
Dor***
"Arghhhh!" teriak salah satu orang di sana.
Peluru yang diluncurkan dari sebuah pistol bewarna hitam itu melesat mengenai tubuhnya. Pelatuk yang ditarik membuat darah menetes di bagian perut. Darah merah segar yang sudah memenuhi daerah luar pelabuhan mulai memenuhi di pelabuhan dalam.
"Aaarhhhhh hiks hiks" tangisan Cyla membuat ruangan itu diselimuti kesedihan dan kekejaman.
Dia ketakutan sangat ketakutan, tubuhnya yang tadinya tenang menjadi gemetaran. Melihat darah yang banyak itu mengenai tubuhnya. Dia takut sangat takut, seakan-akan dewa kematian sedang berada di dekatnya. Cyla benar-benar merasakan hal yang sangat buruk hari ini. Bahkan bunga Peony yang ada di kantungnya sudah dilumuri oleh darah bewarna merah. Memberikan sebuah warna kegelapan di dalam kecantikan bunga tersebut.
"Uhuk..."
Laki-laki itu memuntahkan cairan bewarna merah dari mulutnya. Kaki yang berdiri tegak itu tidak bisa menopang berat tubuh nya lagi. Di tertunduk dan terjatuh di lantai dingin pelabuhan tersebut. Kesadarannya masih ada dan dia bisa melihat sebuah senyum dingin dari orang yang menembaknya.
"Jika aku tidak cepat dan tidak menggunakan baju anti peluru ini, mungkin aku akan mati di tanganmu Felentino" smirk Alex sambil menatap Felentino dingin. Tangan kirinya sudah memegang pistol miliknya dan pistol miliknya mengeluarkan sedikit asap. Tembakan yang dia keluarkan berasal dari pistol miliknya dan kecepatan tangannya.
Jika saja dia tidak cepat mengoper pistol yang ada di tangan kanan ke tangan kirinya mungkin saat ini dia mati. Sayangnya sang maha kuasa mengharapkan nya hidup dan anaknya meminta dia kembali hidup-hidup. Jelas Alex tidak akan membiarkan hal sekecil itu membuatnya terluka.
Pergelangan tangan yang dipegang ayahnya tadi sedikit melonggar dan membuatnya langsung mengoper pistol miliknya ke tangan kiri yang tidak ditahan sama sekali. Mengangkat tangan kirinya dan menarik pelatuk miliknya. Saat peluru Felentino hampir mengenai dirinya, baju anti peluru tersebut menjaga tubuhnya tetap aman. Dan membuat peluru yang Alex tembakan mengenai tubuh Felentino yang hanya dilapisi baju berbahan tipis.
"Ternyata aku masih tidak bisa membunuhmu" dingin Felentino dan menekan pendarahan miliknya dengan jaket yang ada di lantai.
"Sayangnya apapun yang kamu katakan tidak akan membuatku peduli, karena disini hanya calon istri ku lah yang ku pedulikan" dingin Alex dan melepaskan baju Anti peluru nya yang rusak. Baju peluru miliknya sudah dipenuhi dengan bekas sayatan pisau belati dan tembakan peluru. Jelas tidak akan berguna lagi dan juga sekarang Cylanya sudah aman.
Hanya beberapa langkah kaki lagi, Alex akan melepaskan tali yang diikatkan di tubuh Cyla. Menciumnya dan memeluknya dengan hangat. Tidak akan melepaskan perempuan tersebut dan mengurungnya di dalam mansion miliknya. Jika orang-orang berpikir dirinya terlalu posesif atau apapun itu. Hanya saja Alex tidak ingin kehilangan Cyla lagi dan tidak ingin melihat air mata itu keluar dari matanya yang indah. Alex tidak menginginkan kesedihan milik perempuan nya.
"Cyla...." panggil Alex dan tersenyum lembut. Saat langkah kakinya mulai mendekat ke arah gadisnya. Tiba-tiba....
"Alex berhenti!" teriak Cyla dan...
Dor**
Suara tembakan lagi-lagi kembali mendengung di ruangan yang di sinari bulan itu. Seorang wanita yang tadinya bersembunyi di bayangan hitam yang tidak terkena cahaya bulan. Mulai menampakkan dirinya, di tangannya sudah terdapat sebuah pistol. Wanita itu sudah melihat apa yang dilakukan semua orang, tapi sayangnya keinginan nya malah tidak tercapai.
"Erika..." ucap Alex yang terkejut dengan kedatangan wanita tersebut tiba-tiba.
"Sudah lama ya Alex sayang kita tidak bertemu" senyum Erika dan mendekat ke arah Cyla. Dia menatap ke arah Felentino yang sepertinya sedang menahan pendarahan di perutnya.
