
"Hahaha tidak pernah kenal?! serius paman? apakau benar-benar sudah melupakanku" tawa Felentino dingin.
"Paman?!" bingung Alex.
"Jangan bilang kau" tunjuk Vero. Dirinya tidak yakin dengan ucapannya tetapi menurut pemikiran yang ada, 78,21% jawabannya benar.
"Benar paman, saya adalah keponakan yang merupakan putra dari Evo Johnson" senyum Felentino. Jawaban yang diberikan Felentino membuat semuanya terkejut dan menatap ke arah Vero. Jawaban yang cukup mengejutkan dari bagian pihak musuh membuat pikiran-pikiran yang mereka kumpulkan menghilang seketika.
"Keponakan artinya..."
"Astaga apa tuan Alexander tidak tau bahwa pamannya memiliki seorang anak laki-laki?" dingin Felentino. Matanya menatap tajam ke arah Alex, menatap rendah Alex dan menyamakan nya dengan tanah yang sedang dia pinjaki saat ini.
"Dad?" tanya Alex.
"Tapi bukannya nama margamu Dicapri?" tanya Komandan I yang ada di sana juga.
"Hahahaha Dicapri? itu hanya marga yang diwariskan oleh ibuku" jelas Felentino.
"Maksud.."
"Sial apa kakek tua itu tidak pernah menjelaskan nya ke kalian berdua?" tanya Felentino.
"Apa maksudmu kakekku?" dingin Alex.
"Ya kakek tua itu, seorang orang tua yang bahkan tidak tau bahwa keputusan nya akan menjadi dampak buruk di satu sisi" dingin Felentino. Dia melepaskan jaket yang sudah dipasang ditubuhnya. Memperlihatkan tangan yang dipenuhi luka sayatan dan tebakan. Membiarkan orang-orang dihadapannya mengetahui sesuatu hal yang hanya diketahui oleh keluarganya dan kakek tua.
"Jangan bilang rumor dulu itu semuanya benar" dingin Vero yang menatap tangan Felentino. Walaupun wajah laki-laki itu tidak memiliki luka sama sekali tetapi tubuh nya memiliki luka yang banyak. Bahkan melebihi ayahnya saat memimpin.
"Sayangnya semua itu benar, karena pilihan kakek tua itu ibu yang sangat ku sayangi malah melukaiku dengan ganas dan ayahku hanya menutup sebelah matanya" ucap Felentino miris. Semua luka yang didapatkannya berasal dari keluarga kandungnya sendiri. Dulu dia seorang berharap akan kebahagiaan tetapi tidak untuk sekarang. Dimana dirinya hanya mengharapkan kehancuran untuk keluarga kandungnya, membayar setiap luka yang didapatkannya. Dari kecil hingga dirinya dewasa.
"Kalau begitu kenapa kau tidak melaporkan ke kediaman utama?" tanya Alex dingin. Menurut nya jika Felentino masih berumur anak-anak seharusnya akan ada pelindunggan yang diberikan oleh kediaman utama untuk anak kecil sepeti itu.
"Huft... paman apa paman benar-benar mengajarkan anak paman ini semua hal tentang keluarga Johnson? semuanya sampai akar-akar nya?" tanya Felentino heran.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa saya ajarkan saat itu karena peraturan" jawab Vero. Perusahaan Johnson karena selalu masuk ke dalam urutan 5 besar. Membuat keluarga Johnson sering menjadi titik kelicikan orang-orang. Sehingga menjadikan keluaga Johnson tumbuh dengan peraturan yang ketat, dari generasi ke generasi .
"Peraturan dan peraturan lagi" hela nafas Felentino. Dia mengangkat pisau belati nya dan membiarkan sinar bulan memantulkan cahaya miliknya ke arah pisau belati miliknya. Sebuah senyuman terukir di pisau belati itu.
"Bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar" senyum Felentino.
"Jika memang peraturan yang dibuat itu menyalah gunakan tindakannya. Tetapi tidak berarti kau harus melanggar peraturan yang berguna untuk orang-orang" jelas Vero membantah penilaian Felentino.
"Sayangnya peraturan yang baik itu malah membuat hidupku berantakan. Dari keluarga kandung yang terus-menerus menyiksa ku dan sepupuku yang dengan mudahnya mengalahkan di pelatihan kemiliteran" ucap Felentino dingin dan menyayat kembali lengan milik Cyla.
"Ahhhhh" ringgis Cyla yang merasakan kulitnya tersayat lagi.
