
Nyonya Matilda menatap Derry yang datang ke rumah ini. Karena kedatangannya pula yang membuat sang nyonya penguasa rumah besar ini memberikannya tatapan yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Tapi Derry harus bisa bersikap biasa saja karena dia datang kesini untuk bertemu dengan Elisa karena memang wanita itu meminta imbalan darinya.
Bukan untuk uang yang di mintanya, tapi wanita itu meminta untuk meluangkan waktu bersamanya sehari saja.
Maka untuk itu dia harus melakukan ini dan harus berhadapan dengan nyonya Matilda.
" Katakan apa kepentingan mu untuk datang ke rumah ini ? bukan kan aku sudah mengatakannya bahwa kalian berdua tidak ku biarkan datang ke rumah ini. Lalu apa yang membuat mu berani datang kesini ?" Derry bingung harus menjawab apa saat ini.
Bagaimana dia harus menjawab nyonya Matilda saat ini ?
" Saya ingin mencari pelayan yang bernama Elisa Nyonya. " Sorot mata tajam nyonya Matilda membuat Derry semakin gugup.
Rasanya dia sudah seperti ingin melamar seorang wanita yang ingin di nikahinya.
Wait, tunggu dulu. Kenapa Derry langsung berpikir ke arah sana ? kenapa dia bisa berpikir tentang lamar melamar ?
" Ada apa kau dengan pelayan baru itu ? Aku seperti tengah mencium sebuah konspirasi di sini. "
" Saya tidak melakukan apapun itu Nyonya. Saya hanya ingin meminta izin untuk pergi bersama Elisa karena saya---" Derry bingung harus mengatakan apa lagi untuk kelanjutannya.
Tapi beruntunglah dia saat Elisa datang dan membantu menjawabnya.
" Kami akan pergi berkencan Nyonya. " Kedua bola mata Derry membulat sempurna saat mendengar kata kencan yang keluar begitu saja dari bibir wanita yang terlihat seperti remaja itu.
" Kencan ? " Nyonya Matilda menatap Derry dan Elisa bergantian.
Terlihat kegugupan yang sangat jelas di wajah Derry tapi tidak dengan Elisa yang terlihat begitu sangat santai dengan apa yang dikatakannya tadi.
" Iya Nyonya. " Jawabnya dengan penuh semangat.
Bahkan anggukan kepalanya juga menandakan bahwa dia saat ini Elisa terlihat sangat begitu bahagia.
" Kami akan berkencan. Saya dan Tuan Derry akan berkencan. Bolehkan Nyonya ?" Matanya mengerjai bagaikan kucing Oren yang sangat menggemaskan.
" Pergilah. Pulang sebelum matahari terbenam. Jika sampai kalian kembali setelah mata hari terbenam, maka saat itu juga aku akan membenamkan kalian berdua " Elisa langsung menghampiri Derry dan menarik tangannya.
Derry yang di tarik begitu saja oleh Elisa tidak bisa berbuat apapun lagi selain menurut dan mengikuti Elisa yang langsung beraksi membawanya.
" Dasar anak muda. " Nyonya Matilda tidak habis pikir dengan tingkah Elisa yang terlihat sangat menyukai Derry.
Sementara itu, Elisa yang menarik tangan Derry akhirnya mereka bisa bernafas lega saat sudah keluar dari rumah besar itu dan sampai di dalam mobilnya.
" Hah, akhirnya kita selamat tuan..." Elisa tersenyum sambil menatap ke arah Derry.
Sementara Derry yang mendapatkan senyuman seperti itu dari Elisa membuat dunia seakan berhenti berputar sesaat. Apalagi melihat gigi Elisa yang memiliki gingsul seperti itu.
Sungguh sangat cantik, manis dan juga menggemaskan sekaligus.
" Hello, tuan..." Elisa berusaha menyadarkan Derry yang terlihat melamun.
Mendapati wajah Elisa yang begitu dekat dengannya membuat Derry langsung memundurkan tubuhnya untuk menghindari Elisa yang membuat kerja jantungnya semakin menggila.
" Apa yang kau lakukan ?" Tanya Derry yang gugup merasakan jantungnya saat ini.
" Aku berbicara pada tuan tapi tuan tidak mendengarnya. " Jawab Elisa pada Derry yang terlihat memerah wajahnya.
Karena khawatir dengan Derry Elisa pun berusaha untuk mengecek keadaan Derry namun langsung di tolak oleh pria itu.
" Jangan berani melakukan hal itu. Sekarang duduk di tempat mu dan pastikan bahwa sabuk pengaman mu terpasang dengan baik. " Elisa pun mengerucutkan bibirnya saat mendapati kata-kata pedas dari Derry.
Bukannya sakit hati, Elisa malah semakin berulah karena dia tidak bisa memakai sabuk pengaman karena dia tidak pernah naik mobil sebelumnya.
" Astaga Elisa, kau benar-benar membuat ku kesal. Bagaimana bisa ada manusia sekuno dirimu. Bahkan memasang sabuk pengaman pun kau tidak bisa. "
" Lalu apa gunanya tuan disini ? Aku benar-benar tidak bisa memasangnya lalu bagaimana ? tidak kah tuan ingin membantu saya memasangkan ini ?" Derry pun menarik nafasnya dalam sebelum memasangkan sabuk pengaman untuk Elisa.
Dia berusaha sekuat mungkin untuk mengontrol detak jantungnya berharap Elisa tidak mendengar suara degup jantungnya yang begitu kencang.
Begitu juga dengan Elisa, dia merasakan bahwa jantungnya saat ini sedang meledak meletup karena berada di posisi yang begitu dekat dan intim bersama Derry.
Mereka berdua sama-sama merasakan degupan jantung yang luar biasa biasa ini.
Ahhh...tuan Derry wangi sekali. Tuhan, tolong hentikan waktu sejenak agar aku bisa merasakan saat-saat bersama tuan Derry seperti ini. Setidaknya jika aku tidak bisa memilikinya aku harap dia tau bahwa aku menyukainya.
Elisa hanya mampu berbicara dalam hatinya. Dia belum seberani itu untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
Dia masih ingin menikmati perasaannya bersama Derry seperti ini.
...💦💦💦...