
"I..itu"
"Bagaimana kalau sayang? istri? atau honey?" goda Alex.
"Ehhh..." pekik Cyla terkejut. Wajahnya mulai merona kembali, dan rona pipi yang tadinya ada masih belum dipadamkan nya sama sekali.
"Sayang..." goda Alex tepat di telinga Cyla.
"Bukankah itu sedikit membosankan, Daddy" sela Rei yang berdiri di tengah-tengah kedua pasangan tersebut.
"Membosankan?"
"Ya sangat-sangat membosankan, padahal panggilan pasangan itu masih banyak tapi kenapa harus menggunakan panggilan 'Sayang' yang merupakan panggilan umum dan sering digunakan" jelas Rei yang sering mendengar dari kakek buyut, kakek, bahkan pamannya.
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Alex to the poin. Karena Alex tau jika anaknya sudah menjelaskan panjang lebar sudah dipastikan anaknya memiliki sesuatu untuk diucapkan maupun diungkapkan secara langsung.
"Kenapa tidak sun and moon?" ucap Rei.
"Sun and moon?" bingung Cyla dengan panggilan pasangan yang aneh.
"Jangan bilang..."
"Benar sekali Daddy,, mommy memiliki aura hangat dan senyuman yang manis seperti matahari dan Daddy gelap dan dingin seperti bulan di malam hari. Namun kedua hal itu saling bersangkutan yaitu menciptakan sebuah cahaya di setiap hari walaupun berbeda waktu terbitnya" jelas Rei yang diakhiri dengan senyuman kecilnya.
"Sun and moon" gumam Cyla.
"Eehhhh panggilan yang cukup menarik, sejak kapan kau mengetahui dan memiliki ide seperti itu?" tanya Alex.
"Tadi malam aku tertarik dengan astronomi dan membaca nya" jawab Rei singkat.
"Kau ingin teleskop baru?" tanya Alex.
"Tidak perlu teleskop lagi, ruangan tata Surya ku sudah dipenuhi dengan hal-hal itu" tolak Rei mentah-mentah. Dari kecil dia sering melihat bintang dan tertarik dengan angkasa. Namun sayangnya kehidupan memintanya untuk menjadi ahli waris dan membuat dirinya harus mengurangi waktu untuk hobbynya.
"Atau kau ingin roket?" tanya Alex.
"Sudah cukup untuk kartu hitam, mobil maupun perusahaan yang Daddy berikan. Aku tidak ingin apa-apa lagi kecuali..." ucap Rei berhenti dan menatap ibunya tenang.
"Kalau itu tidak boleh, Daddy tidak akan memberikannya maupun menawarnya" jelas Alex yang mengerti dengan tatapan anak laki-laki nya.
"Tenang saja aku akan merebutnya kembali" ucap Rei yang tidak ingin kalah dengan ayahnya.
"Anuu... maaf memotong pembicaraan kalian tetapi bisakah kita ke tempat kakakku? ada yang ingin ku bicarakan dengannya" jelas Cyla menyela pembicaraan kedua orang yang ada di dekatnya itu. Walaupun dirinya tertarik terhadap pembicaraan tentang hobi Rei maupun pengetahuan tentang angkasa. Tetap saja Cyla memiliki tujuan utama datang ke sini.
"Maaf sepertinya aku melupakan nya, sun" senyum Alex yang memanggil Cyla dengan sebutan sun.
"Hmmm" angguk Cyla yang mencoba menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah. Alex yang menggoda Cyla dan Rei yang hanya bisa mendengus kesal karena dianggap tidak ada.
'Teenyata ini yang dirasakan oleh temanku, jelas saja dia dianggap tidak ada jika begini' pikir Rei yang dulu mendengar semua ucapan temannya.
"Rei, apa kamu dengar perkataan mommy?" tanya Cyla yang melambaikan tangannya ke depan wajah Rei.
"Ah, maaf mommy sepertinya tadi aku melamun" senyum Rei yang memegang tangan ibunya.
"Melamun? melamun tentang apa?" tanya Cyla.
"Melamun memikirkan kehidupan ku bersama mommy kedepannya nanti, hehehe" kekeh Rei yang membuat Cyla tersenyum lembut.
"Apa kalian pikir dunia hanya milik kalian berdua saja?" jelas Alex yang ikut menggenggam tangan Cyla yang lainnya.
"Andai saja Daddy tidak ada mungkin begitu" sindir Rei sambil menatap tajam ayahnya.
"Tapj sayangnya jika Daddy tidak ada kamu tidak pernah ada, Rei" dingin Alex yang tidak kalah menatap tajam ke arah anaknya. Membuat Cyla yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa mengeluarkan ekspresi pasrah. Pasrah karena melihat sikap Alex dan Rei yang tidak pernah berhenti untuk mengalah dalam pertengkaran.