"Cyla! Sial! apa yang kau inginkan sebenarnya Felentino?! Jika kau memang menginginkan saham aku akan memberikan nya tidak perlu menyakiti wanita ku!" tegas Alex. Setiap dia melihat darah yang mengalir di tubuh Cyla, darahnya juga ikut mendidih dan nalurinya menginginkan nyawa laki-laki itu secepatnya mati.
Alex membenci hal ini, membenci hal yang pernah ia dengarkan oleh Leon. Dimana perebutan saham antar keluarga adalah kunci dari kehancuran ini. Dirinya membenci perebutan kekuasaan ini. Orang-orang yang tidak bersalah harus terluka karena kesalahan orang lain. Dan yang lebih tidak diinginkannya Cylanya harus terluka untuk kedua kalinya karena hal yang sama yaitu perebutan hak waris.
"Tidak, kau tidak boleh memberikan nya Alex! hiks hiks" teriak Cyla.
"Heh... ternyata kau masih bisa berbicara keras nona" smirk Felentino dan menyayat daging kaki milik Cyla.
"Arghhhh!" ringgis Cyla kesakitan.
"Sial! Felentino sudah ku peringatkan jangan pernah sentuh wanita ku dan cepat katakan apa yang kau inginkan!" kesal Alex. Salah satu tangannya sudah ditahan oleh ayahnya. Tangan yang memegang pistol itu harus ditahan dan tidak bisa ia keluarkan.
Andai saja tangan kanannya tidak ditahan oleh ayahnya. Waktu ini detik ini nyawa Felentino akan Alex terbangkan dengan sekali tembak saja.
"Kalau begitu kamu harus berjanji untuk menerima apapun yang ku minta dan jika kau berjanji aku mungkin bisa melepaskan perempuan ini" ucap Felentino dan meniup telinga kanan milik Cyla.
"Baiklah aku berjanji" jawab cepat Alex.
"Alex!" teriak Cyla.
'Tenanh Cyla, apapun yang terjadi aku akan membawamu kembali dan dengan cara apapun juga aku akan membunuh laki-laki ini' ucap Alex dalam hati.
'Kau bodoh Lex, dia tidak mungkin melepaskanku semudah itu! seharusnya kau tau bahwa ada satu orang lainnya yang bersembunyi di dekat sini!!! hiks' ucap Cyla dalam hati.
Kedua orang yang memiliki pikiran bertentangan tetapi sama-sama menyangkut nyawa. Nyawa yang merupakan kunci kehidupan, pertempuran yang tadinya hanya membahayakan satu nya saja. Berubah menjadi penawaran yang menggunakan nyawa masing-masing. Hanya tinggal dua cara untuk menyelesaikan nya. Mengorbankan atau menggunakan cara licik di pertarungan terakhir.
Seperti game yang memiliki raja terakhir dalam peperangan. Kali ini entah itu Felentino atau seseorang lainnya yang akan menjadi raja terakhir. Yang pastinya Alex harus memiliki sebuah cara lain untuk menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan Cyla. Walau angin malam sudah menyapu di sekitar mereka dan hembusannya memberikan aroma laut yang menenangkan.
Tetap tidak membuat semua orang yang ada di dalam satu tempat bisa tenang dalam pilihan yang akan menentukan nasib mereka masing-masing.
"Aku ingin kamu mati Alex!" teriak Felentino.
Tangan kanannya dengan cepat melepaskan pisau belati dan mengambil pistol yang tersimpan di balik pakaiannya. Menodongkan ke arah Alex dan menarik pelatuk tersebut. Pistol yang berisi tiga peluru itu langsung mengeluarkan peluru pertamanya.
Menembus angin dan membelah nya dengan kecepatan putaran dari pistol yang diberikan oleh Felentino. Pistol revolver, Colt 1911, pistol yang digunakan sejak perang Filipina melawan AS pada tahun (1899 - 1902). Pistol semi-otomatis dan berjenis kaliber yang termasuk ke dalam pistol mematikan di dunia. Diluncurkan dengan mudahnya oleh Felentino ke arah Alex, menghasilkan suara tembakan keras yang menggema di ruangan itu.
Suara tembakan yang bercampur dengan suara teriakan yang menyakitkan. Diantara banyaknya orang di sana, hanya dialah yang terkena tembakan dari pistol kkbsd bermerek Colt 1911 itu.
Dor***
"Arghhhh!"
ππππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Hufy akhrinya Bab yang penuh dengan otak ini selesai dan juga tinggal beberapa Bab lagi kita bakal ending Guys..... huhuhuhuhu Novelku akhirnya mau tamat lagi, doain author sehat aja yaa^^, Sayonara~