Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 35 : Informasi Tambahan


Keduanya melompat mundur untuk menjaga jarak, aku segera menghentikan Yue untuk mencegahnya melakukan hal sembrono.


"Jelas sekali kau bukan manusia, aku memang sedikit tertarik tapi biarlah," apa yang dikatakan sosok di depan kami.


Orifiel malaikat dengan rambut biru panjang serta mata berwarna putih terang, kemunculannya menciptakan sayap-sayap putih yang berjatuhan dari atas kepala kami.


Aku berkata.


"Kamu hanya datang untuk mengirimkan monster-monster ini bukan."


"Begitulah."


"Karena kamu sudah melakukannya maka tidak ada hal lain yang kamu inginkan kan."


Pandangan kami saling bertemu. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungku.


"Terserahlah."


Dia berbalik lalu berjalan sebelum akhirnya menghilang seolah tertiup angin, ketika kepergiannya aku bisa merasakan lututku terasa lemas.


"Okta, bukannya kita tidak boleh membiarkannya lolos begitu saja, dia mungkin akan membawa bencana pada dunia dan juga kita sudah bersiap menghadapinya."


"Lebih baik kita amati lebih jauh sebelum melakukan pertarungan."


"Apa maksudmu?"


Aku mengeluarkan sebuah batu kerikil yang kini telah berwarna merah terang.


"Apa itu?"


"Ini dari ayahmu, katanya jika aku bertemu dengan Orifiel aku harus memastikan bahwa dia benar-benar tidak dalam kendali seseorang."


"Ayah sampai memikirkan itu."


Aku mengangguk sebelum melanjutkan.


"Jika Orifiel tidak dipengaruhi oleh orang lain batu ini akan berwarna biru dan jika berwarna merah maka ia memang sedang dikendalikan seseorang."


"Mungkinkah ada yang sanggup untuk mengendalikannya?"


"Aku juga tidak tahu tapi ini benar-benar cukup merepotkan, untuk sekarang kita hanya harus kembali ke kota dan membantu yang lainnya."


"Iya._


Kami berdua berlari ke arah kota dan masuk begitu saja dalam pertarungan. Wyvern adalah makhluk kuat, hanya satu saja paling tidak harus dihadapi lima sampai enam orang tapi kami harus menghadapinya satu lawan satu, karenanya itu cukup menguras tenaga.


Kami semua memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan dan seseorang menjawabnya dengan cepat.


Dia adalah Corna yang terlihat berbeda, mata dan tanduknya memunculkan sedikit cahaya merah.


"Bagus Corna, aku serahkan semuanya padamu," balas Claudia.


Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kakinya, ia mengarahkan tangannya hingga dalam sekejap lingkaran yang lainnya bermunculan di kepala para Wyvern yang masih hidup.


Ketika dia mengepalkan tangannya, kepala mereka meledak dahsyat. Wyvern yang tadinya terbang di atas langit mulai berjatuhan menghantam bangunan, jalanan dan beberapa masuk ke dalam sungai dengan darah yang mengalir terbawa arus.


Itu cara membunuh secara mudah dan cepat.


Claudia tersenyum kecil.


"Kerja bagus Corna, kurasa kita akan sibuk membersihkan kekacauan ini."


"Iya."


Mereka bisa santai seperti itu walaupun barusan kami bertarung habis-habisan, aku terduduk dengan wajah lelah. Kila mendekat padaku dengan kecewa.


"Tidak ada yang memperbolehkanku membuat jebakan nyan, ini tidak adil."


"Jika kau lakukan itu, kota ini yang malah akan semakin parah."


"Kau juga sama nyan"


Marah juga tidak perlu.


Kami merasa tidak enak harus pergi di saat situasi seperti ini, namun perjalanan kami jelas tidak mungkin harus ditunda lagi.


Claudia memberikan kami surat yang dijanjikannya.


"Jangan khawatirkan soal kota... para tukang akan melakukan hal terbaik untuk memperbaikinya, berkat kalian tidak ada penduduk yang meninggal, walaupun beberapa terluka berat dan harus menjalani penyembuhan. Sekali lagi terima kasih."


Aku merasa senang bahwa semuanya tidak terlalu buruk seperti yang aku pikirkan.


"Kalau begitu kami permisi."


"Yap, jaga diri kalian... wilayah selatan mungkin sedang dalam kekacauan tapi kurasa aku punya firasat baik bahwa kalian bisa melewatinya."


"Sampai nanti bibi."


"Iya."


Lambaian tangan Claudia mengantarkan kepergian kami bersama Corna di sebelahnya.