Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 22 : Boneka Terkutuk


Aku menambahkan lingkaran sihir di bawah kakiku untuk mempercepat pergerakanku, boneka tersebut membuka mulutnya dan dari sana jarum yang tidak terhitung jumlahnya dimuntahkan seperti sebuah permainan.


Jarum-jarum tersebut kini mulai seperti sebuah tsunami yang menelan apapun di depannya.


"Mustahil, mustahil, aku bisa mengalahkan orang seperti ini... mereka terlalu mengerikan."


Aku mengeluarkan banyak jimat lalu melemparkannya ke udara untuk menciptakan api dan angin, serangan itu bergabung menjadi sebuah pusaran tornado api yang melahap mereka sekaligus.


Jimat ini tidak murah, yang aku pikirkan sekarang.


Seseorang menarikku ke samping dan ia adalah Kokoro.


"Barusan hampir saja, kamu cukup pandai bertarung."


"Meski begitu, kekuatanku masih kurang dalam melawannya," balasku jujur.


"Kita akan menyerangnya bersama, yang harus kita waspadai hanya bonekanya yang menghilang."


Aku memaksa Kokoro untuk menundukkan kepalanya dan dalam sekejap bangunan di sekeliling kami terbelah layaknya sebuah kertas. Satu kelengahan adalah kematian.


"Hanya kamu yang bisa melihatnya, beritahu aku lokasi bonekanya maka akan kuledakan sekaligus," katanya demikian.


Tidak ada pilihan, jika kami ingin menang kami memang harus bekerja sama. Aku dan Kokoro melompat mundur untuk menghindari serangan berikutnya.


Aku berfungsi sebagai matanya dan Kokoro sebagai senjata rahasia milikku, kami punya kesempatan menang.


"Di kanan, 20 meter dari kita."


Sebuah lingkaran sihir muncul di udara dan itu meledak membuat kepala boneka mengeluarkan asap hingga kemampuan bersembunyinya terlihat.


Ketika Kokoro akan menggunakan sihir lebih kuat, Gore muncul di depannya dengan sebuah benang yang dia tarik di tangannya. Aku menarik Kokoro untuk mundur.


Akibatnya tangan kiriku terpotong ke udara.


"Okta?"


"Jangan hiraukan aku habisi bonekanya."


Aku memaksa Gore untuk mundur dengan tebasanku, sementara itu boneka yang merepotkan kami telah ditempeli banyak lingkaran sihir, ketika Kokoro menjentikkan jarinya ledakan dahsyat menelannya dalam kobaran api.


Kokoro merobek pakaiannya untuk mengikatkannya ke tanganku yang terpotong demi menghentikan darahnya.


"Kalian cukup hebat, sayangnya tentu saja aku bisa memanggil makhluk yang berbeda untuk melawan kalian."


Sihir dirapalkan oleh Gore, aku sudah menduganya dari awal karena itulah saat dia menghindari seranganku barusan aku menempelkan jimatku yang terakhir di lengannya.


Itu meledak membuat sihirnya hancur.


"Apa yang?"


Aku bangkit lalu menciptakan beberapa lingkaran sihir di depanku, tidak ada kerikil yang tersisa karena itulah aku melemparkan pedangku.


Saat pedang menebus lingkaran sihir kecepatannya berubah berkali-kali lipat lalu ujungnya menembus kepala Gore hingga ia roboh seutuhnya.


Aku kehilangan tenaga namun saat aku jatuh bukan lantai batu yang menghantam kepalaku melainkan sebuah bantal empuk. Ini adalah bantal paha.


"Ugh, Kokoro.. Maksudku tuan putri."


"Tidak masalah, panggil saja seperti apa yang kamu inginkan... kita sudah terlalu lelah mari beristirahat sebentar di sini."


Aku hanya mengangguk sebagai balasan, hanya sepuluh menit untuk aku akhirnya berdiri kembali. Jika aku terlalu lama aku khawatir bahwa kaki Kokoro akan kesemutan.


Aku mengambil pedangku lalu menyarungkannya kembali, tak lupa aku juga membawa tanganku.


"Mari kita pergi ke tempat selanjutnya."


"Iya."


Walau aku kehilangan satu tangan aku harap aku masih bisa membantu di istana nantinya, kini yang bisa kami harapkan bahwa semua orang juga melakukan tugasnya dengan baik.


Kami meninggalkan mayat-mayat orang-orang begitu saja, walau hanya satu tangan itu tidak mempersulitku untuk menunggangi seekor kuda.