Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 53 : Setelahnya


Aku merasakan sesuatu dari dalam selimutku, ketika aku membukanya di sana ada wajah manis Kila yang menunjukan senyuman nakalnya.


"Kau sudah bangun nyan, aku pikir kami akan kehilanganmu."


"Kehilangan jidatmu, aku tidak akan mati begitu saja. Aku hanya tidur."


Pertarungan melawan Orifiel sangatlah melelahkan karenanya saat semua orang merayakan kemenangan, aku sudah mengambil waktu lebih dulu untuk beristirahat.


Tidak hanya Kila, di dalam selimutku ada juga Marie, berbeda darinya dia sepenuhnya telanjang.


Aku bisa melihat semuanya yang membuatku segera menampar diriku agar tersadar dari kenyataan.


"Dan kau? Apa yang kau lakukan di sana?"


"Bukannya hal semacam ini yang disukai pria, seorang gadis telanjang yang minta dimakan, beberapa pelayan di ibukota melakukan hal sama."


Jika itu benar maka betapa mengerikannya dunia ini, satu hal yang bisa aku lakukan adalah ingin mengusir mereka secepat mungkin.


Aku melirik ke samping dimana Yue, Noel dan juga En, duduk di sana memperhatikan.


"Kalian seharusnya menghentikan mereka."


"Aku pikir kamu perlu dihibur dengan cara seperti ini," balas Noel selagi mengacungkan jempolnya.


En melanjutkan.


"Sebaiknya kamu memeriksanya, kemungkinan kamu sudah bukan perawan."


Kurasa dia hanya mencoba mempermainkanku.


Aku tidak membencinya hanya saja aku tidak terbiasa dengan hal-hal aneh seperti ini, Marie yang sedang mengenakan pakaiannya berkata.


"Pasukan militer sangat sibuk, mereka memberikan kita banyak uang kemudian pergi begitu saja."


Yue yang menjawabnya.


"Mau bagaimana lagi, mereka harus menjemput kembali anggota kerajaan dan mulai membangun ulang kerajaan ini, mereka akan kerja lembur."


Yue terlihat menikmati penderitaan mereka.


"Bekerja untuk kerajaan memang merepotkan, mari kita kembali ke kota labirin saja."


En dengan senang memberikan usulan yang sama yang diinginkan semua orang, aku memotong dengan cepat.


"Lalu Orifiel?"


Sebelum ada yang menjawabnya, sosoknya sendiri telah masuk dari pintu.


Dia mengenakan gaun terusan putih dengan penampilan yang jauh lebih lembut dari yang terakhir aku ingat.


"Aku sudah mendengar semuanya, maaf sudah merepotkan dan juga aku sangat berterima kasih pada kalian."


Dia membungkukkan kepalanya yang segera aku tolak dengan cepat. Tidak enak melihat siapapun membungkuk padaku.


"Aku sudah mengembalikan kembali gerbangnya seharusnya itu akan baik-baik saja kedepannya."


Senang mendengarnya.


"Aku benar-benar ceroboh, saat aku mengunjungi kota terakhir kali, beberapa orang telah menghentikanku... tidak diduga mereka malah menggunakan lampion untuk mengendalikanku."


"Guild kegelapan memang seperti itu, entah rencana seperti apa lagi yang akan mereka gunakan ke depannya," tambah Noel seolah di masa lalu ia juga sering terlibat dengannya.


"Sebaiknya aku pergi sekarang, sebagai rasa terima kasihku ambilah ini."


Aku menerima sebuah tiket dari Orifiel, aku bertanya-tanya sebenarnya apa ini dan ia menjelaskan.


"Tiket ini adalah sebuah kunci untuk pergi ke resort pinggir pantai pribadi. Di sana merupakan tempat indah untuk berlibur, jika kalian sudah lelah dengan pekerjaan kalian bisa berkunjung ke sana, dengan ini kalian bisa tinggal di sana secara gratis."


Apa semudah itu?


Aku melihat benda itu dengan seksama, alamatnya juga tertulis di sana. Dan jelas perlu banyak uang hanya untuk menghabiskan waktu di sana.


"Kuharap kalian bisa menikmatinya."


Tak lama kemudian sepasang sayap muncul di punggung Orifiel dengan indahnya, dia keluar dari jendela lalu pergi ke atas langit.


Kami hanya menyaksikan kepergiannya dari kejauhan.


Aku kembali melirik ke arah rekan petualangku. Kami sudah cukup lelah dengan ini, kurasa tidak masalah untuk berlibur.


Aku menggelar tikar di pantai sebelum duduk memandang pemandangan pantai yang memukau, dengan langit cerah serta gelombang laut yang menenangkan.


Sebuah bola voli menghantam kepalaku.


"Apa yang kamu lakukan di sana nyan, mari kita bermain. Fufu apa kau takut hingga hanya bermalas-malasan nyan."


Aku tidak suka diprovokasi tapi kurasa aku akan ikut.


"Jangan menangis jika kalah."


"Itu berlaku untukmu nyan."


Aku dan Kila duduk dipojokan tampak murung, tidak ada yang bilang bahwa kami satu kelompok dan sama-sama kalah.