Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Dia Ini Direktur Kami


Bobi Haris tertegun!


Familier! Wajah ini memberinya rasa sangat familier! Berikutnya, napas Bobi Haris menjadi semakin berat.


Bobi Haris mengeluarkan ponselnya melihat rekor lama obrolan. Cepat, dia pun menemukan foto yang dikirimkan Manajer Umum, Adelio Safari, di grup pimpinan tinggi perusahaan Game Prime Dragon.


Begitu melihat foto itu, Bobi langsung membandingkannya di tempat. Setelah beberapa saat, Bobi Haris mendapatkan kesimpulan.


Sama persis!


Pantas saja! Pantas saja waktu melihat foto ini, dirinya merasa sangat familier! Sebenarnya dirinya tidak akrab dengan Leo, paling juga hanya pernah bertemu dua atau tiga kali waktu kecil. Terakhir bertemu pun sudah 8 tahun yang lalu!


Namun, siapa sangka... kini Leo adalah Direktur yang tersembunyi di balik Perusahaan Game Prime Dragon!


Lalu, apa yang telah ayahnya katakan? Memintanya atur pekerjaan untuknya?


Atur pekerjaan untuk Direktur? Lelucon konyol apa ini!


Pada saat itu juga, Bobi Haris tersenyum pahit, lalu berkata.


“Ini... takutnya aku tidak bisa...”


Mendengar kata-kata ini, Haris Fari terkejut. Lalu, dia mengerutkan keningnya dan berkata.


“Bukankah kau bilang kau sudah menjadi wakil manajer di perusahaan? Hal kecil begini pun tidak bisa urus? Suruh kau atur orang saja susah?”


Haris Fari segera memarahinya dan semakin merasa dipermalukan. Tadi dia sudah memamerkan anaknya sudah menjadi wakil manajer dan betapa berkuasa di perusahaan. Dia bahkan langsung berjanji akan mengaturkan pekerjaan untuk Leo! seketika, dalam hati Haris Fari merasa sangat marah!


Sedangkan Bobi Haris pun berkata sambil tersenyum pahit.


“Ayah, kalau orang lain, mungkin aku masih bisa bantu atur berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampuan yang dimiliki. Namun, kalau suruh aku atur Direktur Leo masuk perusahaan, Anda pasti bercanda, ‘kan! Bagaimana mungkin Direktur memerlukan bantuanku untuk masuk perusahaan...”


Begitu selesai berbicara, Haris Fari langsung terkejut dan bertanya tanpa sadar.


“Apa kau bilang? Direktur? Ada maksud ini!”


“Ini adalah Direktur Perusahaan Prime Dragon kami, Direktur...”


Sambil berkata, Bobi Haris pun berkata kepada Leo.


“Halo, Pak Leo. Saya wakil manajer Perusahaan Game Prime Dragon.”


Begitu selesai berbicara, Haris Fari yang di situ tertegun. Anggur yang di tangan pun diletakkan ke atas meja. Seluruh tampak lamban dan tercengang!dia merasa wajahnya sangat panas!


Lelucon apa ini! Dialah bos anaknya sendiri! Bos dari perusahaan besar! Dirinya masih berani pamer di depan orang?


Wajahnya seolah-olah sudah ditampar puluhan kali oleh tamparan tak berwujud! Selain itu, dia pula yang merentangkan wajahnya untuk ditampar orang!


Sedangkan ayah Leo yang di depan Haris, wajahnya hanya tersenyum tipis. Namun, dalam hatinya sudah bergejolak seperti ombak besar.


Anaknya, sejak kapan menjadi bos perusahaan besar?


Dia sendiri bahkan tidak tahu semua ini? Ayah Leo merasa sangat heran.


Haris Fari yang di depan tersenyum canggung, meminum anggur yang di gelasnya dan berkata: “Haha! Mayor, aku tidak mengganggu kalian ayah dan anak reuni lagi! Kalau aku masih tidak pulang, istriku akan mengomel! Aku pamit dulu, ya.”


Sambil berkata, Haris Fari buru-buru pulang seolah-olah sedang melarikan diri. Sedangkan ayah Leo, suasana hatinya sangat gembira. Dia bahkan bersenandung.


Pada saat hendak pergi, Haris Fari juga bertemu dengan Ibu Leo. Setelah mengobrol dengan segan sebentar, Ibu Leo pun memasuki rumah sambil berkata: “Mayor, yang di bawah itu mobil siapa, ya... lebar sekali...”


Belum selesai berkata, Ibu Leo pun melihat empat kardus yang terletak di situ. Dia langsung mengerutkan keningnya. Saat dia hendak memarahi Mayor, dia malah melihat Leo.


Ibu Leo segera tercengang.


“Ibu, aku sudah pulang.”


Leo berkata sambil tersenyum.


“Nak... kenapa kau pulang tak beritahu Ibu? Ibu tidak menyiapkan sayur apapun. Ibu segera pergi beli...”


Ibu Leo terlihat panik. Seluruh tubuhnya juga gemetar. Dia hendak berbalik dan keluar lagi untuk membeli sayur.


Saat ini, Leo malah tersenyum dan berkata.


“Tidak perlu, Ibu. Makan makanan rumah saja.”


Setelah itu, Leo pun mengeluarkan dua kotak perhiasan dari tasnya.


“Oh, iya, Ibu, aku telah membelikan kado untukmu. Coba lihat dulu Bu, suka tidak?”


Ibu Leo tersenyum, lalu menyeka tangannya dan menerima dua kotak perhiasan itu sambil berkata.


“Kau ini, cuman tahu membuang-buang uang. Kau pulang saja kenapa masih membawa kado.”


Sambil berkata, dia membuka kotak perhiasan itu.


Saat melihat kalung emas yang bertahtakan zamrud dan gelang emas murni yang di sampingnya, Ibu Leo terkejut!