
"James sayang, aku pergi dulu. Aku akan menemuimu malam ini, oke? Jangan terlambat. Aku mencintaimu. Aku akan mengirimimu pesan, oke?" Dia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, dia berada di tengah-tengah kesepakatan bisnis yang sangat penting dengan kantornya yang berada di luar negeri. Dia mengabaikan ku dan hanya mengedipkan mata.
Aku melakukan tugas sebagai pendamping laki-laki untuk Jerri. Kami semua pergi ke bar favoritnya untuk pesta bujangannya. Renata tinggal di rumah bersama teman-teman dan keluarganya yang akan berangkat pagi ini.
Teman-teman Jerri dari luar negeri benar-benar harus diperhitungkan. Renata benar, mereka semua pebisnis yang luar biasa, beberapa di antaranya bahkan tidak ingin mendekati bar yang penuh orang gay. Jadi, kita pindah ke Sport Bar dan tempat itu sudah ramai. Ini adalah hari yang menakutkan. Paling tidak yang bisa Kau lakukan adalah mendukung pria itu.
Aku mengirim pesan ke James karena aku berpindah tempat, sehingga dia bisa menjemput ku nanti.
James, kami mengganti tempat untuk berpesta. Jemput aku nanti di Sports Bar di lantai lima, oke. Cukup pesan atau telepon jika kau sudah dekat, datanglah lebih awal jika kamu bisa.
James membalas pesanku setengah jam kemudian.
Ya, aku tahu tempatnya. Aku akan kesana lebih cepat. Sampaikan salamku untuk Jerri. Selamat bersenang-senang. Sampai jumpa lagi.
Dia juga diundang ke pesta bujangan. Tapi dia masih terjebak dengan pekerjaannya. Dia sangat gila terhadap pekerjaannya, itulah sifatnya. Aku tidak pernah mencoba melawannya tentang hal itu.
Kami minum dan bersenang-senang. Yah, aku sudah agak kesal dengan beberapa teman Jerri Lalu terjadi perkelahian. Aku berusaha untuk menjauh dari mereka, tapi tiba-tiba baju ku ditarik dan aku jatuh ke lantai. Aku mencari Jerri, tapi dia di sisi lain meja.
"Laura! Kemarilah!" Aku berusaha untuk meraihnya. Tapi seseorang menendangku. Aku memutuskan untuk mundur ke kamar mandi. Aku mabuk, pandanganku buram dan tiba-tiba ada seseorang yang meraba-raba kakiku.
Astaga! Ini tidak boleh terjadi!
"Jerri !!!! Jerri !!!!" Aku memanggil namanya dan menangis. Kemudian aku melihat kepalanya dipukul oleh seorang pria dan jatuh ke bilik sambil memegang kepalanya. Perkelahian di bar masih berlangsung dan kerumunan semakin besar. Aku menangis dan akhirnya merangkak ke kamar mandi. Seseorang yang tidak kukenal itu menyusul dan meraih pinggangku. Dia terlihat besar, dan dia terlihat mabuk.
"Hei sayang, buah dada yang indah. Bisakah aku menyentuhnya?" Dia mabuk, sangat mabuk, saat itulah aku mendorongnya ke orang-orang yang sedang berkelahi dan dia mendapat pukulan di wajahnya oleh beberapa pria lain. Aku akhirnya memiliki kekuatan untuk bangkit dan berlari ke kamar mandi, tangan ku gemetar, jantungku berdetak sangat kencang. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku akhirnya mengunci pintu kamar mandi, dan duduk menggigil di tutup kursi toilet. Aku menjatuhkan ponselku beberapa kali di pangkuanku, sebelum akhirnya aku berhasil menelepon James.
"James, ayo cepatlah datang sekarang. Kumohon ..." Aku menangis dan gemetaran, suaraku serak memanggil Jerri.
"Laura, ada apa denganmu? Aku sudah dalam perjalanan, Sayang. Aku akan sampai dalam sepuluh menit."
"Astaga! Tunggu! Jangan buka pintunya sebelum aku tiba disana. Sabar sayang, aku hampir sampai."
Aku memeluk diriku sendiri, dan mengayun-ayunkan tubuhku bolak-balik mencoba menenangkan diri. Tapi aku masih gemetaran, menangis, dan terisak.
Rasanya seperti berjam-jam sampai James akhirnya datang. "Laura sayang, bukalah sayang. Aku di sini." Dia mengetuk pintu, aku dengan cepat membuka pintu itu untuknya. Orang yang mengguncang pintuku sudah pingsan di lantai. Dia terlihat benar-benar mabuk.
"Sialan!" Dia melepas jaketnya dan memberikannya padaku, aku bahkan tidak menyadari bahwa bajuku sudah robek. Aku masih gemetaran, dan akhirnya tenang dalam pelukannya.
"Pulang. Aku ingin pulang, James." Aku menghirup aroma tubuhnya, merasakan kehangatannya. Aku kedinginan, sangat dingin. Aku masih menggigil.
"Ya sayang, kita pulang. Aku melihat Jerri di luar dengan petugas medis, dia masih tak sadarkan diri. Biarkan aku membawamu ke mobilku, lalu kita memanggil Renata, oke?" Aku mengangguk, dan membiarkannya membawaku ke samping ke mobilnya.
Para petugas medis bertanya apa aku ingin diperiksa, tapi aku menggelengkan kepala sambil menangis. "Aku tidak ingin ada yang menyentuhku, James. Pulang, aku ingin pulang." Aku memohon padanya. Dia mencium pelipisku dan memasukkanku ke dalam mobilnya. Dia menyelesaikan semuanya dengan Renata, lalu kami pulang.
Kami akhirnya tiba di rumah James. Dia menyuruhku pindah ke tempatnya beberapa hari yang lalu. Jadi, ini rumah kami bersama.
"Laura, minumlah ini, itu akan menghangatkanmu. Aku akan menyiapkan air mandimu. Aku di sini. Aku akan menjagamu." Dia menurunkan bibirnya ke bibirku dan menciumku perlahan sampai aku santai dalam pelukannya, dan mulai mengerang namanya.
"Ini Laura ku." Dia mencium pelipis ku, dan meninggalkan ku untuk menghabiskan minumanku.
Beberapa menit kemudian, dia menjemputku untuk mandi, aku bersikeras untuk mengajaknya bergabung denganku. Dia akhirnya menelanjangi tubuhnya dan bergabung denganku. Dia mencuci tubuh dan rambutku, tidak meninggalkan jejak apa pun yang terjadi. Lalu dia memelukku sampai air menjadi dingin.
Dia memelukku di tempat tidur kami, mengucapkan semua kata-kata manis di telingaku. Aku tidur nyenyak di lengannya.
Aku terbangun dan menjerit, James dengan cepat memelukku. Wajahku menempel di dadanya, dan aku menghela napas dalam pelukannya.
"Kesayanganku. Aku di sini. Aku sangat menyesal, seharusnya aku ada di sana bersamamu malam ini." Dia mencium keningku, dan terus mengatakan kata-katanya yang penuh kasih sampai aku tertidur lagi.