"Felen, aku kira kau ingin membantuku membalasnya tetapi kau sama saja" ucap Erika dan menatap Felentino.
"Kalau begini kan aku harus menyelesaikan nya sendirian" lanjut Erika dan membuka kunci yang ada di kursi tersebut. Kursi yang digunakan mereka untuk mengikat Cyla bukan kunci biasa melainkan kursi yang memiliki roda di bawahnya. Hanya saja roda tersebut tidak bisa digerakkan seenaknya karena memiliki kunci untuk membukanya.
Membuat Erika dengan mudah merencanakan apa yang ada di pikirannya. Saat kursi yang terkunci itu terbuka, roda kursi dengan mudah bergerak. Tangan Erika memegang erat sandaran kursi dan menariknya menjauh dari orang-orang yang ada di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Alex dingin.
"Hanya menyentuhnya dan melanjutkan rencana milik kami" senyum Erika. Dia menarik kursi milik Cyla dan membawanya ke belakang.
"Astaga Alex sayang, kenapa kamu kejam sekali denganku? apa kamu tidak menginginkan kisah kasih kita 5 tahun yang lalu?" tanya Erika yang masih berjalan ke arah belakang sambil menarik kursi Cyla.
"Bahkan saat aku menyebut namamu saja aku ingin muntah rasanya" ejek Alex.
"Muntahlah ku harap kau memuntahkan sebuah darah atau penyesalan karena bila kamu menembakku maka ku pastikan pistol yang ada di tanganku saat ini mengenai kepala calon istrimu ini" ancam Erika balik. Dia sudah berada di ujung ruangan dan membalik posisinya. Menodongkan pistol miliknya ke kepala Cyla dan menatap tajam Alex.
Dia membenci perempuan ini dan membenci mantan suami yang merusak semua rencananya. Rencana untuk mendapatkan hartanya dan rencana untuk menjadi wanita yang paling terkenal. Erika sangat ingin membunuh mereka tapi Felentino menghentikan nya dan berkata 'Sabar'.
Sial, kesabarannya sudah berada di ujung jurang dan dia tidak memiliki kesabaran lagi saat ini. Apalagi melihat orang yang memintanya sabar itu sudah tertembak terlebih dahulu.
'Sial-sial sepertinya memang aku harus menyelesaikan nya sendiri' pikir Erika.
"Wanita j*l*ng lepaskan wanitaku!" dingin Alex yang tidak takut dengan ancaman yang diberikan Erika kepadanya. Padahal hanya sedikit lagi dia bisa memeluk Cyla tetapi wanita j*l*ng yang satu ini tiba-tiba datang. Merusak kehangatan yang ingin dia berikan menjadi dingin dan aura yang kejam
"J*l*ng? aku wanita j*l*ng katamu! hahahaha" tawa Erika pecah. Tangannya menarik pelatuk pistol miliknya dan menatap hina Alex.
"Andai saja kau tidak merusak semua rencana ku, sudah dipastikan hari ini aku dinobatkan sebagai aktor terbaik di dunia tapi.... kamu.... ya kamu mengatakan aku j*l*ng" emosi Erika.
"apa yang ingin kau lakukan wanita j*l*ng, lepaskan Cyla dan jatuhkan senjata milikmu" ucap Alex tegas. Dia menekankan setiap kalimatnya, tatapannya penuh dengan kedinginan saat melihat nafas Cyla yang terengah-engah dan air mata perempuan itu yang kembali keluar.
'Karenamu Alex, aku akan membunuh perempuan ini dan membuatmu hidup penuh dengan penderitaan" senyum Erika dan melepaskan pelatuk miliknya. Peluru yang ada di pistolnya terlepas dan mengeluarkan suara tembakan yang keras.
Dorrr***
"Alex.... whaaa hiks hiks!" tangis Cyla pecah bersamaan suara tembakan tersebut. Teriakan Alex yang khawatir memenuhi ruangan yang sunyi.
"Cylaaaaa!" teriak Alex dan menjulurkan tangannya cepat.
Andai waktu bisa berhenti sebentar saja, andai di detik itu Alex bisa menyelesaikan nya dengan cepat. Maka saat ini dia bisa menjulurkan tangannya ke arah Cyla dan menarik perempuan itu agar tidak terluka. Tetapi sayangnya semuanya hanya berada di kata Andai dan dia harus kehilangan perempuan itu di dalam ....
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Apa kabar dengan Cyla?
a. Hidup
b. Tewas
c. pilihlah antara a atau b karena aku hanya meminta dua pilihan itu Β°^Β°
Huhuhuhuhu gak tau lagi aku nulis apa tapi ini yang ada di otak dan gak tau mau bilang apa aku nulis ini penuh dengan emosi hehehehe, Sayonara~