
Aku bangun dari tidur dan melihat ke jendela bahwa ada asap yang mengepul ke udara, tak lama sebuah ketukan terdengar dan itu berasal dari Yue.
"Apa di luar ada penyerangan?"
"Lebih tepatnya segerombolan monster."
Aku mengambil pedangku dan lalu berlari bersama Yue untuk menyusul yang lainnya yang telah lebih dulu pergi.
Monster yang menyerang kota ini merupakan Wyvern, seekor kadal yang menyerupai seekor naga, mereka bisa terbang serta mampu menyemburkan bola api dari mulut mereka.
Beberapa ekor Wyvern yang berada di jalanan kami mulai mengarahkan pandangan ke arah kami berdua.
"Biar aku yang atasi."
Yue menebakkan bola api yang langsung menghantam wajah mereka sekaligus secara bersamaan. Disusul dengan air selanjutnya tanah.
Itu semua combo yang luar biasa dalam penguasaan sihir, seekor lagi menyelinap di belakangku dan aku memenggal kepalanya hingga darah menyembur ke udara.
Dari kejauhan aku bisa melihat banyak dari mereka yang mencoba menyerang penduduk, di sisi lain kelompokku yang lain mengalami pertarungan yang sama.
Yue dan aku saling bahu-membahu untuk menyelamatkan mereka.
Srak.
Darah menyembur dari tubuh Wyvern yang lainnya, itu bukan dariku ataupun Yue melainkan seorang yang baru saja jatuh dari langit selagi memegangi sabit besar di tangannya.
Dia adalah Claudia.
Dengan kemampuannya memainkan senjata Wyvern terpotong-potong menjadi serpihan kecil.
"Kalian berani menyerang kotaku maka terimalah akibatnya."
Dia benar-benar keren dalam mode bertarungnya,
"Yue dan juga Okta."
Kami sedikit terkejut karena nama kami dipanggil.
"Aku sudah menerima informasi bahwa monster-monster ini semua keluar dari gerbang yang ada di luar kota, bisakah kalian memeriksanya sementara aku sibuk melawan mereka."
Di sana ada sebuah gerbang raksasa yang mengeluarkan ratusan monster Wyvern yang buas dan telihat tidak akan berkurang.
"Apa itu gebang Solomon?" tanyaku demikian. Namun, Yue juga tidak bisa memastikan itu benar atau salah karena dia juga baru pertama kalinya melihatnya.
Gerbangnya sangat besar dengan masing-masing sisi dipegang oleh semacam Parung tengkorak bersayap.
Sekilas juga bisa dipastikan akan sulit untuk menutupnya, kami tidak tahu caranya.
"Ketika kami mendekat gerbang itu tiba-tiba tertutup sendiri lalu menghilang seutuhnya."
"Apa yang terjadi? tanyaku demikian namun dijawab oleh sosok makhluk bersayap putih yang turun dari langit.
"Aku hanya mengirimkan sejumlah kecil monster ke wilayah ini, kuharap kalian menyukainya."
"Kenapa kau melakukan ini semua?" tanya Yue.
"Aku tidak perlu mengatakannya pada kalian, namun akan kuberitahu bahwa dunia ini akan segera berakhir."
Aku melemparkan batu yang dipercepat 100 kali lipat. Dia menangkapnya dengan santai lalu berkata.
"Menunjukkan kemampuanmu di depanku, itu hanya akan terbuang sia-sia."
Dia melemparkan batunya kembali, sama seperti yang aku lakukan ia menirunya sama persis hingga kami berdua melompat untuk menghindarinya.
Itu menciptakan ledakan luar biasa, bahkan kekuatannya juga lebih dari yang aku bayangkan. Ketika aku hendak melakukannya kembali aku tidak bisa menciptakan lingkaran sihir.
"Ini?"
"Ini merupakan kemampuanku, selama aku melihat sihir apapun aku bisa mengambilnya."
"Kalau begitu bagaimana dengan pukulan!"
Yue sudah berada di depan musuh kami selagi memberikan tendangan melayang, malaikat tersebut menarik dirinya ke belakang untuk menghindar kemudian membalas dengan pukulan.
Yue tidak begitu saja terkena, dia juga mampu mengelak dengan baik sebelum keduanya beradu tinju.