Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 33 : Latih Tanding


"Sayangnya aku hanya akan menulisnya besok pagi karenanya kalian harus menginap di sini, benar... bagaimana kalau kita adakan pesta tidur bersama, seperti saling menceritakan kisah-kisah cinta."


"Aku tidak keberatan nyan, begini-begini aku sudah ditolak banyak pria nyan."


Seharusnya kamu tidak boleh bangga dengan itu.


"Sempurna, kita bisa berbagi cerita apapun itu."


Sepertinya kekhawatiranku tidak perlu, Claudia hanya seorang gadis biasa pada umumnya walaupun aku yakin dia memiliki kemampuan bertarung yang hebat yang disembunyikannya.


Untuk menyegarkan diri aku memutuskan pergi ke perkarangan luas ini, rumput di sini terawat dengan baik bahkan ketika kamu tidur di atasnya rasanya begitu nyaman.


Claudia secara mengejutkan duduk di sebelahku.


"Yang lainnya?" tanyaku.


"Mereka sedang mandi, aku ingin mandi juga tapi aku sudah melakukannya sebelum kalian datang kemari."


"Ah iya."


"Aku dengar kamu menjadi murid tuan Rider, berarti kamu juniorku."


"Junior? Jangan bilang Anda juga dilatih olehnya."


"Tentu saja, Cosetta juga.. Rider itu penyihir terkuat di dunia ini, aku bisa menjaminnya."


Aku juga mempercayai hal itu.


"Sementara mereka sibuk bagaimana kalau kita mencoba berlatih bersama?" Claudia mengedipkan satu matanya selagi berkata demikian.


Aku merasa penasaran dengan kemampuanku ataupun kemampuan milik Claudia, jadi tidak ada salahnya untuk menerimanya juga.


Cosetta memunculkan sebuah sabit hitam raksasa yang melebihi tubuhnya sendiri. Itu jelas dibuat dengan sangat baik.


Aku bisa melihat sebuah kegelapan yang keluar dari pegangannya, ia memutarnya beberapa saat sebelum mengayunkannya ke samping.


"Sudah lama aku tidak menggunakan senjata ini, ini terbuat dari material yang hanya didapat dari Big Turtle."


"Benarkah, apa makhluk itu memang ada?"


"Tentu saja ada, kalau tidak salah terakhir kali ia masuk ke dalam laut hingga tidak ada siapapun yang bisa menemukannya, yah.. kurasa dia marah karena selalu banyak petualang yang memanjat ke punggungnya."


Aku bisa mengerti itu.


Aku menarik pedangku yang menampilkan kilauan cerah saat tertimpa cahaya matahari.


"Pedang yang bagus, tunjukan semua kemampuanmu."


Aku melesat maju seolah ada sebuah dorongan kuat yang meluncurkanku begitu saja, aku menyerang dari depan dan Claudia menahannya seolah itu bukan sesuatu yang sulit baginya.


"Kamu memiliki sihir unik, sihir percepatan yah."


"Aku masih belum menunjukkan semuanya."


Aku muncul disampingnya lalu menebaskan pedang, kemudian di belakangnya dan sisi lainnya.


Bunyi rentetan logam yang saling berbenturan menghasilkan suara harmonis yang cukup memekakkan telinga.


Trang, Trang Trang.


Ketika Claudia balas menyerang dengan mengayunkan sabitnya dari atas ke bawah, aku berhasil menghindarinya dengan lompatan kecil, kendati demikian serangan tersebut menciptakan ledakan yang menghempaskanku jauh ke belakang.


"Gerakan yang bagus, yang barusan tidak banyak orang yang mampu menghindarinya."


Inilah kemampuan sesungguhnya dari seseorang yang selalu berada di medan perang, jika kebanyakan bangsawan hanya bermalas-malasan pastinya gadis di depanku sebaliknya.


"Tidak mau menyerang dulu, kalau begitu giliranku."


Dia langsung menghilang dari pandanganku, atau lebih tepatnya dia bergerak sangat cepat hingga mataku sulit mengikutinya.


Di detik akhir aku menyadarinya dan langsung menahan ayunan sabitnya, ketika aku akan membalas Claudia telah hilang kembali.


"Aku juga harus bisa menambahkan kecepatanku 10 kali lipat."


Lingkaran sihir dengan jumlah sepuluh buah muncul di pijakan kakiku, dan aku juga menghilang untuk mengikuti pergerakan Claudia.


Hanya kilatan pedang saja yang menjadi satu-satunya yang bisa dilihat dari pertarungan ini.


Selanjutnya aku sudah terbaring di tanah dengan sabit melingkar di leherku.


"Sepertinya aku menang."


"Aku masih harus banyak belajar."


"Sejujurnya kamu luar biasa Okta, aku yakin sebentar lagi kamu akan melampauiku.. atau mungkin kamu punya kartu As yang hanya akan digunakan dalam pertarungan hidup dan mati."


Dia menyadarinya tapi tidak berbicara lebih dari itu.


Claudia menarik kembali sabitnya lalu menghilangkannya begitu saja.


"Aku tidak aneh jika kamu benar-benar jadi seorang pahlawan, kamu kuat."


Aku tidak tahu apa itu perkataan yang sebenarnya atau sebuah hiburan saja.