
Detik, menit dan jam sudah mereka lewati untuk mencapai tujuan mereka semua. Sampai dimana jarum panjang sudah mengarah ke jam 8.00 am. Memperlihatkan sebuah sinar matahari yang sangat terang.
"Tuan, dan nona kita sudah sampai ke tujuan mohon berhati-hati saat menuruni pesawat" ucap Frank selaku pilot pesawat.
"Sun, apa kamu bisa berdiri?" tanya Alex.
"Tentu saja aku bisa berdiri cuka kesulitan sedikit saja" jawab Cyla.
Dua jam yang lalu ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Kelelahan karena perbuatan Alex di ruang rapat membuatnya terlelap dan tidak memiliki tenaga untuk bergerak. Hingga di saat jam sudah menunjukkan angka 6.00 am. Kelopak matanya menyapu pelan, melihat sekeliling dan mengetahui bahwa dirinya sudah berada di pesawat.
Sehingga tangan kecilnya melihat ke arah jendela dan minat awan-awan yang bewarna putih lembut. Perasaan kelelahan yang tadi ada berubah menjadi semangat. Dimana semangat itu berasal dari sebuah kasih sayang akan kampung halaman miliknya.
Tempat Cyla tumbuh dan dibesarkan dari kecil hingga besar. Menumbuhkan rasa percaya diri dan kerja keras di setiap langkah kakinya. Kini ia akan kembali dan tunggal menghirup udara segara yang ada.
"Mommy.." panggil Rei yang membuat lamunan Cyla buyar.
"Ah maafkan mommy, apa yang tadi kau katakan?" tanya Cyla sambil terkekeh sedikit.
"Huft, tadi Rei bilang apa mommy baik-baik saja? kalau tidak kita bisa menunggu di bandara atau menginap di hotel saja" jelas Rei mengulangi setiap perkataan miliknya.
"Tentu saja mommy baik-baik saja, memang siapa bilang mommy tidak baik-baik" ucap Cyla.
"Hah, sepertinya kamu melamun terlalu lama dan tidak tau bahwa Alex sudah menjulurkan tangannya lama" Hela nafas Leon membuat Cyla terkekeh kembali.
"Hehehe, maaf-maaf hanya memikirkan beberapa hal dan juga terlalu bersemangat saja" kekeh Cyla.
"Kalau begitu bisakah tanganku sekarang digenggam? aku sudah menunggu lama loh, sun" ucap Alex yang menatap ke arah tangannya yang masih tidak dipegang oleh Cyla dari tadi.
"Baik" senyum Cyla yang semangat.
Cyla menggenggam tangan Alex erat, turun dari pesawat dengan semangat yang tinggi. Tanpa tau bahwa orang yang ada dibelakang nya merasakan kebingungan.
"Ada apa dengan mommy?" bingung Rei yang melihat ibunya penuh dengan semangat yang tinggi. Bahkan mengeluarkan senyum malaikat nya terus menerus.
"Mungkin ibumu tidak sabar melihat kampung halaman dan juga keluarga kandungnya" jelas Leon yang membuat Rei menganggukan kepalanya.
"Anu, kapan uncle akan melepaskan genggaman tangan ibu?" tanya Rei yang tidak nyaman tangannya selalu digenggam erat oleh pamannya.
"Jika bukan karena aku kalah di permainan kartu tadi sudah ku pastikan tangan ini akan ku lepaskan" jelas Leon yang tidak bisa melepaskan tangan miliknya dengan tangan Rei. Mereka bertiga tadi malam bermain kartu poker yang berakhir dengan kekalahan milik Leon.
Sehingga hukuman yang diberikan adalah dia harus menggenggam tangan Rei dan tidak mengganggu hubungan suami istri yang masih hangat-hangat nya. Padahal Leon sudah memiliki semangat dan niat untuk membuat Alex menjauhi adiknya sementara. Tetapi berakhir dengan dirinya yang menjauh.
'Hah, kenapa aku bisa memiliki keluarga tambahan yang seperti ini? Yang satu seperti malaikat dan keduanya merupakan iblis berwujud manusia' pikir Leon lelah dan terus berjalan keluar dari bandara.
Perjalanan berjam-jam yang ditempuh mereka semua berakhir di sebuah vila pegunungan. Villa berukuran besar dengan pemandangan alam yang kaya akan keasriannya.
"Selamat datang, tuan muda" sambut kepala pelayan menyambut Leon.
"Aku kembali, dimana orang tuaku" tanya Leon to the point.
"Tuan besar sedang memberi makan burung jalak Bali kesayangannya dan untuk nyonya besar dia sedang di check oleh para dokter" jelas kepala pelayan.
