My Hot Daddy

My Hot Daddy
Ep. 34


"Laura, kamu terlihat cantik." Dia memutar-mutarku dengan dreas yang sampai selututku.


"Terima kasih, James, kamu juga terlihat tampan." Lalu dia berbalik dan menghadap ke cermin.


"Tutup matamu Laura. Aku akan memberikanmu sesuatu, Aku membelinya saat aku meninggalkanmu di tempat Jerri untuk suatu tugas." Aku bisa merasakan dia menyelipkan cincin di jariku.


Tidak .. tidak ... ini tidak mungkin ...


Aku bisa merasakan berat cincin itu di jari ku. Aku masih belum membuka mata. Dia menangkupkan wajahku dan menciumku dengan lembut. Aku berusaha menahan senyumku.


"Menikahlah denganku Laura, aku mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Apa kamu ingin menjadi istriku?"


Aku kaget saat dia mengucapkan kata-kata itu. Aku menangis terharu di lengannya, aku sangat senang. Aku bahkan tidak bisa menjawabnya. Dia terus memegangi wajahku sambil menatap mataku yang berlinang air mata. "Bagaimana?" Aku dengan cepat mengangguk dan memeluknya dengan erat.


"Ya! Ya James! Aku ingin menikah denganmu. Oh Astaga, make up-ku." Aku cemberut. Tapi kemudian James mengambil tangan ku dan menunjukkan kepada ku cincin itu.


"Apa kamu suka?"


"Aku suka sayang, terima kasih. Kamu tidak harus membelikanku berlian sebesar ini. Tapi aku menyukainya James. Aku mencintaimu."


"Hei, aku mengurangi ukurannya dari apa yang ditawari penjualnya." Kami berdua tertawa, lalu dia dengan cepat mengajakku untuk memperbaiki dandananku, sebelum akhirnya kami pergi ke kebun anggur.


Kami juga mengemasi pakaian kami dalam koper.


Beberapa saat kemudian..


Kami tiba di kebun anggur lima belas menit lebih lambat dari yang di janjikan, tapi dia senang. Dia bahkan tidak melihat arlojinya sekali pun dalam perjalanan ke kebun anggur. Aku menyukai sisi dirinya yang seperti ini, santai dan banyak tersenyum.


Ibunya menyambut kami di pintu masuk. "Ya Tuhan, James, apa kamu baik-baik saja? Kamu terlambat lima belas menit. Apa terjadi sesuatu? Kamu baik-baik saja, Laura?" Dia panik karena dia berharap bahwa James orangnya selalu tepat waktu.


"Sore ibu. Aku baik-baik saja. Aku baru saja bertunangan." Dia menarikku lebih dekat untuk pelukan dan mencium pipiku, membuat wajahku memerah.


"Ya Tuhan! James, kamu membuatku senang! Oh Laura! Selamat untuk kalian berdua. Ayo, aku ingin memamerkannya kepada teman-temanku." Dia menarik kami untuk pelukan yang sangat erat, karena kami berdua mengucapkan terima kasih padanya.


Dia menarikku mendekat padanya. "Ya Tuhan, Laura! Terima kasih, aku tahu kaulah satu-satunya wanita itu. Dia bahkan sampai di sini dengan terlambat hanya karenamu dan dia tampak sangat bahagia. Putraku yang pemarah sekarang sudah bahagia." Dia memelukku lagi dan memeluk James juga.


"Kamu akan mulai memanggilku ibu. Aku tidak akan menerima jawaban tidak." Dia memelukku lagi.


Lalu aku merasakan tangan James, menegang di pinggangku. Aku memandangnya tapi matanya terfokus pada orang tua ku.


"Sampah!" Gumamku rendah. Aku ingin pergi tapi James menahanku di sebelahnya. Dia berbisik di telingaku. "Kami akan menangani hal ini sekarang. Kamu akan menjadi istriku. Aku akan menjagamu." Aku bersantai di dadanya dan menghela nafas.


