. Kami memanggang mereka di depan api unggun dan menikmatinya bersama.
Perjalanan kami cukup jauh, jadi tidak perlu terburu-buru untuk sampai ke sana.
"Kepiting ini rasanya enak nyan."
"Benar, mungkin karena kualitas airnya masih bagus mereka memiliki rasa yang lezat."
Aku setuju dengan apa yang dikatakan Noel.