
"Hai, aku harap kau tidak keberatan jika aku memesankan makanan untukmu." Dia memamerkan kulit putihnya yang seperti mutiara.
"Jadi Adriana, aku Laura. Kurasa kita belum pernah bertemu sebelumnya. Sekarang, aku bingung, proposal bisnis macam apa yang ingin kau ajukan padaku?" Aku duduk di depannya meminum minumanku. Masih berusaha mencari tahu bagaimana dia mengenalku. Apa dia salah satu teman orang tuaku?
"Ya Laura, tidak, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku anggota dari sebuah klub. Aku pernah mendengar soal situasimu. Jadi, tolong jangan pergi, cukup mendengarkan dan memikirkannya. Kau tidak harus menjawab atau bahkan menerimanya."
Aku sadar, ini terdengar semakin jenuh. Aku tidak begitu suka ke arah mana pembicaraan ini. Lalu dia memberikanku kartu namanya. Tidak ada nama perusahaan, hanya ada namanya Adriana dan nomor ponselnya. Bahkan tidak ada nama belakangnya. Aku minum lebih banyak lagi minumanku, dan berusaha tetap diam.
"Bagus. Terima kasih Laura. Pertama-tama, Kami menawarkanmu kontrak yang sangat eksklusif. Perusahaan kami menangani seorang klien yang memiliki nama besar di negara ini." Dia memegang tanganku dan menatap mataku. Aku masih bingung, apa yang dia tawarkan. Aku rasa, aku tahu, tapi aku juga tidak bisa mempercayainya begitu saja.
"Kami tahu tentang situasimu. Kami bisa membantumu. Karena kami juga bisa mengambil untung darimu. Ini adalah keuntungan diatas keuntungan. Kami sudah mempelajari latar belakangmu. Seperti yang aku katakan, kami memiliki klien besar. Kami tidak membiarkan orang secara sembarangan masuk dan ini tawaran yang sangat eksklusif. Kami menawarimu menjadi pendamping kami yang dibayar dengan harga tinggi. Aku berasumsi, kau tahu soal Sugar daddy, kan? Aku mau merekrut mu untuk menjadi Sugar baby kami." dia menjelaskan dan aku tersedak dengan mendengar semua itu.
"Apa-apaan ini? Bagaimana kau? Kenapa? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Sialan! Apa ini lelucon? Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" Aku berseru pertanyaan demi pertanyaan. Tapi dia dengan tenang menggosok bagian atas tanganku dan tersenyum dengan tulus.
"Laura, aku tahu itu. Tapi aku ingin kau memikirkannya lagi. Gaya hidup seperti ini begitu banyak diinginkan wanita lainnya. Tapi ini adalah proposal yang sangat eksklusif. Aku jamin, tidak akan ada yang tahu. Kami sangat bijaksana, terhadap klien kami. Itulah sebabnya kami hanya merekrut beberapa wanita dalam setahun." Dia berhenti meminum minumannya.
"Kau hanya perlu menemani klien kami untuk apapun itu, selama beberapa hari, berminggu-minggu denganmu, terserah padamu. Tapi aku akan menunggu jawabanmu. Kuharap kau mau bergabung dengan kami. Pada saat tertentu kau bisa dengan mudah mendapatkan kucingmu kembali. Uang itu sangat menarik. Aku tidak perlu membicarakan hal itu. Aku hanya membutuhkan komitmenmu terlebih dahulu. Aku harap pikiranmu terbuka untuk mengambil gaya hidup ini. Ambil kartuku dan hubungi aku saat kau sudah memiliki jawabannya."
Kami mengobrol lagi, dan menghabiskan makan siang kami. Kemudian dia meninggalkanku di kedai itu, aku masih terpana dengan proposal itu. Pikiranku sedang overdrive sekarang.
Aku memutuskan berbelanja untuk menjernihkan pikiranku. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.
