
Leo telah pergi. Lagi pula, selanjutnya hanya akan terus bertengkar tentang kompensasi yang harus dibayar. Hal seperti ini, lebih baik serahkan saja kepada tim profesional.
Namun, dia tidak tahu saat dia pergi, ada seorang selebgram yang memiliki lebih dari 100 ribu penggemar telah merekam semua ini dengan ponselnya.
...
Leo berjalan sepanjang jalan kembali ke rumah. Selama perjalanan, Leo pun menganggap ini sedang berjalan santai. Begitu tiba di rumah, Leo mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian pergi mandi. Setelah itu, Leo memesan banyak barang secara online melalui ponselnya, lalu berbaring dan menganggur di sofa. Namun, pada saat ini juga, ponsel Leo berdering.
Leo mengangkat telepon dan melihatnya, ini adalah nomor telepon ketua kelasnya saat kuliah. Ketua kelas ini adalah wanita, namanya Victoria Brigida. Namun, karena dadanya sedikit rata, sifatnya agak riang, suka main basket, gaya pakaiannya dalam sehari-hari juga lebih tomboi, jadi hubungannya dengan para pria di kelas pun lumayan baik.
“Gila, Leo, kau masuk berita utama!”
“Apa?” Leo tercengang.
Dirinya masuk berita utama lagi?
Eh, dirinya ‘kan bukan artis hiburan yang terkenal, kenapa setiap hari masuk berita utama?
“Cepat cek internet! Sama sekali tak kelihatan, loh. Kau ini sungguh kaya, sepeda saja senilai 5,6 miliar! Kukira waktu itu di dalam grup hanya hoaks!”
Leo mendengarnya dengan bingung, lalu dia membuka ponselnya.
Sepeda senilai 5,6 miliar tertabrak di Purakarta (Tren: 5,68 juta)
Ketika dia mengklik dan membacanya, Leo menemukan itu berita sepedanya ditabrak orang. Seorang celebgram yang mengeksposnya. Selebgram ini juga memiliki dasar penggemar lebih dari 100 ribu. Karena itulah, begitu terekspos, berita ini mulai diperhatikan! Ditambah lagi dengan beberapa promosi, akhirnya video ini benar-benar meledak di seluruh jaringan!
Saat ini, Leo sungguh tidak tahu harus berkata apa.
“Leo, harusnya kini kau adalah yang paling sukses di antara 50-an teman sekelas, ‘kan? Oh, iya! Ada satu hal yang ingin kubicarakan denganmu. Clint minta aku mengundangmu menghadiri seminar di sekolah besok.”
“Menghadiri seminar?”
Leo tertegun sejenak.
Clint ini konselor mereka di kampus. Namanya, Clint Hoseah. Clint ini tidak terlalu tua, jadi hubungan mereka saat di kampus juga termasuk baik.
“Ya, seminar. Kalau dikatakan lebih jelas, ya, mengobrol dengan adik-adik junior.”
Mendengarkan ini, Leo sedikit bingung.
“Bukan, kenapa bisa sampai mengundangku? Bukankah 2 tahun lalu, yang sekolah kita undang selalu bos besar di Purakarta?”
Victoria Brigida yang di ujung telepon pun menjawabnya, “Siapa tahu? Mungkin karena melihat kau sudah kaya, lalu juga salah satu alumni. Jadi, kalau mau undang pun lebih murah?”
Leo: ...
Kata-kata kau ini sangat menyakitkan, tahu!
“Oke, deh. Karena Clint yang undang, nanti aku akan pergi.”
Leo duduk di sana dan berkata dengan ekspresi tak berdaya.
Jujur saja, kalau bukan karena Clint yang mengundang dirinya, dia benar-benar malas mau pergi!
Sangat cepat, setengah jam berlalu, Leo menutup telepon, kemudian lanjut berbaring dan memainkan ponselnya sebentar.
Zella Alfiya ini juga menelepon dirinya.
“Ya?”
Leo mengangkat telepon dan bertanya dengan bingung.
“Halo, Zella, ada apa?”
“Pak Leo, jadi begini. Pak Bagas Mulya dan Arief Mulya dari Perusahaan Real Estat Mulya telah datang mencari Anda. Katanya tujuan kedatangannya adalah meminta maaf pada Anda.”
Mendengarkan kata-kata ini, wajah Leo tiba-tiba menjadi dingin.
“Kalau begitu, kau buka speaker saja. Biarkan mereka katakan yang ingin mereka katakan secara langsung.”
“Baik, Pak Leo.”
Sambil berkata, Zella menyalakan speaker ponselnya. Lalu, suara Leo pun terdengar.
“Bagas Mulya, ya?”
Mendengar suara Leo yang dingin, Bagas Mulya yang berdiri di sana tiba-tiba gemetar. Kemudian, dia segera tersenyum dan menjawab, “Halo, Pak Leo. Sudah lama saya mendengar nama besar Anda. Anakku...”
Sebelum Bagas Mulya selesai berbicara, Leo yang di situ langsung berkata lagi.
“Cukup, aku tidak ada waktu untuk mendengarkan kau basa-basi di sini! Ada urusan apa langsung saja! Kalau tidak ada urusan, aku tutup sekarang!”