"Kalau begitu minta para pelayan untuk menyiapkan 1 kamar karena beberapa hari kedepan akan ada tamu penting yang tinggal" perintah Leon.
"Apa tamu yang tuan muda maksud mereka?" tanya kepala pelayan sopan.
"Ya mereka dan juga bilang kepada ayahku bahwa aku kembali dengan membawa hadiah besar untuknya" ucap Leon.
"Burung Jalak Bali?" ucap Rei pelan.
"Apa kamu tertarik dengan burung?" tanya Leon yang mendengar gumaman anak kecil di sampingnya.
"Tidak tertarik, hanya saja baru pertama kali mendengar nama jenis seperti itu" jawab Rei.
"Tentu saja kau tidak tau, karena burung jalak Bali itu merupakan burung yang berasal dari negara Indonesia dan merupakan spesies hewan khas Bali" jelas Leon.
Ayahnya sangat menyukai hewan berkicau seperti burung dan seiring memiliki banyak burung berkicau. Membuat villa yang mereka diami seperti sebuah hutan rimbun yang dipenuhi oleh banyak spesies burung.
"Ehhh, aku baru tau" ucap Rei. Ia merasakan sebuah usapan kepala yang lembut dan saat dirinya menoleh. Rei dengan cepat melihat sebuah senyuman lembut sang ibu.
"Nanti kapan-kapan mommy akan mengajarkan lebih banyak budaya tentang negara asal mommy, okay" senyum Cyla.
"Benarkah? kalau begitu berjanjilah" semangat Rei dan mengeluarkan hari kelingking miliknya.
"Janji" ucap Cyla yang menjulurkan jari Kelingking miliknya juga. Mereka berdua tersenyum lembut dengan jari yang saling mengait. Sampai sebuah suara seorang laki-laki paruh baya menyapa mereka semua.
"Hadiah besar apa yang kau bawakan untukku, hmmm" sapa seorang laki-laki paruh baya. Kulitnya yang putih dengan rambut pirang kecoklatan, memberi tau bahwa orang tua yang menyapa mereka saat ini merupakan ayah dari Leonardo Dicapri.
"Tentu saja hadiah besar yang mungkin membuatmu jantungan" jelas Leon.
"Jantungan? sepertinya kau ingin mengutukku secepatnya"
"Aku hanya mengutuk ayahku saja" ucap Leon dingin.
"Benarkah? kalau begitu sebelum aku jantungan bisa beri tau ayahmu ini siapa perempuan manis yang ada di dekatmu itu?" tanya lelaki paruh baya yang tidak bisa menghentikan tatapannya ke arah perempuan yang ada di dekat anaknya.
"Dia tentu saja calon istri..."
Plak***
"Awch, apa kau tidak bisa bercanda sedikit Lex?" ringis Leon yang merasakan sakit di punggungnya. Belum juga Leon menjawab pertanyaan dari sang ayah tetapi sebuah telapak tangan berukuran besar sudah memukul punggungnya dengan keras.
"Sudah ku katakan jangan bermain-main denganku" dingin Alex yang tidak suka Cyla memiliki hubungan lebih selain dirinya.
"Kau...."
"Hahaha, sepertinya anak laki-lakiku sudah membawa hadiah besar yang menyenangkan" tawa lelaki tua tersebut melihat anaknya kesakitan.
"Tertawa lah terus di atas penderitaan anakmu, ayah" sindir Leon yang melijat ayahnya tertawa dengan senangnya di saat tubuhnya sedang kesakitan.
"Bagaimana lagi kau juga mencoba mengutukku bukan" smirk Lelaki tua tersebut dan tersenyum lembut ke arah Cyla. Matanya yang hangat dan tenang memberikan perasaan yang nyaman untuk orang-orang disekitar mereka. Dengan satu hembusan nafas, lelaki tuan tersebut memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama saya Lionard Dicapri, ayah Leon sekaligus pemilik villa ini, salam kenal semuanya" ucap Lion dan mengeluarkan senyuman yang anggun.
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya
My Ex Secretary
β’Mau bilang aja bahwa beberapa hari kedepan bakal update agak siangan karena saya sedang menghadapi ujian! jadi jangan marah dan buat kalimat yang agak lebay maaf.
Karena bagaimanapun juga saya tidak bisa mengubahnya secara langsung tetapi untuk novel berikut nya insyaallah saya usahakan. Sekian terima kasih, Sayonara~
β’Ngomong-ngomong buat yang bisa bahasa Bali, silahkan tulis di komentar yaaa.. supaya dimasukkan nanti contohnya kata terimakasih, salam, atau yang lainnya^^