
Satu jam kemudian, semua orang telah puas makan dan minum.
Mereka semua memang puas menikmati anggur merah, tapi Dea, hanya puas meminum air putih.
Melihat orang-orang di sekitarnya yang masih bisa tertawa senang, dia tetap tidak bisa tertawa. Air matanya terus berputar di dalam perutnya, intinya dia tidak bisa tertawa!
Lalu, karena Leo telah meminum anggur merah, jadi tugas mengemudi diserahkan kepada Zella Alfiya.
Hotel mereka juga dipesan oleh Zella. Namanya Hotel Peninsula yang terletak di tepi sungai, merupakan hotel termewah di seluruh Purakarta! Zella telah memesan 3 kamar di sini, harga setiap kamar juga telah mencapai 100 juta per malam!
Ketika tiba di Hotel Peninsula, semua orang sangat terkejut! Awalnya mereka mengira, Leo paling bagus pun hanya akan memesan hotel mewah bintang 5 terbaik. Namun, saat benar-benar tiba di hotel, mereka baru sadar ternyata mereka terlalu naif!
Hotel ini terletak di tepi sungai dan menempati area yang luas. Di depannya ada taman hutan yang besar! Terdapat berbagai patung yang elegan dan air mancur di kedua sisi selat!
Mereka harus berjalan sejauh 1 kilometer baru tiba di pintu masuk utama hotel!
“Hmm, hotel ini, kalau kalian mau jalan-jalan keluar, kalian bisa beritahu ke resepsionis. Resepsionis akan mengatur mobil untuk kalian atau kalian dapat meneleponku juga.”
“Ba-baik.” saat ini, semua orang sudah sangat terkejut.
Begitu melihat kamar sendiri, mereka semakin terkejut dan tidak bisa berkata apapun! Kegembiraan di dalam hati membuat mereka semakin tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Sedangkan Dea, saat ini dia juga menggertakkan giginya dan melihat Leo yang di sana dengan mata yang berbinar-binar. Dia sudah mengambil keputusan. Tunggu kembali dari perjalanan ini, dia akan bertanya wanita seperti apa yang Leo sukai! Bagaimanapun, dia harus menjalin hubungan yang baik dengan Leo.
Di bawah pengaturan Zella, orang-orang ini juga telah merasakan apa yang disebut kehidupan orang kaya!
Sedangkan Leo, dalam hatinya juga telah memberi nilai sempurna kepada Zella!
Setelah melihat Jessica dan teman-temannya selesai memilih kamar, Leo pun membawa mobilnya dan pulang dengan puas.
Ketika tiba di rumah, Leo berbaring di sofanya dan mulai memainkan ponselnya. Lagi pula, dia sudah tidak perlu memusingkan masalah uang lagi. Jika tidak memainkan ponselnya, dia benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan.
Malamnya, saat Leo berencana untuk memasak untuk dirinya, dia baru sadar rumahnya tidak memiliki bahan memasak apapun. Jadi, dia berencana pergi untuk membeli sedikit bahan.
Leo turun ke bawah dan berangkat ke mal terdekat dengan mengendarai Pagani Huayra-nya.
Posisi Komplek Taman Indah ini lumayan strategis. Selain dekat dengan mal, juga dekat dengan rumah sakit dan sekolah.
Tidak lama kemudian, Leo tiba di dalam mal.
Setelah mengambil banyak minuman dan makanan ringan, dia baru mengambil daging, sayuran, dan minyak memasak. Perbelanjaan kali ini telah menghabiskan 6 juta. Kemudian, Leo berjalan keluar sambil membawa tas belanja di tangannya.
Namun, pada saat ini juga, Leo mendengar sebuah suara terkejut berbunyi dari belakanganya.
“Eh? Leo Mayor?”
Mendengar kata-kata ini, Leo menoleh dan melihat.
Ternyata Fajar Dhahir, teman sekelasnya di kampus!
Saat di kampus, hubungan Fajar dan Leo juga biasa saja. Tapi, dia orangnya lumayan baik, satu-satunya kekurangannya hanyalah suka membual.
“Fajar?”
“Kebetulan sekali.”
“Ya, eh, banyak sekali belanjaanmu. Rumahmu sedang kedatangan tamu?”
Fajar yang berdiri di tempat mulai mengobrol.
“Bukan, aku baru saja pindah rumah. Kenapa? Kamu juga tinggal di sekitar sini?”
“Ya, aku baru saja membeli satu rumah di Purakarta. Kamu tahu juga, aku menikah tepat setelah lulus kuliah. Kini aku sudah memutuskan untuk tidak menyewa rumah lagi.”
Nada bicara Fajar terdengar sedikit tak berdaya.
“Sepertinya kita akan tinggal lebih dekat di masa depan. Komplek mana yang kamu tinggal?”
“Komplek Sukacita, tidak jauh dari mal ini.”
Fajar melambaikan tangannya dan berkata dengan ekspresi tak berdaya. Dari omongannya, juga bisa terdengar sedikit maksud menyombongkan. Bagaimanapun, dia telah menikah dan membeli rumah dalam waktu tidak lama setelah lulus kuliah. Ini sudah bisa dikategorikan orang sukses di pandangan banyak orang!
“Oh? Kalau begitu, pekerjaan dan kariermu sungguh sangat sukses!”
Pada saat yang sama, mereka pun telah tiba di luar.
“Kebetulan, komplek kita juga sangat dekat. Bagaimana kalau aku sekalian antar kamu?”
Fajar yang berdiri di sana sedikit terkejut.
“Kamu sudah membeli mobil?”
“Ya.”
Leo tidak menyangkalnya.
“Bagus juga, jadi aku tidak perlu naik taksi.”
Lalu, Fajar Dhahir melirik ke tempat parkir. Kini tidak ada banyak mobil di tempat parkir. Lalu, Fajar juga telah memperhatikan BMW senilai 600 juta yang diparkir di sana.
“Karirmu juga sangat sukses, ‘kan? Kamu bahkan sudah membawa mobil BMW!”
Pagani Huayra di seberangnya telah diabaikan Fajar di bawah sadar. Lagi pula, saat kuliah, keluarga Leo itu tidak kaya. Jadi, menurut dia, Pagani Huayra tidak mungkin akan terjangkau oleh Leo yang baru saja lulus kuliah!
Pada saat ini juga, Leo mengeluarkan kuncil mobil dan menekannya.
“Tin tin.”
Dalam sekejap, lampu mobil Pagani Huayra menyala...