'Apa sampai ke tempat kakakku akan memakan waktu yang lama?' pikir Cyla yang melihat kondisi dirinya sekarang. Dimana tatapan tajam tidak berhenti di keluarkan di dekatnya.
Hingga semua emosi dan tatapan yang dikeluarkan berakhir di depan pintu berukuran besar dan bercat hitam glossy.
"Leon?" tanya Alex singkat terhadap dua pelayan yang menjaga di depan pintu
"Tuan Leon ada di dalam tuan, jika ingin bertemu silahkan" jawab pelayan yang menjaga di pintu.
"Leon, tentang hal itu" ucap Alex singkat membuat Leon menutup laptop dan memerintah Rangga untuk menutup layar besar yang dia gunakan saat rapat tadi.
"Duduklah aku akan membicarakan nya sekarang" ucap Leon yang mengerti dan membiarkan Alex, Cyla dan Rei duduk di dekatnya. Bagaimanapun juga rapat maupun meeting miliknya sudah diselesaikan secepatnya. Walau memakan waktu berjam-jam dari pagi sampai siang hari.
"Cyla, apa kamu baik-baik saja?" tanya Leon ke arah adik perempuan nya.
"Ya aku baik-baik saja" jawab Cyla
"Jangan berbohong, jika punggungmu Majah sakit aku akan menunda keberangkatan kita" ucap Leon yang tidak percaya dengan jawaban yang diberikan adiknya.
'Punggung? jangan bilang ...'
Blush**
"I..itu" gugup Cyla yang sadar bahwa kakaknya mengetahui kondisi sebenarnya.
"Huft, Alex bukannya sudah ku katakan saat hari pernikahanmu. Jangan melakukan secara berlebihan dan jangan membuat jadwalku menjadi mundur" jelas Leon yang melihat ekspresi Cyla.
"Aku tidak melakukan nya secara berlebihan" ucap Alex yang menolak pernyataan yang diberikan oleh Leon kepadanya
"Lalu berapa ronde yang kamu mainkan?" tanya Leon dan menatap tajam ke arah Alex.
"Hanya 3" singkat Alex membuat Leon lagi-lagi menghela nafasnya.
"Apa kau gi.."
"Kak, di sini ada anak kecil bisakah kamu tidak menggunakan kata-kata kasar" potong Cyla yang menutup telinga Rei cepat
"Hah, maafkan aku Cyla hanya saja aku ingin memarahi suamimu ini. Walaupun dia lebih berkuasa daripada dirimu tetap saja kamu adalah adikku" ucap Leon yang membuat Cyla tersenyum hangat.
"Aku tidak apa-apa kak, tubuh ku juga sudah tidak terlalu sakit" senyum Cyla yang mampu membuat Leon menghela nafas lega.
"Punggung? keberangkatan? ronde? Apa semua itu memiliki hubungan atau sebuah arti?" bingung Rei.
"I..itu" gugup Cyla yang mendengar pertanyaan dari Rei berbeda dengan Leon yang membisikkan beberapa hal kepada Rangga yang merupakan asistennya.
"Kamu tidak perlu mengetahuinya, umurmu masih belum cukup" dingin Alex.
"Benarkah? kalau begitu aku tanya dengan Oma saja" ucap Rei yang tidak terima. Tetapi langkah kakinya dihentikan oleh Rangga yang sudah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau inginkan, uncle?" tanya Rei.
"Saya akan menemani tuan muda kecil untuk bertemu dengan nyonya" jelas Rangga yang mengikuti perintah dari tuannya.
"Tidak perlu aku sendiri saja" tolak Rei.
"Saya juga memiliki urusan dengan nenek anda tuan" ucap Rangga meyakinkan.
"Baiklah, mari pergi" dingin Rei yang berjalan ke luar pintu. Rangga Ayng mengikuti anak kecil itu mengeluarkan tangan kanannya dan memberikan isyarat kepada atasannya.
"Sepertinya kita bisa melanjutkan nya secara bertiga" ucap Leon yang melihat pintu ruang dapat kembali ditutup.
"Sepertinya ini sangat mendesak sekali, sampai-sampai anakku Rei harus dibawa keluar" dingin Alex yang membuat Leon tersenyum ringan.
"Sayangnya aku tidak bisa membantah ucapan mu" senyum Leon sambil mengeluarkan tatapan yang tidak tajam lagi. Melainkan sebuah tatapan yang penuh dengan kesedihan.
"Apa terjadi sesuatu?" bingung Cyla.
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Alex kalau di atas kasur ganas juga dan ngomong-ngomong nama panggilan itu saya dapatkan dari salah satu readers yang bagi saya panggilannya lumayan menarik.
Terimakasih atas bantuan kalian semua dalam menulis tanggapan dan juga apa yang terjadi dengan Leon? kenapa dia mengeluarkan tatapan sedih? Kita akan lihat jawabannya di Exp 6. Sayonara~
Ig : @dna2005_