Orang tuanya menatap kami. "Apa ada yang salah, nak?" Dia bertanya saat dia melihat ekspresiku yang pucat.


"Orangtuanya, Laura." Dia mengarahkan pandangannya ke arah mereka. "Kalian belum pernah melihat mereka di acara ini sebelumnya. Dia tidak cocok dengan mereka. Mereka meninggalkannya setelah perceraian dan hidup bersama keluarga baru mereka." Dia mengencangkan cengkeramannya di pinggangku dan kemudian menggerakkan tangannya ke lenganku dan memeluk bahuku seperti seorang pelindung.


"Oh sayang." Lalu ibunya menarikku ke pelukannya. "Mereka datang disini karena Ibu."


"Laura, Sayang. Sepertinya kita terus bertemu. Kupikir kau masih bersama Richard, apa yang terjadi dengan pemuda itu?" Aku bisa merasakan James menegang di belakangku, dia seakan ingin membalas ayahku. Aku menggandeng tangannya dengan tanganku, dan menggelengkan kepalaku 'tidak'.


"Ayah, Richard dan aku sudah putus pada hari dimana ibunya tahu tentang perceraianmu. Tampaknya menjadi anak dari keluarga perceraian tidak sesuai dengan standar untuk keluarga senator. Jadi, terima kasih ayah. Tapi, sekarang aku sudah bersama dengan James. Ayah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Ini adalah orang tuanya, Diana dan John. "


"Begitu yah, sepertinya kamu sudah naik ke level tingkat atas anakku. Itu sangat bagus untukmu. Tapi kupikir, lebih baik kamu menemukan seseorang yang sebaya denganmu?" Ibu bergabung dalam percakapan kami.


Mata ku mulai berkaca-kaca. Aku mulai mendidih, dan merasa sangat kesal! Orang tua ku sendiri, bahkan menghakimi ku dengan begini. Mereka selalu melakukan hal ini padaku. Aku merasa ingin lari. Aku merasa sangat rendah di depan mereka, seperti tidak ada apa-apanya gitu.


Ibunya adalah orang pertama yang membela ku. "Anda Susan, kan? Dan kamu Pak Baskara? Sepertinya ini adalah kesalahanku untuk mengundang kalian ke acara kami di sini. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu keluar. John, bisakah kamu memanggil keamanan. Aku tidak ingin ada yang menyakiti tunangan putraku. Dia akan segera menjadi putri kami, jadi Anda tidak harus memberikan pendapat atas keputusannya di masa depan." Dia menarik ku ke pelukannya, dan membawa ku ke ruangan lain.


"Oh, Laura. Aku sangat menyesal tidak tahu tentang orang tuamu." Dia menyerahkan beberapa tisu, dan terus memelukku sampai James tiba.


"Mereka sudah pergi. Aku akan memastikan bahwa mereka tidak akan menerima undangan apapun di daerah kita atau bahkan di negara kita. Mereka harus membawa bisnis mereka ke tempat lain. Dan terima kasih Ibu, kamu salah satu tuan rumah yang kejam, karena memanggil keamanan seperti itu. Aku mencintaimu." Dia mencium pipi ibunya lalu ke sampingku.


Dia menertawakannya. "Aku tahu benar, aku sudah bertahun-tahun tidak bersenang-senang seperti itu hahaha. Terima kasih Laura! Sekarang orang itu tidak akan macam-macam denganku." Kata-kata itu akhirnya membuatku tertawa.


"Kenapa kamu tidak menyegarkan diri, lalu bergabung denganku dan Jonn untuk mencicipi anggur lagi? James akan menunggumu."


Dia mencium dan memberi ku pelukan, sebelum dia akhirnya meninggalkan kami.


"Jadi?" Aku menyeringai padanya. Dia menarikku untuk berciuman "Bawa aku ke kamarmu, James." Aku terengah-engah. Dia tersenyum lebar ke arahku, dan meraih tanganku. "Ayo. Kita akan melakukannya secepat mungkin." Aku tertawa dan mengikuti langkahnya di belakangnya.