Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Episode 4


“Ayahnya mungkin terlalu mabuk, jadi tidak bisa kerja,” kata yang lain dengan simpati palsu. “Itu sebabnya dia jadi klepto.”


Leo menangkap lengan Jason. “Tenang. Piper tidak suka kita ikut campur dalam pertengkarannya. Lagi pula, kalau cewek-cewek itu tahu siapa ayah Piper yang sebenarnya, mereka semua bakal menyembah-nyembahnya dan berteriak, ‘kami tak pantas!’”


“Kenapa? Memang ada apa dengan ayahnya?”


Leo tertawa tak percaya. “Kau tidak bercanda? Kau tidak ingat bahwa ayah pacarmu—“


“Dengar, aku harap aku ingat, tapi aku bahkan tidak ingat siapa Piper, apalagi ayahnya.”


Leo bersiul. “Terserah deh. Kita harus bicara ketika kita kembali ke asrama.”


Mereka sampai di ujung ruang pajang. Di sana terdapat sebuah pintu kaca besar yang mengarah ke teras di luar.


“Baiklah, Bocah-Bocah Lembek,” Pak Pelatih Hedge mengumumkan. “Kalian akan menyaksikan Grand Canyon. Cobalah untuk tidak berulah. Titian itu bisa menahan bobot tujuh puluh pesawat jet jumbo, jadi manusia kelas bulu macam kalian semestinya aman di atasnya. Jika mungkin, cobalah jangan saling dorong hingga jatuh dari tepi, sebab itu akan membuatku tambah repot saja.”


Sang pelatih membuka pintu, dan mereka semua melangkah ke luar. Grand Canyon terbentang di hadapan mereka, secara langsung. Di tubirnya, terjulurlah sebuah titian berbentuk tapal kuda yang terbuat dari kaca, jadi kita bisa melihat ke bawah.


“Wow,” ujar Leo. “Keren juga.”


Jason harus sepakat. Walaupun dia lupa ingatan dan merasa tidak seharusnya berada di sana, Jason mau tak mau terkesan.


Ngarai tersebut lebih besar dan lebih lebar daripada yang dapat kita apresiasi melalui foto. Posisi mereka tinggi sekali sampai-sampai di bawah kaki mereka ada burung yang berputar-putar. Seratus lima puluh meter di bawah, sebuah sungai mengular di dasar ngarai. Kumpulan awan badai telah bergerak ke atas mereka selagi mereka berada di dalam, memancarkan bayang-bayang yang bagaikan wajah-wajah marah ke tebing. Sejauh yang bisa dilihat Jason, tersebar di seluruh padang, terdapat jurang merah serta kelabu, seolah dipahat dengan pisau oleh dewa-dewa sinting.


“Kau baik-baik saja?” tanya Leo. “Kau tidak akan muntah di pinggir, kan? Soalnya aku seharusnya bawa kameraku.”


Jason mencengkeram pagar. Dia gemetaran dan berkeringat, namun itu tak ada hubungannya dengan ketinggian. Jason berkedip, dan rasa nyeri di balik matanya pun mereda.


“Aku tak apa-apa,” Jason berhasil menjawab. “Cuma sakit kepala.”


Guntur menggelegar di langit. Angin dingin hampir menggulingkan Jason ke samping.


“Ini tak mungkin aman.” Leo menyipitkan mata ke arah awan. “Ada awan badai tepat di atas kita, tapi di sekeliling kita cuacanya cerah. Aneh, ya?”


Jason mendongkak dan melihat bahwa Leo benar. Lingkaran awan gelap telah parkir di atas titian, tapi langit di segala arah tampak luar biasa jernih. Jason punya firasat yang tidak enak soal ini.


“Baiklah, Anak-Anak Lembek!” teriak Pak Pelatih Hedge. Dia mengerutkan kening ke arah awan badai, seakan awan-awan itu mengganggunya juga. “Kita mungkin harus mempersingkat karyawisata kita ini, jadi mulailah bekerja! Ingat, kalimat lengkap!”


Badai menggemuruh, dan kepala Jason mulai sakit lagi. Tidak tahu apa sebabnya dia berbuat begitu, Jason merogoh saku jinsnya dan mengeluarkan sekeping koin—lingkaran emas seukuran uang setengah dolar, tapi lebih tebal dan lebih tak rata. Pada satu sisi tercetaklah gambar kapak tempur. Pada sisi lainnya ada wajah laki-laki bermahkota daun dafnah. Tulisan pada koin itu seperti berbunyi IVLIVS.


“Walah, apa itu emas?” tanya Leo. “Kau ternyata merahasiakan sesuatu dariku.”


Jason menyimpan koin itu lagi, bertanya-tanya bagaimana bisa dia memiliki koin tersebut, dan apa sebabnya dia merasa akan seger