
Minggu telah berlalu . Aku pergi ke dokter psikiaterku dan menceritakan kekhawatiranku. Kehidupan kampusku terasa hambar. Aku kadang-kadang melihat Richard bersama Ashley, tapi kemudian dia menyeretnya pergi saat melihatku. Mungkin ibunya mengetahui kami pernah bertegur sapa. Aku hanya mengangkat bahu.
Aku belum pernah bertemu James sejak perjalanan terakhir kami. Dia sibuk dengan pekerjaannya, tapi komunikasi kami tetap lancar.
"Laura sayang, aku tidak bisa menunggu besok. Apa rencanamu hari ini? Kenapa kau tidak menginap di rumahku saja malam ini?"
"Yah, aku sedang di spa. Aku mau membuat badanku segar dan bersiap untuk dibajak olehmu besok hahaha. Nih, aku baru saja akan berbaring dan dipijat. Mereka melakukannya dengan begitu sensual. " Aku menyuarakan diriku dengan menggoda, untuk menggodanya.
"Sayang, ceritakan lebih banyak."
"Pasti kau sedang membelai dirimu lagi, kan, James?" Aku terkikik.
"Ya, tentu saja. Kirimkan aku foto telanjangmu."
"James! Ini masih jam kerja. Kupikir kau sudah berangkat ke kantor."
"Ya. Aku akan rapat satu jam lagi. Tapi tidak salah jika menelponmu dulu. Tunggu."
Aku memfoto tubuh telanjangku, mulai dari leher ke bawah seperti biasa dan mengirimkannya ke James.
"Jadi, apa yang mau kau lakukan dengan spa mu itu?" Napasnya lebih berat, lebih seksi.
"James! Pasti Kau pergi ke kamar mandi, kan?" Aku bertanya terkikik, menuduhnya, mempermainkannya seperti yang dia inginkan.
"Hmm ... ya, ya aku..."
"Sayang sudah dulu yah, pegawainya sudah ada di sini." Aku tiba-tiba mengakhiri panggilan, aku tahu dia akan marah. Aku terkikik dan langsung menuju ke meja pijat.
Pijat itu santai, semua ketegangan akan hilang, pegawai terapis itu tidak sengaja mendengar pembicaraanku saat aku menutup telepon James. Dan dia menggodaku untuk melakukan perawatan lilin di seluruh tubuh.
"Kau tahu, aku berani melakukannya dan kau bisa melakukan itu untukku, sebelum aku berubah pikiran."
Di Resort..
"Ya Tuhan! Aku tidak percaya akhirnya aku bisa melayanimu sendiri sayang." Dia memelukku, dan memutarku sambil mencium leherku.
Kami akhirnya tiba di resort. Setelah penerbangan empat jam. Dia tampak murung, setelah perjalanan, karena dia harus mengubah penerbangannya menjadi komersial. Rupanya asistennya meminjam jetnya, untuk salah satu klien pentingnya untuk menutup kesepakatan.
"Sayang, kau harus keluar dari duniamu dan menikmati kehidupan orang normal. Itu bisa membuatmu merasakan menjadi orang biasa. Aku tahu kau bekerja keras, tapi kadang-kadang kau perlu santai dan menikmati hidup James. Aku tahu, biasanya kehidupan yang kau jalani serba cepat tapi James aku butuh liburan lebih banyak dari ini. Tidak ada salahnya kita mencoba tidak menggunakan jet, tidak menggunakan mobil dengan kecepatan cepat, tidak ada pekerjaan, yah hanya kita. Pikirkan itu. "
Aku mengedip padanya, dan berjalan ke kamar tidur kami. Sangat indah, luas, dan memiliki kamar mandi besar dengan shower dan jacuzzi.
"Jadi, jam berapa konferensimu?" Aku mulai menelanjangi diriku, di depan pintu kamar berjalan ke arahnya. Dia hampir tersedak minumannya. Membuatku tersenyum dan melangkah ke arahnya, hanya mengenakan pakaian dalam renda.
