Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 44 : Lantai Terakhir


Setelah menimbang-nimbang banyak hal, aku akhirnya yang akan maju, setelah melepaskan pakaianku aku melompat ke dalam air kemudian menyelam semakin dalam dengan arahan seekor ikan.


Aku bisa merasakan bahwa nafasku mulai keluar dari hidungku.


Paling tidak aku bisa melakukannya selama tiga menit.


Di dalam sana aku bisa melihat sebuah ganggang bersinar, tanpa ragu aku memakannya dan rasanya luar biasa. Aku benar-benar bisa bernafas dalam air.


Rasa sakit yang sebelumnya aku rasakan menghilang setelahnya.


Sebelumnya di sini terdapat monster namun setelah Fel kalahkan tidak ada lagi, singkatnya aku mendapatkan kemudahan ini karena berkatnya juga. Aku mengambil secukupnya untuk diberikan pada yang lainnya selanjutnya kami berenang bersama.


Semua ini pemandangan yang indah,


Kami keluar dari air yang merupakan tempat terakhir dungeon ini lantai 70. Pantas saja sampai kapanpun seseorang akan kesulitan untuk mencapai lantai ini.


"Kalau begitu berhati-hatilah, panggil saja aku jika kalian mau kembali."


"Terima kasih banyak."


"Tidak masalah."


Si ikan melambai sebelum masuk ke dalam air.


Kami mengenakan pakaian kami kembali selagi mempersiapkan peralatan yang sebelumnya disimpan di sihir penyimpanan Yue.


"Aku sudah selesai nyan, mari bertarung."


"Aku tidak masalah untuk mengenakan pakaian dalam saja."


Anggapan Marie jelas aku memprotesnya. Aku akan kesulitan untuk tetap fokus jika dia berpenampilan seperti itu.


Kami segera bergerak ke arah altar satu-satunya di tempat ini, ada sebuah tumpukan emas di sana namun dibandingkan apapun hanya ada satu pedang yang menancap indah yang menjadi tujuan kami.


Yue memperingati kami.


"Dari atas."


Kami semua melompat mundur saat sesosok makhluk mengerikan menjatuhkan dirinya di sana, itu merupakan monster dengan tubuh kalajengking sementara bagian atas menyerupai tubuh manusia dengan lengan penjepit.


Bentuknya aneh tapi jelas ini makhluk yang paling kuat diantara semuanya. Makhluk ini disebut Loading.


Aku sudah tidak bisa menggunakan pedang ataupun lemparan batu yang aku miliki hanya sebuah pukulan, aku mengirim pukulanku dan di luar dugaan Loading telah melompat jauh di atas.


"Dengan ukuran sebesar itu ia bisa melakukannya."


"Ini kesempatan."


Yue menciptakan tombak-tombak api yang dilesatkannya sekaligus. Loading terhantam tepat sasaran hingga dia menukik ke tanah.


Di udara akan sulit untuk menghindari serangan seperti itu, di saat kejatuhannya Noel menerjang maju dengan Kila, aku mengikuti di belakang.


Loading hendak menggunakan suntikan racun dari ekornya, beruntung Marie telah mengikatnya dengan rantainya memaksanya kehilangan momentum.


Kila memberikan pukulan brutal, walau Loading menahannya itu menghancurkan tangannya, selanjutnya disusul dengan tebasan mengerikan dari Noel yang memotong seluruh kakinya hingga putus.


Aku sudah melompat mengantikan Kila untuk memberikan pukulan berikutnya yang terus mengenai dadanya.


Dari kejauhan aku bisa melihat Yue telah menciptakan tombak dari api, air, angin dan juga petir.


Itu terbungkus dengan rapih sebelum dia lemparkan dengan kecepatan tinggi, tombak mengerikan itu menghantam tubuh Loading menyeretnya beberapa meter sebelum lubang muncul di tubuhnya.


Hanya waktu singkat dia jatuh tidak berdaya.


Aku yang memperhatikan semua itu hanya heran dan juga bingung.


Orang-orang ini kalau serius ternyata mengerikan, aku sempat berpikir apa kelompok ini diisi orang oper power.


Apapun itu, yang terpenting kami berhasil mengalahkannya.


Aku memegang pedang suci dan saat aku menariknya itu bersinar menyilaukan.


"Pedang suci didapatkan."


Aku akan merasa seperti seorang pahlawan sekarang kalau saja para gadis ini tidak berebut mengamankan harta lainnya.


"Yang ini bagus."


"Ini punyaku."


"Kalian semua," kataku pelan.