
"Dia berkata bahwa dia akan mencintaiku apapun yang terjadi dan setelah itu dia memelukku sangat erat " bisik Cyla.
"Apa!" teriak Didi kaget.
"Ishh... jangan teriak dong" kesal Cyla. Wajahnya merona karena malu, mengingat semua hal yang dilakukan Alex saat tengah malam itu.
Mengungkapkan kalimat yang paling romantis dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran. Jelas membuat hari milik Cyla berdebar-debar. Apalagi setelah mengatakan minat tersebut Alex mencium keningnya dan tidur di sampingnya.
Jika orang-orang merasakan tidak nyaman karena ranjang yang digunakan di rumah sakit untuk tidur semakin sempit. Tetapi tidak dengan Cyla yang malah merasakan rasa nyaman dari pelukan hangat Alex. Mereka tengah malam itu benar-benar tidak melakukan apa-apa. Hanya melakukan hubungan fisik melalui tangan saja karena luka Cyla yang masih belum membaik. Membuat Alex lagi dan lagi menahan nafsu saat tidur di samping Cyla.
'Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu, Cyla'
Satu kalimat yang bahkan masih diingat sampai sekarang oleh Cyla. Kalimat yang diberikan Alex kepadanya, membuat jantungnya tidak berhenti berdetak. Bahkan saat dirinya tidur di samping Alex.
"Cyla.. kau dengar ucapanku tidak?" teriak Didi yang membuat Cyla terbangun dari khayalan miliknya
"Ah... maaf-maaf apa tadi yang kamu ucapkan?" senyum Cyla.
"Hah dasar, perempuan yang sedang di mabuk cinta" pasrah Didi.
"Hahaha maaf-maaf" kekeh Cyla.
Tawa itulah akhir yang Cyla ingat beberapa hari yang lalu. Kejadian memalukan dan kejadian yang mendebarkan hatinya. Semua perasaan yang tidak pernah dia pikirkan, malah terjadi dalam seketika. Dari pertemuan anak kecil bernama Rei dan pertemuan dengan ayahnya. Semua hal yang membuat hidupnya penuh dengan warna-warni dan kejadian-kejadian yang kadang-kadang mencengangkan.
Cyla merasa beruntung hidup di dunia ini, karena dirinya menjadi perempuan yang diperhatikan dan disayangi oleh orang-orang tersebut.
"Mommy!!" teriak Rei yang berada di pintu masuk taman rumah sakit.
"Rei" senyum Cyla yang membuat langkah kaki kecil Rei semakin cepat ke arah ibunya. Beberapa penjaga yang ada didekat Cyla mempersilahkan Rei untuk mendekat dan menjaga kedua orang tersebut di taman yang sedang ditempati Cyla sekarang.
"Mommy, aku membawa kabar baik untukmu" ucap Rei semangat.
"Kabar baik?" bingung Cyla.
"Ya, akhirnya mommy bisa keluar dari rumah sakit hari ini!" jelas Rei semangat. Wajah kebingungan Cyla berubah menjadi semangat dan mengeluarkan senyumannya.
"Benarkah? astaga akhrinya! aku akan keluar dari sini" senang Cyla.
Semenjak kejadian tadi dia memiliki penjaga lebih dari 3 orang. Hanya bisa berjalan ke kantin ataupun taman saja. Menatap pemandangan di luar jendela rumah sakit dan kembali berbaring di bangkar. Semua hal yang dilakukannya sangat membosankan dan dirinya ingin bermain dengan Rei.
Sayangnya di pagi hari sampai siang Rei sedang berada di sekolahnya. Dan membuat Cyla tidak bisa bersama dengan anak lelaki kecil itu.
"Mommy tenang saja kali ini aku akan tidur di sebelah mommy" ucap Rei semangat.
"Baik la...."
"Tidak bisa Rei, mommymu ini akan menemani Daddy tidur" potong Alex yang tidak terima calon istri nya akan tidur dengan anaknya.
"Masih belum sah juga" sindir Rei yang tak ingin kalah dari ayahnya.
"Satu Minggu lagi Rei" tekan Alex.
"Nah selama itu juga aku bisa tidur bersama mommy dan memeluknya erat-erat di bawah selimut milikku yang lembut" ucap Rei dan memeluk Cyla erat.
"Bukannya kamu bukan anak kecil lagi yang harus ditemani tidurnya" dingin Alex.
"Sayangnya di mata mommy aku adalah anak kecil yang menggemaskan" senyum Rei membalas ayahnya. Ayah dan anak yang saling memperebutkan perempuan membuat perempuan tersebut tertawa ringan melihat keakraban kedua orang yang dingin itu.