Ya Tuhan! Begitu miskinnya aku sekarang.
Sialan wanita itu! Kau bisa melakukan ini, Kau beruntung bisa membeli ini itu.
Aku kembali ke apartemenku. Dengan beberapa belanjaan di kedua tanganku, Aryo memperhatikanku, karena aku hanya membeli bahan makanan bukan makanan jadi, dan aku tidak pernah lagi memesan makanan jadi lagi.
"Hei Aryo, jangan khawatir aku mengerti." Tapi pada saat yang sama seseorang menabrakku dan membuat semua bahan makananku terjatuh, dan dia meneriakiku saat telur-telur itu jatuh dan pecah di atas setelan baju bermerek miliknya.
"Sialan! Aku baru saja membelinya. Sekarang aku harus kembali dan mengganti bajuku. Tapi aku kehabisan waktu, aku tidak bisa datang terlambat."
Aryo datang di sisiku secara instan. Telurku jatuh tepat di sepatunya dan bukan cuma itu, telur itu juga jatuh pada sepatu putih favoritku, dan aku tahu aku tidak mampu membersihkannya dengan benar, apalagi untuk menggantinya dengan yang baru. Mataku langsung berair saat aku menyekanya dengan kasar.
"Ayo nona Baskara. Aku akan membantumu dan mengantarmu pulang ke apartemenmu ." Aku melotot ke arah Aryo.
"Maaf, maksudku Laura, lihat biarkan aku membantumu. Kau baik-baik saja kan? Kau terlihat seperti sangat kesulitan. Hanya saja kali ini terlihat baik-baik saja, Nona. ... maksudku Laura?" Dia tersenyum dan mulai mengambil barang-barangku.
"Lihat ehmm ... Aku minta maaf karena aku membentakmu. Jangan menangis, kau baik-baik saja? Awasi saja langkahmu ke mana kau pergi lain kali oke?" Pria itu membersihkan sepatunya dengan saputangan. Lalu dia tersenyum padaku. Sejenak dia tampak benar-benar menyesal. Kemudian teleponnya berdengung, dan mengangkatnya.
Aku melamun tapi tiba-tiba Aryo mematahkan lamunanku , dengan memanggilku keluar dari lift untuk berjalan dengannya.
Kemudian aku kembali ke permasalahan ku dalam waktu singkat, membuat kepalaku terlalu banyak bekerja keras dan akhirnya aku berterima kasih pada Aryo karena sudah membantuku membeli bahan makanan yang baru dan meletakkannya di meja dapur.
Aku dengan cepat mencoba membersihkan sepatuku dan menyimpannya sebaik mungkin.
Setelah mandi, aku memutuskan untuk mulai memfoto gambar tas dan sepatu mahal yang akan aku jual di internet. Aku memulai dengan yang mahal dan yang paling jarang ku gunakan.
Ya Tuhan! Ini akan berlangsung selamanya.
Setidaknya ini akhir pekan depan dan aku hanya punya beberapa hari untuk memotret dan memposting sebelum aku masuk ke kampus hari Senin.
Aku bekerja keras pada akhir pekan itu, kemudian aku banyak memposting dan menjual beberapa barang dengan cepat. Aku mendapatkan uang dari hasil menjual itu dan menghitungnya untuk biaya kuliahku.
Aku sangat kelelahan.
Aku memutuskan untuk minum, aku masih menyimpan minuman keras di bar mini ku. Syukurlah aku sudah banyak berpesta sebelumnya dan masih menyisakan beberapa botol.
Hmm ... mungkin aku bisa menjual ini.
Aku tertawa terbahak-bahak sekarang, karena aku melihat tanda-tanda dolar melekat pada semua yang aku sentuh sekarang. Aku menjadi gila.
Jadi di sanalah aku, sendirian pada malam Jumat menelan masalahku dan pergi berlayar di Google mencoba menemukan cara terbaik untuk menghasilkan uang.