"Erm ... dalam dua jam lagi, tapi aku bisa melewatkan pembukaan konferensi itu. Laura, mendekatlah, sayang." Dia minum dari bar dan meletakkan gelasnya.
"Kita harus melakukan ini dengan lamban, James."
"Kau mau membunuhku di sini, sayang." Dia mendengus, menghirup leherku. Menarikku lebih dekat dengannya, menunjukkan kekerasannya padaku.
"Sshh ... sayang, biarkan aku melakukan ini dulu, lalu aku membiarkanmu bercinta sekeras yang kau mau, secepat yang kau mau, selama kam
u mau." Aku menggeser tanganku ke bawah di antara kedua kakinya dan membelai perlahan, sambil menciumnya. Dia memegang pinggangku lebih erat saat dia mencoba mengendalikan diri.
"Laura!"
"Apa kau tahu apa yang sudah kulakukan kemarin di spa?" Tubuhnya tegang, menunggu kata-kataku.
"Rasakan aku James, selipkan tanganmu ke milikku yang sudah basah." Aku mengecam kata-kataku di telinganya, menjilatnya saat dia mengepalkan rahangnya dan mendengus.
"Oke sayang." Dia mendorong jarinya perlahan, membuatku mengerang namanya.
"Rasakan aku sayang, tarik jarimu dan rasakan aku." Aku memandangnya, dia melakukan hal itu. Aku mulai menelanjangi dia, mendorongnya ke sofa.
"Cium aku, James, cium aku." Aku mengangkang dia saat dia mencium dan mulai menyentuhku, aku mengerang dan bernapas keras dan berat. Aku merasakan ereksinya di antara kami. Aku melepas bra dan membiarkannya mengisap dan menjilat buah dadaku saat aku menggilingnya perlahan. Tangannya mencengkeram pinggangku lebih erat, menunjukkan padaku betapa dia memegang desakannya ke arahku, itu pasti akan meninggalkan bekasnya tapi aku menyukainya. Menyukai bagaimana dia mencoba menahan diri dariku.
"Katakan padaku James, apa yang ingin kau lakukan untukku, untuk tubuhku." Aku menggigit telinganya dengan berbisik kepadanya.
"Aku, ingin menidurimu dengan lidahku Laura, aku ingin merasakanmu mencapai puncak di mulutku dan menahannya di sana, lalu membuatmu melambung lebih tinggi." Aku menciumnya dengan sensual. Lalu aku berdiri dan merapikan celana dalam berenda, memberinya semua ketelanjangan dan mengedipkan mata padanya.
"Kamar tidur?"
"Sayang sekali, sayang, aku hanya ingin menikmatimu di sini, sekarang." Dia meraih pinggulku dan menarikku ke mulut dengan kasar. Aku benar-benar berada tenggelam dalam wajahnya, ketika dia meletakkan punggungnya ke sofa.
Ya Tuhan! Pria ini!
Aku menjerit dan aku bisa merasakan wajahku memerah. Dia tertawa kecil.
"Wajahmu tidak dalam posisi memerah sekarang Laura, kau yang meminta ini, dan aku memberikannya padamu." Dia menatapku, lalu kembali berpesta pora denganku.
"Oh, sial, James!" Aku memantapkan diriku di sofa. Lalu aku tidak tahan lagi karena aku memegang pundaknya, dan tangan lain menjaga kepalanya lebih dekat denganku, jika itu lebih mungkin.
Aku mencapai puncaknya dengan keras, dia membuatku stabil dan berada atasnya. "James sayang itu ..."
"Ssst ... satu kali lagi sayang."
Kami akhirnya selesai berjam-jam kemudian. Pantatku memerah. Wajahku merah tua. Dia puas dengan dirinya sendiri, dia bangun dari tempat tidur dan bersiap untuk konferensinya.
"Aku akan kembali dalam beberapa jam, Laura. Aku akan mengirimimu pesan nanti, kita akan makan siang di salah satu restoran. Istirahatlah sekarang, Sayang."