Apalagi pernikahan Cyla dan Alex memang sebentar lagi akan mendekati. Dimana tinggal 7 hari lagi pernikahan kedua orang tersebut di laksanakan. Di aula paling besar di kota new York dengan tamu-tamu yang merupakan orang-orang ternama. Dan jangan lupakan para wartawan yang sudah menyiapkan kamera mereka untuk menyorot pernikahan paling megah dan termewah tersebut.
"Oh ya Cyla, setelah kembali keesokan harinya kita akan ke persidangan" jelas Alex yang mengambil tempat di sebelah Cyla.
"Persidangan milik Felentino ya" ucap Cyla.
"Ya, sebenarnya aku tidak ingin membuatmu ikut ke dalam persidangan tersebut tetapi kami juga membutuhkan saksi maupun korban yang berada di dalam kejadian beberapa hari yang lalu" dingin Alex saat mengingat orang-orang tua yang sangat keras kepala.
"Aku akan pergi" senyum Cyla.
"Mommy jika tidak ingin jangan dipaksakan, Rei sedih melihatnya" khawatir Rei.
"Maaf Cyla, aku memaksamu karena hukuman yang diberikan oleh jaksa akan lebih berat jika ada kesaksian dari dirimu" maaf Alex. Ini bukan permintaannya mengajak Cyla ke hukum tetapi permintaan dari ayahnya.
"Sudah-sudah jangan bersedih buktinya aku masih bisa berdiri di sini" ucap Cyla dan menggenggam tangan kedua laki-laki yang ada di dekatnya.
"Oh ya ngomong-ngomong, bagaimana kabar Erika?" tanya Cyla yang membuat aura kehangatan tadi menjadi dingin dan kelam.
'Ahhh rasanya aku ingin menjadikannya mainanku' dingin Rei
'Sepertinya memang benar aku harusnya membuang abunya di tempat sampah saja' pikir Alex saat mendengar nama wanita j*l*ng itu di sebut dihadapannya.
"Alex, Rei? ada apa?" bingung Cyla dan langsung dijawab dengan senyuman ringan kedua orang tersebut.
"Tidak apa-apa, mommy" ucap Rei yang berbanding terbalik dengan pikirannya.
"Kalau tidak apa-apa, jawablah ada apa dengan Erika?" tanya Cyla sekali lagi yang menjadikan kedua orang itu ingin muntah mendengar nama Erika.
"Daddy, jawablah aku sepertinya ingin memakan permen terlebih dahulu" ucap Rei yang mengorbankan ayahnya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan ibunya.
"Begini..."
"Ya bagaimana?"
'Sial! aku harus menggunakan kalimat apa untuk menjelaskan Cyla' pikir Alex karena yang Cyla tau pasti Erika masih hidup. Apalagi saat Cyla di dorong ke dalam air dia masih melihat Erika dengan kondisi yang baik-baik saja.
"Jelaskan, Lex? apa dia masih hidup atau..."
"Ya dia sudah mati" jawab cepat Alex.
"Ehhh.... kenapa? lalu dimana dimakamkannya?" tanya Cyla. Dia hanya bisa mengingat kejadian sebelum tenggelam itu saja dan tidak mengetahui keberadaan orang-orang. Jelas membuat dirinya ingin tau apa yang terjadi setelah itu.
'Hah... bagaimana aku bisa menjelaskan kepada Cyla bahwa aku bukan memakamkan melainkan membakar dan membuang abunya ke laut' pikir Alex yang tidak ingin membuat Cyla mengetahui kebenaran yang terjadi.
"itu..."
"Awchhhh mommy sepertinya ada semut merah di bawah!" teriak Rei kesakitan.
"Astaga dimana? dimana?" ucap Cyla dan berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak tau, tapi aku ingin pergi dari sini lebih cepat mommy aku takut" ucap Rei yang membuat Cyla berjalan keluar dari taman.
"Baiklah ayo kita pulang" ucap Cyla.
"Baik" senyum Rei dan pergi bersama ibunya menuju luar rumah sakit.
Rei Pov~
Untuk kali ini saja aku akan membantumu, Daddy.
Alex Pov~
Sepertinya perusahaan yang berada di London cukup untuk dijadikan hadiah atas bantuannya.
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Hukumam apa yang akan kalian berikan di persidangan besok?
a. Penjara selama (......) isi sendiri
b. Hukuman mati.
c. Penjara beberapa tahun baru hukuman mati.
Silahkan dijawab yaa, hehehe dan juga buat Rei dan Alex kalian emang ayah dan anak yang baik. Jangan lupa kalau gak suka silahkan mundur alon-alon. Sayonara~