Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 37 : Penduduk Desa


Yang menunggu kami di akhir adalah sebuah keputusasaan, desa Tora terlihat sudah hancur dan hanya menyisakan puing-puing berserakan.


Beberapa mayat ditemukan di sekitarnya dengan kondisi tidak utuh, seolah tercabik-cabik oleh cakar tajam.


"Mustahil."


Tora mulai berlarian ke sana kemari, sedangkan kami memutuskan untuk mengumpulkan setiap mayat lalu akan kami kubur dalam satu liang lahat, bagaimanapun kami tidak mungkin membiarkannya begitu saja.


Marie dan aku mulai bersama-sama menggusur orang-orang tersebut lalu memasukannya ke lubang yang dibuat oleh sihir Yue.


Tora juga memastikan bahwa ada keluarganya atau tidak.


"Bagaimana nyan?"


"Tidak ada, beberapa penduduk juga tidak ditemukan."


"Okta apa mereka sudah dimakan?" tanya Noel.


"Masih belum tentu, dilihat dari semua mayat makhluk yang menyerang mereka tidak memakannya melainkan hanya membunuhnya demi kesenangan, jika kamu tahu sebuah tempat yang aman di dekat sini kemungkinan mereka melarikan diri ke sana."


Menanggapi pernyataanku Tora diam memikirkannya sesaat.


"Kalau tidak salah di sana ada sebuah gua yang bisa ditinggali banyak orang, hanya itu yang bisa aku pikirkan."


Tempatnya sendiri berada di hutan yang sama yang sebelumnya para serigala mengejar kami, areanya sendiri berasa di pinggirannya.


"Aku merasakan firasat buruk, kita akan langsung pergi ke sana."


Tanpa pikir panjang kami segera bergerak, kami tiba di gua saat langit mulai berubah kejinggaan, hanya sepuluh menit lagi sampai matahari benar-benar tenggelam.


Di dalam gua beberapa orang muncul, salah satu dari mereka adalah keluarga Tora yang terdiri dari istri dan dua anak.


"Syukurlah, kalian selamat... aku membawa obat, silahkan bagikan."


Para penduduk itu terlihat tidak menunjukkan wajah senang, salah satunya membalas.


"Maaf Tora semua orang yang sakit tidak ada yang selamat."


Itu sudah cukup membuat Tora jatuh.


"Kami sudah terjebak di sini seharian, semenjak itu kami belum makan."


Kami berdua bersembunyi untuk mencari buruan seperti apa yang akan kami dapatkan hari ini, sayangnya ini sudah mendekati malam tidak ada buruan yang tersisa.


"Bagaimana sekarang Okta?"


"Tidak ada pilihan lagi, Marie tolong cari saja buah-buahan, jamur dan lainnya, aku akan mengambil ikan di sungai."


"Baik."


"Jangan terlalu jauh."


Aku berdiri di tengah sungai selagi memperhatikan air di bawah kakiku.


Berkat latihan di sungai itu, aku mempunyai kemampuan unik yaitu menangkap ikan dengan hanya tangan kosong.


Aku mengirimkan tanganku seperti sebuah tombak, mengambil ikan kemudian melemparkannya segera mungkin ke daratan.


Ada sekitar 20 orang di dalam gua tersebut maka jumlah ikan yang harus aku dapat harus dua kali lipat.


Setelah sekitar lima menit aku telah mendapatkan banyak ikan, Marie juga muncul dengan beberapa buah-buahan dan jamur.


"Kurasa ini sudah cukup."


Kami membawanya dengan sebuah karung dan saat kembali ke gua itu sudah malam hari.


Yue, Kila dan Noel dibantu para ibu-ibu mulai mengolahnya sementara aku dan Marie berjaga di luar.


Bukan tidak aneh jika serigala itu muncul dan menemukan tempat ini, pada dasarnya merekalah yang menyerang desa dan jika mereka datang kami harus mengalahkan mereka.


"Aku masih memikirkan suara lolongan sebelumnya, apa suara itu berasal dari pemimpinnya?"


"Iya, tidak salah lagi... saat aku masih berada di pemukiman elf seseorang pernah bercerita padaku. Dia melihat seekor serigala yang bisa mengecil dan membesar serta menghasilkan suara nyaring yang cukup memekakkan telinga, mereka menyebutnya Fenrir."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Dia hanya melihat dari kejauhan karena ketakutan dan membiarkannya pergi begitu saja."


Itu pasti pengalaman yang menakutkan bagi sebagian orang.